Kolom Eko Kuntadhi: MENTANG-MENTANG MUSLIM

1
1210

Di sungai Cidahu, Sukabumi ada orang kreatif yang iseng. Mereka menyusun batu di sungai bertumpuk dalam keseimbangan. Jumlahnya ada 99 tumpukan. Masyarakat gempar mengira ada keajaiban. Camat dan Lurah resah lalu merusak batu-batu itu. Alasannya, takut masyarakat jadi musyrik!

Saya bergumam, mentang-mentang muslim. Sampai segitunya.




Sebetulnya waktu membaca berita penghancuran susunan batu hasil karya orang iseng itu, saya teringat film The Gods Must Be Crazy. Bapak-bapak yang semangat menendang tumpukan batu di sungai Cidahu, seperti Xi, lelaki bercawat dari Gurun Kalahari. Xi mengira, botol Coca Cola bebas yang jatuh dari langit adalah akibat ulah Tuhan. Maklum, Xi belum punya HP untuk mencari tahu informasi soal botol Coca Cola.

Tapi, Lurah dan Camat di Cidahu pasti punya HP, dong. Dia bisa mencari info soal seni susun batu yang di Ngawi (masih di Indonesia) sedang populer. Tapi sudahlah, bapak-bapak itu berbuat demikian karena untuk melindungi iman rakyatnya. Meski akhirnya jadi lelucon. Masa soal seni menyusun batu, sampai bawa-bawa Tuhan segala,

Mentang-mentang muslim.

Kemarin di medsos beredar kisah seorang ibu di atas bus TransJakarta yang menolak ketika diberi duduk oleh lelaki muda yang baik hati. Mungkin wajah lelaki itu mirip Andy Lau, makanya ibu berjilbab itu menolak karena alasan agama.

“Gak usah, saya muslim,” kata si ibu.

Lho, kalau muslim emang kenapa? Ohh, dia mengira yang memberi kursi dengan baik hati itu adalah seorang Kristen. Dia tidak rela diperlakukan dengan baik oleh orang yang berbeda agama.

Ibu itu geer, dia pikir dia bisa masuk Kristen hanya karena dipersilakan duduk di dalam bus? Artinya, untuk tetap menjadi muslim dia harus rela berdiri di bus yang penuh sesak tersebut. Baginya, tidak ada kebaikan dari orang yang berbeda agama dengannya.

Ah ibu, mentang-mentang muslim.

Ada kisah lain, seorang pengendara ojeg online menolak penumpang ketika dilihat penumpang perempuan yang mengordernya memakai kalung salib. Dia berkata, saya muslim, menolak order dari non muslim. “Batalkan saja.”

Penumpang yang ditolak itu mungkin ngerundel dalam hati, “Mentang-mentang muslim.”

Pada Natal kemarin, ada seorang pedagang kue cokelat di Makasar yang menolak membuat kue untuk pesanan Natal. Alasanya sama. “Saya muslim.”

Mentang-mentang muslim.

Ada lagi seorang pengusaha laundry tidak mau menerima order dari pelanggannya yang Kristen. Alasanya dia tidak mau pakain yang lain tercampur dengan pakaian pelanggan non-muslim itu.

Caelah, segitunya. Mentang-mentang muslim.




Entah siapa yang mengajarkan masyarakat seperti ini, hingga isi kepalanya pada keseleo begini.

Saya sering bertanya dalam hati, apakah semakin tinggi keimanan seseorang akan semakin tinggi juga kebencian dengan orang yang beragama lain? Apakah untuk melindungi sebuah keyakinan harus dilakukan dengan pemeran kebodohan seperti yang dilkukan Muspida Cidahu? Atau harus dilakukan dengan menafikkan bahwa kita hidup dalam masyarakat yang plural.

Jika benar demikian, betapa tidak menariknya hidup beragama.

Iya, di Indonesia memang sebagian besar warganya beragama islam. Jadi sikap mentang-mentang itu bisa disombongkan. Sebagian orang seperti hendak menyingkirkan orang yang bergama lain dalam kehidupan sosialnya.

Bagaimana jika mereka hidup sebagai pengungsi Suriah yang meminta belas kasian dari masyarakat di Eropa? Mau berlagak mentang-mentang muslim? Bagaimana jika mereka suatu saat hidup di negara non-muslim, apakah sikap mentang-mentang itu masih bisa diteruskan?

Entahlah, saya semakin merasakan, ada yang aneh dalam sikap sebagian orang menjalankan agamanya. Semakin beragama, kesannya semakin bengis dan tidak toleran terhadap perbedaan. Semakin piawai cara dia membenci saudaranya yang beragama lain. Mereka menganut agama mentang-mentang. Mentang-mentang muslim.

Saya meyakini Islam bukanlah agama mentang-mentang. Islam adalah agama penyerahan diri total kepada Allah dan penghargaan kepada kemanusiaan. Bahkan Rasul diturunkan untuk rahmat semesta alam.

“Sampeyan juga suka mentang-mentang, mas,” celetuk Bambang Kusnadi. “Mentang-mentang makan bubur gak diaduk, suka lupa bayar…”

Ssssttt, jangan buka rahasia dong, broh…









1 COMMENT

  1. Orang Karo dalam upacara apa saja berkumpul secara tradisinya, yang islam, kristen, hindu, budha atau pemena, tidak pernah mempersoalkan kebersamaan berbagai agama. Diupacara itu semuanya makan bersama, yang islam makan lauk ayam, yang kristen atau pemena makan lauk ‘haram’, dan yang menyiapkan dan menyajikan semua hidangan adalah ‘kaum pekerja Karo’ alias anak beru, kristen atau islam atau agama apa saja. Jadi berlaku kebersamaan menurut tradisi/kultur Karo dalam ‘system hierarki’ Karo yang disebut “anakberu-senina-kalimbubu”.
    Wow . . . ‘mentang-mentang’ . . . adat/kultur Karo he he . .

    Kultur itu memang indah, paling indah dalam kehidupan. Dalam kultur selalu ada toleransi tinggi . . . itulah pula salah satu kebanggaan bagi sipemilik kultur itu. Syaratnya cuma satu: kebebasan kultur itu.

    Toleransi tinggi dan solidaritas tinggi dalam tiap kultur itu sering juga dapat gangguan dari luar (tidak bebas), dimanfaatkan demi tujuan politik tertentu. Politik divide and conquer sudah terkenal sejak munculnya politik dan kekuasaan dalam masyarakat manusia. Kita masih ingat dizaman penjajahan, dan dizaman modern sekarang ini dipakai oleh neolib internasional Greed and Power untuk cari duit, duit . . . power, power.

    Perang kultur atau perang etnis dalam era ethnic-revival dunia abad lalu adalah perang pembebasan kultural, ekonomi dan politik yang ditimpakan dan dipaksakan kepada suku-suku bangsa atau suatu nation dibawah kungkungan salah satu blok dalam perjuangan dua blok abad lalu. Suku-suku atau nation yang berada dibawah kekuasaan politik internasionalisme Soviet berangsur-angsur mau menghilangkan bibit tradisi atau nationnya mengabdi internasionalisme Soviet (sovietisasi).

    Setelah bebas dari dominasi soviet, kemudian suku-suku ini melanjutkan perjuangannya membebaskan diri dari kungkungan kultural, ekonomi dan politik dari suku-suku atau nation dominan didaerah masing-masing. Perjuangan ini berlangsung masih lama setelah jatuhnya kekuasaan Soviet, juga terjadi di Afrika, Asia, termasuk di Indonesia melawan politik sovietisasi (islamisasi/jawanisasi) diktator Soeharto. Politik ini akhirnya mengakibatkan perang suku di Kalbar, Kalteng, Poso, Maluku, yang juga banyak makan korban.

    Ethnic revival atau Cultural Revival dunia itu dan yang juga terjadi banyak korbannya di Indonesia, tetapi juga akhirnya sangat banyak pengaruhnya yang positif. Kebangkitan etnis-etnis itu malah sekarang bikin kebangkitan solidaritas dan saling menghargai dan menghormati semakin tinggi dikalangan berbagai kultur di Indonesia. Cobalah lihat bagaimana perayaan 17 Agustus lalu, pertunjukan berbagai keindahan kultural dari hampir semua kultur nusantara ini! Semua senang, semua bergembira.
    Kultur itu memang indah, membesarkan hati.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.