Kolom Wimbo W: GUS DUR GURU BANGSA DAN BAPAK PLURALISME

0
309

Di zaman sekarang saya mengagumi sosok Gus Dur sebagai tokoh pembebasan. Pemikiran-pemikiran beliau cukup menggetarkan hati saya untuk memikirkan pembebasan itu sendiri.


Gus Dur mencontohkan pembebasan adalah upaya yang senantiasa berakar dan terarah pada penghargaan setinggi-tingginya terhadap kehidupan sosial manusiawi.




Bahwasanya pembebasan bersasal dari sesuatu terkait manusia itu sendiri. Setiap manusia hakikatnya memiliki sebuah tanggungjawab terkait kesetaraan dan keadilan. Semangat tersebut sejatinya dimiliki oleh setiap insan yang mempunyai jiwa merdeka, tidak memiliki rasa takut, dan berasal dari dalam batinnya.

Pemikiran Gus Dur mempunyai sebuah makna yang dalam, terkait pandangan bahwa manusia harusnya membantu yang lain untuk melepaskan diri dari berbagai bentuk belenggu penindasan.

Tiada sekat SARA setipis apapun.

Sikap-sikap seperti itulah yang selalu ditekankan oleh Gus Dur, bahwa semangat menuju pembebasan harus muncul dari saling memahami antara manusia satu dengan manusia yang lainnya.  Begitu juga terkait pandangan ideologi hingga permasalahan teologi, beliau selalu menekankan untuk memahami dan menghormati pilihan orang lain.

Gus Dur pernah berpendapat bahwa dirinya tidak setuju terhadap seorang muslim yang menganggap agamanya paling benar, lalu menganggap agama orang lain salah. Beliau beranggapan bahwa: “Semua agama mengajarkan kebaikan dan kebenaran sesuai keyakinannya.”

Dalam buku Berbeda Itu Asyik karya Iip. D Yahya (2004) Ayah beliau KH. Wahid Hayim berkata:

“Sekalipun agamamu dan temanmu berlainan, kamu jangan suka membeda-bedakan orang. Begitu juga orang yang berlainan suku, ras, dan bangsa.”

Lantas, Gus Dur menjawab: “Berbeda itu asyik dong, pak?”

Seperti itulah mengapa Gus Dur sangat menekankan pada prinsip kemanusiaan, keadilan dan kesetaraan, karena beliau beranggapan bahwa Islam merupakan agama yang menghargai dan memuliakan manusia. Islam sejatinya mengakui dan mengapresiasi perihal keanekaragaman adat istiadat, suku, dan tradisi di tengah-tengah kemanusiaan sebagai suatu sunatullah.

Allah telah menciptakan manusia itu berbeda-beda antara satu dengan yang lainya sebagaimana tertuang di surat Al-Hujurat/49: 13.

Aplikasi pembebasan pada dasarnya sejalan dengan implementasi prinsip-prinsip kemanusiaan, keadilan dan kesetaraan. Dalam prakteknya Gus Dur merupakan pahlawan bagi kebhinekaan. Sejak lama beliau sudah memperjuangkan perbedaan itu sendiri.
Salah satu yang terwujud ialah ketika Presiden Megawati mengesahkan Keputusan Presiden No. 19 Tahun 2012, dimana Imlek yang notabenya milik suku Tionghoa diakui menjadi hari nasional. Selain itu, di ranah kemanusiaan dan keadilan, beliau membebaskan eks Tapol 98 yang diadili tanpa bukti serta merehabilitasi korban tragedi 65.




Islam dalam pandangan Gus Dur merupakan agama yang membebasan diri manusia dari penindasan. Hal tersebut tidak terlepas dari nilai keadilan, kemanusiaan dan kesetaraan. Karena nilai-nilai itulah yang menjadi pondasi utama untuk persatuan dan kesatuan, implikatif dengan semangat “Rahmatan Lil Alamin” yang menjadi syarat pembebasan itu sendiri.

Jika syarat itu telah didapatkan maka pembebasan atas kaum tertindas sebagaimana Islam memandang, akan dapat diwujudkan. Begitulah cara Gus Dur memandang pembebasan pasca kemerdekaan, yang pada dasarnya harus didasari prinsip-prinsip humanisme.

Berkaitan dengan Jaman Now, dimana kita saksikan bersama, aktifitas radikalis/ intolerans bukan saja mengancam kesatuan, persatuan, dan keutuhan NKRI, namun jauh lebih berbahaya dan nyata benar kita rasakan bersama, yakni tercabik-cabiknya persaudaraan dan kedamaian antar umat beragama maupun antar ras, suku, dan antar golongan.

Adalah menjadi kewajiban kita bersama untuk memagari dan memerangi segala rongrongan kaum radikalis intoleran yang mengancam kerukuanan, kedamaian, kesatuan, dan keutuhan bangsa.

Sebagai seorang pribadi saya Wimbo W hanyalah sebatang lidi yang rentan dan mudah dipatahkan.

Maka saya mengajak saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air pertahankan dan pupuk subur persaudaraan sabangsa dan setanah air. Bersatu menjadi sapu membersihkan segala kotoran yang merusak kesatuan dalam kebhinekaan, kerukunan, dan kedamaian.

NKRI Harga Mati.










Leave a Reply