Kolom Boen Safi’i: NGUSTAD TENGKYU RUNGOKNO JERITE ATIKU

1
643

Yang ana hormati ngustad MUI ya akhi ya busi wal sowaki al ngustad fifis untani Tengkyu Zulkarnaen, afwan bila ana sering nyinyirin ngantum ya, Tad. Ana sejatinya gak ada niatan untuk menghina ngantum, karena buat apa ana menghina ngantum, Tad? Kagak usah dihina pun ngantum sudah hina dari dulu. Itu kata kecebong, lho, Tad (Kalau ana kan bukan kecebong lagi, tapi sudah menjadi kodoknya).

Tad, memang seringkali penampilan itu bisa menipu, ya? Berpenampilan seperti Ulama dengan make sorban, bergamis, dan faseh berbahasa Arab eh ternyata jebule yo sopir. Bukankah sopir, copet, garong dan Ulama di Saudi sana penampilanya gak jauh beda, Tad? Bukankah mereka semua juga penggemar fifis unta sama seperti ngantum, Tad?




Ya, mungkin kultur di Indonesia saja yang rakyatnya kebanyakan pake sarung, kaos, batik, blangkon, kopyah, dll. Maka, bila ada yang bersurban dan bergamis langsung dicap Ulama. Padahal yang bersurban itu, belum tentu Ulama. Bisa jadi mbah buyute dulu adalah Si Abu Jahal yang berjenggot, bersurban dan bergamis juga.

Ada juga sih yang pake gamis, tapi rakyat Indonesia bisa ngerti kalau itu bukan ulama. Lho ko bisa, emang siapa dia? Dia adalah ibu-ibu yang mau melahirkan, Tad (ah itu sih daster bukanya gamis?) Lah, daster sama gamis bedanya apa, Tad? Lha wong kalo fifis sama-sama diangkat ko pakaiannya.

Tapi, itu dulu, Tad. Kondisi rakyat yang dibodoh-bodohi anak turun Abu Jahal yang berkostum ulama terjadi pada jaman Si O Kebo. Itu loh, Tad, idola ngente yang dua periode hanya ninggalin Candi Hambalang saja. Sekarang rakyat sudah pada cerdas, bisa mbedain mana Ulama dan mana yang bandit berkedok Ulama. Karena Ulama itu memotivasi bukanya menprovokasi. Iya kan, Tad?




Seperti ngustad yang sering ngetweet dan provokasi umat akhir-akhir ini, Tad. Uhh, ngustad model apa kayak gitu itu yo, Tad? Udah mulute rusak, hatinya pun ikut-ikutan rusak. Masak ngustad hobinya nebar fitnah? Masak ngustad ko gak suka budaya bangsa lebih lebih batik? Masak ngustad nebar isu PKI yang faktanya gak pernah terbukti.

Giliran ditantang untuk hafalan Quran beserta maknanya si ngustad ngeles. Giliran ditanyain ayat yang mana jawabnya amburadul. Itu sih namanya bukan ngustad atau Ulama ya, Tad, walau menjadi anggota MUI. Mungkin dia hanya ngaku ngustad atau Ulama, tapi di MUI hanya sebagai tukang bersihin WC dan bikinin teh para Ulama.

Tad, taukah ngantum siapakah yang ana maksud itu? Hmmm, ana beri cluenya, ya. Orangnya lebih menghormati budaya luar daripada budaya sendiri. Seneng pake gamis tapi malah kayak emak-emak yang mau melahirkan. Udah bangkotan sih benernya tapi sukanya nebar kebohongan. Gak punya kerjaan selain ngetweet untuk nyinyirin dan fitnahin pemerintah.




Siapa dia, Tad? Dia adalah iblis yang bersemayam di dalam relung hatimu, Tad Tengkyu Zulkarnain. Iblis itu sudah mendarah daging beserta kesombongan dan kecongkakannya. Maka, andaipun ente dibacain ayat kursi pun gak akan mempan, Tad. Maka pilihan terakhir adalah, ayatnya ditaruh dan kursinya dilemparkan ke wajah iblismu itu. (Ini tips dari Gus Dur ku, Tad)

Tad, benernya ana kagum banget dengan dirimu, tapi sayang kekuranganmu itu cuma satu, Tad, yakni gak punya kelebihan.. That’s it..

Salam Jemblem.










1 COMMENT

  1. Ulama ‘daster’ (gamis) . . . wow . . . kebarat-baratan atau ke arab-araban atau ke ‘fifis untaan’, semua adalah paket kiriman iblis neolib internasional ke Indonesia dan ke semua negeri lain yang minum ‘fifis unta’.

    MUG

Leave a Reply