Intelektual tentu identik dengan seorang manusia yang mengedepankan nalar. Tentu saja nalar serta rasionalitas pemikiran musti selangkah lebih maju. Bahkan tentu saja segala hal harus dipikirkan, mengedepankan otak ketimbang bokong.

Bagaimana jika ada orang-orang yang intelektualitasnya justru tidak dipakai? Bahkan, dari beberapa fakta ternyata malah membuat hoax dan menebarkan fitnah serta kebencian?




Miris memang, ketika tiba-tiba tersiar berita ada seorang dokter yang sudah berumur harus berurusan dengan polisi karena menghina kepala negara. Heran dan gak habis pikir ketika seorang Jonru, guru apalagi seorang ustadz menghina pribadi seorang kepala negara.

Bagaimanapun Pak Jokowi adalah seorang Kepala Negara secara sah dan konstitusional. Bagaimanapun itu adalah presiden dari bangsa Indonesia. Dalam percaturan internasional, seorang Jokowi disegani dan dihormati. Itu terbukti dengan dibuatnya patung di Museum Madame Tussaud. Bahkan belum lama ini ada media Jepang yang menulis figur Jokowi dari sisi prestasi.

Jika tiba-tiba ada kelompok dari intelektual kampus membuat ulah tidak terpuji dengan spanduk, apakah itu orang-orang intelektual? Apakah mereka adalah manusia-manusia berpikir? Apalagi yang katanya aktifis ternyata sudah pada ompong. Jangan-jangan aktifis jadi-jadian.

Kenapa tidak elegan dan bersikap serta berpikir cerdas? Jelas, memalukan Presiden sendiri adalah memalukan bangsa dan negaranya. Dan, itu adalah Botol. Bodih dan Tolil.

Jika dikatakan Sampah Intelektual Pantas, kan?








Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.