Kolom M.U. Ginting: SATU PER SATU REDUP

0
525

“Tahun 2015 memberikan pelajaran bagi kita semua betapa kita pontang panting, jungkir balik karena api yang sudah membesar di semua daerah dan lokasi. Jumlah titik api yang begitu banyak dalam satu provinsi. Fakta 2015 betul-betul memberikan dampak yang sangat parah di daerah,” kata Jokowi, merdeka.com [18 Januari 2016].

Lantas Jokowi mencetuskan program ‘reward and punishment’ dalam menghadapi kebakaran hutan ini. Terobosan ini kemudian oleh Presiden Jokowi lebih mengintensifkannya dengan membentuk Satgas Kehutanan dibawah gubernur, Pangdam dan Kapolda, dengan ancaman dicopot kalau masih ada kebakaran hutan didaerahnya. Sekarang trobosan itu terlihat banyak hasilnya. Bagus pak presiden!




Pembakaran hutan adalah salah satu cara penting memiskinkan dan mengacau negeri ini, selain sangat merusak lingkungan. Ini termasuk dalam strategi ’global hegemony’ greed and power neolib internasional selain cara utamanya yaitu narkoba, terorisme dan korupsi. Cara terorisme sudah kelihatan tak begitu mempan karena semakin sedikit yang bisa ditakut-takuti oleh Pak Greedy Internasional itu.

Jokowi bilang tujuan teroris ialah untuk menakut-nakuti, karena itu tidak perlu ditakuti, dan dalam prakteknya sudah dilaksanakan dengan tegas oleh aparat keamanan bersama dengan dukungan penuh rakyat banyak. Teroris ditembak dan bunuh saja di tempat, habis perkara. Buktinya terlihat ketika teror Thamrin di Jakarta. Dan terorisme semakin redup.

Jangan seperti Presiden Hollande di Perancis, jumlah terorisnya bisa dihitung dengan jari. Tentara Perancis ratusan ribu dan pakai senjata nuklir juga, tetapi sangat takut sama teroris yang jumlahnya tidak pernah lebih dari hitungan jari itu, dan bikin keadaan darurat perang seluruh Perancis karena seupil teroris itu.

Diapun jadi gemetar keringat dingin ketakutan ketika seorang pemabuk berat narkoba (disuruh!) pakai truk menggilas banyak orang di Nice pada hari perayaan nasional Perancis 14 Juli 2016. Lantas diapun teriak perpanjang keadaan daruratnya.

Ngawur sekali! Seorang pemabuk berat narkoba bisa mengendalikan seluruh Perancis lewat seorang naif Hollande.

Begitulah tadi yang mau dicapai di Indonesia dengan menggerakkan teror Thamrin 14 Januari 2016, mau mengendalikan Jokowi seperti mengendalikan Hollande, terutama  dalam soal Freeport yang sangat aktual ketika itu. Tetapi Jokowi bukan Hollande!

Terorisme redup, bakar hutan redup, 411, Saracen, HTI redup, tetapi usaha divide and conquer tidak berhenti. Sekarang dimulai dengan strategi LGBT, juga telah dimulai dengan aniaya dan pembunuhan ulama di Jabar dengan maksud membangkitkan kemarahan islam tentunya. Semua  tentu dalam rangka bikin kacau, bikin pecah belah.




Dua yang terakhir ini juga sepertinya akan gagal tidak berhasil berkat kewaspadaan aparat keamanan RI terutama Polri dan juga berkat tingginya kesedaran masyarakat yang sudah semakin bisa dan semakin jelas melihat semua akal bulus pak Greedy Internasional ini memecah belah nation-nation dunia terutama yang kaya SDAnya.

Kita menyaksikan cara yang sangat efektif di Filipina oleh Presiden Duterte dalam menghadapi 3 alat utama neolib internasional ini (terorisme, narkoba, korupsi). Pedoman utamanya ialah tembak di tempat atau ‘surrender or die’.




Terutama dalam soal narkoba, terlihat banyak berkurang setelah setahun kekuasaan Duterte, dan sampai sekarang 80% rakyat Filipina mendukung sikap tegas Duterte dalam menangani narkoba dan kejahatan lainnya. Pembasmian kejahatan yang sangat erat kaitannya dengan narkoba, terorisme dan korupsi, sangat efektif dalam perang narkoba Duterte di Filipina.

Yang sangat menarik diperhatikan dan dipelajari ialah cara Jokowi menurunkan secara drastis pembakaran hutan dengan cara ‘reward and punishment’. Artinya tanpa strategi ‘surrender or die’ ternyata Jokowi bisa berhasil mengurangi pembakaran hutan. Dimana rahasianya?

Apakah mungkin juga berhasil dalam soal korupsi dan narkoba tanpa cara ‘surrender or die’ seperti Duterte?

HEADER: Model SORA SIRULO (Sisca Veronica Tarigan) di sebuah gua vulkanik Biru-Biru (Kecamatan Biru-biru, Deliserdang) (Fotografer: Simson Ginting).

 










Leave a Reply