Sebagai mahasiswa memang seharusnya dan wajib mengawal serta mengawasi penguasa. Sebagai komunitas intelektual, mahasiswa wajib dan mutlak berpikir kritis. namun jika tidak Konstruktiv bagaimana?

Seperti halnya yang dilakukan oleh Ketua Bem UI, saya yang hanya sebagai rakyat kebanyakan dibuat terkejut. Menjadi tanda tanya besar ketika ada tokoh intelektual muda yang mengkritisi presiden secara ngawur. Membabi buta dan tidak mau cek dan balance apa yang sudah dilakukan oleh Pak Jokowi.




Kenapa sekaliber Ketua BEM UI tidak berpikir rasional bahwa apa yang dilakukan oleh Pemerintah sekarang demi masa depan negeri ini? kenapa seorang tokoh mahasiswa tidak mau mikir bahwa Pak Jokowi sudah kerja mati-matian tanpa kenal lelah demi mengejar ketertinggalan?

Kenapa begitu punya pikiran goblok dengan kebijakan yang dilakukan oleh Pak Jokowi? Saya dan barangkali banyak orang saja maklum bahwa ketika subsidi BBM serta subsidi PLN dicabut, itu semua untuk menggenjot pembangunan di seluruh Tanah Air.




Untuk membangun listrik di pelosok-pelosok yang 70 tahun lebih ditelantarkan oleh rezim sebelumnya. Dan, karena kami percaya, kami ikhlas demi pemerataan negeri ini. Demi saudara-saudara kita setanah air.

Sebagai manusia berpikir tentu juga harus mikir jauh ke depan. Bukan mikir sesaat. Namun, jika seorang ketua Bem UI yang sering mengikuti acara Liqo’ yang diselenggarakan oleh Partai Sapi, tentu patut dipertanyakan kwalitas intelektualnya.

Sebagai mahasiswa tentu harusnya lebih cerdas ketimbang tukang becak yang di bawah naungan Juragan Anies. Sebagai mahasiswa tentu harus cek dan balance semua informasi sebelum mulutnya njeplak.




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.