Kolom M.U. Ginting: MENTANG-MENTANG SUKU KARO

0
852

Orang Karo dalam upacara apa saja berkumpul secara tradisinya; yang Islam, Kristen, Hindu, Budha atau Pemena. Mereka tidak pernah mempersoalkan kebersamaan berbagai agama.

Di upacara itu semuanya makan bersama. Muslim makan lauk ayam, Kristen dan Pemena makan lauk ‘haram’. Yang menyiapkan dan menyajikan semua hidangan adalah ‘kaum pekerja Karo’ alias anak beru. Kristen atau Islam atau agama apa saja. Berlaku kebersamaan menurut tradisi/ kultur Suku Karo dalam ‘system hierarki’ Karo yang disebut “sembuyak-anakberu-kalimbubu-senina” (Redaksi: yang dikenal di Antropologi dengan istilah four fold structure of autochthonous people seperti halnya raja berempat atau macapat di suku-suku lainnya di Asia Tenggara).

Wow . . . ‘mentang-mentang’ . . . adat/ kultur Suku Karo he he . .




Orang Karo dalam upacara apa saja berkumpul secara tradisinya, yang Islam, Kristen, Hindu, Budha atau Pemena. Mereka tidak pernah mempersoalkan kebersamaan berbagai agama. Kultur itu memang indah, paling indah dalam kehidupan. Dalam kultur selalu ada toleransi tinggi . . .  Itulah pula salah satu kebanggaan bagi sipemilik kultur itu. Syaratnya cuma satu: kebebasan kultur itu.

Toleransi tinggi dan solidaritas tinggi dalam tiap kultur itu sering juga dapat gangguan dari luar (tidak bebas), dimanfaatkan demi tujuan politik tertentu. Politik divide and conquer sudah terkenal sejak munculnya politik dan kekuasaan dalam masyarakat manusia. Kita masih ingat di Zaman Penjajahan, dan di Zaman Modern sekarang ini dipakai oleh neolib internasional Greed and Power untuk cari duit, duit . . . power, power.

Foto: PROUD KARONESE

Perang kultur atau perang etnis dalam era ethnic-revival dunia abad lalu adalah perang pembebasan kultural, ekonomi dan politik yang ditimpakan dan dipaksakan kepada suku-suku bangsa atau suatu nation di bawah kungkungan salah satu blok dalam perjuangan dua blok abad lalu. Suku-suku atau nation yang berada di bawah kekuasaan politik internasionalisme Soviet berangsur-angsur mau menghilangkan bibit tradisi atau nationnya mengabdi internasionalisme Soviet (sovietisasi).




Setelah bebas dari dominasi Soviet, kemudian suku-suku ini melanjutkan perjuangannya membebaskan diri dari kungkungan kultural, ekonomi dan politik dari suku-suku atau nation dominan di daerah masing-masing. Perjuangan ini berlangsung masih lama setelah jatuhnya kekuasaan Soviet, juga terjadi di Afrika, Asia, termasuk di Indonesia melawan politik Sovietisasi (Islamisasi/ Jawanisasi) diktator Soeharto. Politik ini akhirnya mengakibatkan perang suku di Kalbar, Kalteng, Poso, Maluku, yang juga banyak makan korban.

Ethnic revival atau Cultural Revival dunia itu dan yang juga terjadi banyak  korbannya di Indonesia, tetapi juga akhirnya sangat banyak pengaruhnya yang positif. Kebangkitan etnis-etnis itu malah sekarang bikin kebangkitan  solidaritas serta saling menghargai dan menghormati semakin tinggi di kalangan berbagai kultur di Indonesia. Cobalah lihat bagaimana perayaan 17 Agustus lalu, pertunjukan berbagai keindahan kultural dari hampir semua Kultur Nusantara ini! Semua senang, semua bergembira.

Kultur itu memang indah, membesarkan hati, kebanggaan bagi sipemilik kultur itu. Syaratnya cuma satu: Kebebasan kultur itu.

FOTO HEADER: Pengantin Suku Karo (kiri) menerima sumbangan dari teman atau kerabat (Foto: @SUKU KARO)














Leave a Reply