Kolom Ganggas Yusmoro: PIKIRAN CINGKRANG KETUA BEM UI

0
336

Sekolah tinggi untuk apa? Ya, untuk mikir. Untuk membuka cakrawala ilmu. Agar pikiran tidak buntet seperti bakpao. Mengkritik memang gampang dan memang sangat mudah. Sok pintar, seperti berkomentar soal bola, namun belum pernah seorangpun pemain bola kelas dunia yang muncul dari negeri ini. Yang ada muncul komentator handal.

Zaadit tidak pernah mikir, kenapa Indonesia sudah tertinggal dari negara-negara tetangga. Zaadit tidak mau koreksi apa yang dilakukan oleh Soeharto yang memimpin Indonesia selama  32 tahun, lalu Susilo Bambang Yudhoyono  yang memimpin selama 10 tahun.




Selama itu bangsa ini terlanjur dininabobokkan oleh subsidi. Jadinya apa? Lahirlah mindset dan mental kere. Mental ingin dibantu, ingin disuapi. Bukan mental petarung. yang gigih berjuang untuk hidup lebih baik.

Ketika Zaadit mengatakan jalan tol untuk orang kaya, rasanya kepingin njewer pipi si Zaadit dan diajak nongkrong di pintu tol. Biar matanya yang ketutup pipi melek, bahwa yang lewat jalan tol selain bus umum dan mobil mewah, juga dilewati mobil yang mengangkut pisang, bawang, sapi, beras, ketela bahkan ambulance.

Kenapa harus lewat jalan tol? Untuk mikir hal ini tidak harus sekolah di Universitas Indonesia (UI). Sopir juga ngerti bahwa lewat jalan tol lebih cepat, hemat dan efisien.

Dengan Jalan Tol, semua merasakan manfaatnya. Pengusaha dan pedagang barangnya cepat sampai di tujuan. Konsumen atau barangkali yang dimaksud si Zaadit kaum miskin juga sangat terbantu dengan ketersediaan barang.

Jika sekaliber Ketua BEM UI otaknya cingkrang, negeri ini lagi gawat darurat intelektualitas. Apakah karena terkontaminasi pikiran cingkrang PKS? Bukan. Sehebat apapun gelombang angin yang bertiup, jika otak dan pikiran tidak cingkrang alias waras, Zaadit tentu akan berpikir panjang.

Dasarnya memang Zaadit pikirannya cingkrang. Begitu!








Leave a Reply