Kolom Edi Sembiring: SENI KESEIMBANGAN (Rock Balancing Art)

0
614

Bapak-bapak yang terhormat, apa yang kalian bongkar itu adalah karya seni. Seni keseimbangan. Rock Balancing Art.

“Ini akan menimbulkan kemusyrikan. Padahal yang harus dibenahi itu bagaimana akhlak kita. Kalau akhlak kita sekarang sudah mempercayai adanya kekuatan selain daripada Allah, berarti sudah menyimpang dari ajaran Islam,” ujar Camat Cidahu Ading Ismail.

Akan timbul kemusyrikan bagi yang berkunjung? Tak mungkinlah, pak.

Jutaan orang mengunjungi candi tiap tahunnya dan tak pernah ada ketakutan bahwa di antara para pengunjung akan banyak berpindah agama atau menduakan agama. Menjalani 1 agama saja penuh perjuangan besar, pak.




Yang pastinya, bapak-bapak itu tidak informatif. Kudet, kata Kids Jaman Now. Bapak-bapak itu tidak gaul gitu, loch….. Cari informasi di Google dulu, pak, sebelum memutuskan membongkar.

Akhirnya bapak-bapak dari Muspika Cidahu Kabupaten Sukabumi merobohkan tumpukan batu di Sungai Cibojong, Desa Jayabakti (Kecamatan Cidahu) [Jumat 2/2: Pagi]. Alasannya, tindakan ini dilakukan karena khawatir tumpukan batu membuat masyarakat resah dan mengaitkannya dengan hal berbau mistis.

Mereka lihat batu bertumpuk saja sudah takut imannya akan goyah, hehehe …..

Posted by Ali Suryaning Alam on Friday, February 2, 2018

Sementara Balancing Art Indonesia adalah seni tanpa batasan religi. Seni yang mengajarkan kita sadar jika kita hanyalah bagian dari ciptaan Tuhan yang hidup di antara berbagai elemen alam. Eleman alam yang saling berhubungan satu sama lain. Jika salah satunya terganggu maka yang lainnya akan bermasalah.




Para Balancer yang ada di Indonesia selama ini mengajak semua orang dekat pada alam dan kembali menjaga alamnya. Para Balancer pun mempunyai etika ketika berkarya seni di setiap wilayah. Selain tidak merusak alam, tidak membahayakan dan tidak merusak estetika yang sudah ada.

Batu-batu bersusun tidak mengganggu perjalanan air dan tidak merusak estetika yang ada. Karya seni ini dibuat tidak untuk disembah bahkan tidak dipersembahkan. Yang patut dikagumi, batu-batu tetap tersusun seimbang walau air terus mengalir.

Stone balancing adalah art yang melatih fokus, kontrol emosi, kesabaran, kreativitas, kepekaan, meditasi, pernafasan, relaksasi, dan bahkan prestasi. Mereka menyusun batu-batu ini untuk melatih kesabaran penuh. Jadi, peristiwa ini juga sebuah ujian kesabaran. Mana tahu, ini lah cara memperkenalkan Rock Balance Indonesia. Sehingga esok akan muncul para stone balancer baru dari banyak daerah di Indonesia.

Selain berguna bagi dirinya sendiri melatih kesabaran, juga berguna bagi orang lain. Karena para balancer turut menjaga kebersihan air dan ekosistem di dalamnya. Selanjutnya kehadiran batu-batu bersusun akan mampu memajukan wisata lokal.

Sebenarnya, ini kegiatan menyalurkan bakat kita di masa kecil dulu. Pasti kita juga pernah lakukan dulu.

Entah dengan bapak Muspika Cidahu.




Posted by Ali Suryaning Alam on Friday, February 2, 2018










Leave a Reply