“Bagaimana saya mengawali kiprah politik? Selalu jawaban saya sederhana untuk pertanyaan ini. Tercebur. Ya, memang tercebur, saya tidak pernah meletakkan kata politik di dalam target hidup saya. Sama sekali,” demikian kata-kata Jokowi dalam buku official memoar ‘Jokowi Memimpin Kota Menyentuh Jakarta’ karya Alberthiene Endah.

Ya beliau tercebur, sesuatu yang sebetulnya tidak beliau inginkan. Tetapi apa daya “Kun Fayaakun” Tuhan tidak bisa untuk dilawan. Di tahun 2005 pasangan Jokowi – FX Hadi resmi mencalonkan diri sebagai Bakal Calon Walikota Solo dengan diusung PDIP..




Di periode berikutnya tahun 2010 masih dengan pasangan yang sama, Jokowi bukan hanya diusung oleh PDIP saja, melainkan PAN, PKS dan Partai Damai Sejahtera untuk bertarung di dalam pemilihan Walikota Solo. Lebih fantastisnya lagi perolehan suara dari mereka berdua adalah 90,9% kala itu.

Hingga kemenangan sensasional itu banyak dibicarakan oleh kalangan media Tanah Air dan luar negeri. Belum pernah ada Pilkada di manapun yang menyamai perolehan suara mereka berdua. Akhirnya, media pun menemukan jawaban atas kemenangan yang sensasional tersebut. Ya, jawabnya adalah sikap. Sikap yang sederhana, sikap yang nguwongke uwong, sikap yang tak pernah berjarak dengan rakyatnya menjadi kunci sukses kemenangan beliau di Pemilihan Walikota Solo.




Hingga Jokowi pun menjadi media darling kala itu karena sikap antitesis dari seorang pejabat yang berwatak ningrat.

Tahun 2012, sang Ketua PDIP (Megawati Soekarnoputri) mencalonkan beliau untuk pertarungan di Pilgub DKI yang berkoalisi dengan partainya Prabowo yakni Gerindra. Berpasangan dengan Ahok kala itu, akhirnya terpilihlah Jokowi sebagai Gubenur dan Ahok sebagai wakilnya.

Yang menjadi catatan di sini, ketika masih berkoalisi dengan PKS di Pemilihan Walikota Solo ataupun berkoalisi dengan Gerindra di Pemilihan Gubenur DKI Jakarta, Pak Jokowi tidak pernah sekalipun diserang dengan isue SARA, isue PKI, keturunan komunis ataupun pimpinan anti Islam. Kenapa waktu itu, begitu lancar pemerintahanya? Kenapa tak ada serangan yang bertubi-tubi? Kenapa semenjak berpisah dengan PKS ataupun Gerindra isue komunis, keturunan PKI ataupun pemerintahan anti Islam menjadi ada?

Anda sendirilah yang bisa menyimpulkanya. Seperti adagium begini. “Semenjak Si Muklis jadi Satpam, kampung ini menjadi aman, ya. Tak ada maling lagi, hebat benar tuh Si Muklis”. Hingga teman Si Muklis yang satu profesi denganya menjawab dalam hati: “Lha gimana gak aman, lha wong pencurinya itu Si Mukhlis sendiri ko.”

Salam Jemblem.








Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.