Kolom Ganggas Yusmoro: GUSDUR DAN IMLEK

1
381

Imlek atau Tahun Baru China semakin tahun semakin semarak. Semakin menunjukkan eksistensinya dengan menampilkan seni budaya barongsay dan segala pernak pernik Tahun Baru China membuat negeri ini semakin greget. Semakin menunjukkan bahwa budaya telah menyatukan umat manusia.

Namun, siapa yang berjasa Tahun Baru Imlek menjadi agenda tahunan sehingga bangsa ini bisa menikmati sensasi barongsay? Yaa, beliau, seorang Gusdur. Seorang Bapak Bangsa yang dengan berani mencabut Inpres nomor 14 tahun 67 yang dikeluarkan oleh Rezim Soeharto.




Apakah keberanian seorang Gusdur dengan mencabut Inpres dari Rezim Soeharto lalu tidak menimbulkan kontroversi? Tidak ada yang menantang? Berjalan mulus?

Seperti halnya Pak Jokowi yang berani memberangus HTI, yang dianggap salah. Yang dianggap tidak berpihak pada Islam. Saat itu, kebijakan Gusdur yang memberi ruang terhadap Kebudayaan China juga dihujat. Dikritik habis-habisan. Dianggap telah merusak tatanan. Dikhawatirkan Osang Aseng dan PKI akan kembali muncul. Dikawatirkan PKI akan kembali membuat ulah.

“Ya, gak ada hubungannya antara seni budaya dengan politik. Barongsai itu kesenian. Imlek itu juga budaya. Yang punya pikiran soal PKI dan Budaya Imlek adalah orang ngawur,” itu ucap Gusdur menangkis hujatan.

Pemikiran, cara pandang, dan semua kebijakan Gusdur yang kalau dicermati orientasinya berkebangsaan yang berkeadilan demi tegaknya nilai-nilai Kebhinnekaan, harus menelan pil pahit disingkirkan oleh MPR yang saat itu dimotori oleh Amin Rais dengan dalih Gusdur terlibat Bulog Gate yang tidak pernah terbukti.

Terimakasih, Gus. Kemarin kami bisa menikmati Barongsai.

GONG XI FA CAI buat saudaraku yang merayakannya.

HEADER: Perayaan Imlek 2018 di Medan (Foto: Okezone)








1 COMMENT

  1. “Dikawatirkan PKI akan kembali membuat ulah.”

    Kekhawatiran kembalinya PKI atau komunisme pada umumnya masih sangat menghantui banyak jiwa manusia Indonesia. Akan tetapi di luar negeri terutama di negeri maju, hantu komunisme bisa dikatakan sudah gak mau muncul, hantunya seakan ikut mati ditelan abad keterbukaan, abad ilmu pengetahuan.

    Abad keterbukaan disini tentu tidak lepas dari peningkatan pengetahuan dan kesedaran rakyat atas perubahan dan perkembangan dunia. Karena abad keterbukaan adalah abad ilmu pengetahuan yang tidak terbatas jangkauannya artinya pengetahuan itu bisa tersebar kemana saja dan bisa dibaca dan dikuasai oleh siapa saja, dan tingkat pengetahuannya yang setinggi apa saja.

    Tetapi dari kenyataan yang kita saksikan, tetap saja dikalangan rakyat Indonesia (pasti jugalah negeri-negeri berkembang lainnya), peredaran dan perluasan pengetahuan itu masih jauh dari cukup (lambat) terutama pengetahuan soal komunisme itu, sehingga belum bisa mengubah pandangan orang banyak terhadap komunisme dan dengan sendirinya juga PKI.

    Kalau pengetahuan soal komunisme itu satu waktu sudah merata dikalangan rakyat banyak, tentu pada akhirnya ketakutan terhadap komunisme itu hanya akan jadi bahan tertawaan atau semata-mata adalah pertunjukan ‘ignorant’ yang tidak terampuni, artinya terlalu sangat jauh tertinggal terkait soal dunia dan perkembangannya.

    Dari segi lain dan juga penting ialah bahwa dalam usaha deep state mencapai NWO taktik divide and conquer masih akan terus dipakai terutama dikalangan penduduk yang masih jauh dari ilmu pengetahuan tadi, artinya memanfaatkan ‘penduduk ignorant’ itu dengan memakai alat ‘komunis/komunisme’ yang dalam praktek masih sangat mantap dan besar gempurannya, walaupun sudah pasti tidak lagi sebesar gempuran 1965 dimana orang yang tak berpengetahuan tadi disuruh membantai 3 juta orang lain. Manusia atau grup manusia yang dibantai itu, juga tidak cukup pengetahuannya tentang komunisme itu sendiri, walaupun mereka orang komunis atau orang PKI, apalagi yang hanya dituduh atau dicap PKI atau dicap komunis.

    Orang-orang komunis yang dibantai ini punya pengetahuan komunisme adalah yang sengaja diajarkan salah dan sepenuhnya menyimpang dari pengetahuan sebenarnya tentang komunisme. Yang diajarkan ialah bahwa komunisme adalah perjuangan kaum tertindas untuk keadilan, untuk menutupi tujuan sebenarnya ialah mempertahankan ketidakadilan yang diperjuangkan oleh deep state bankir/rentenir internasional memperkaya diri dan demi NWO. Kelompok inilah yang menciptakan dan ‘menemukan’ Marx untuk mengolah ajaran komunisme dimana pada mulanya bermaksud mengambil alih gerakan sosialisme lama si Slavia Bakunin dan teman-teman seideologi dengannya.

    Belakangan dalam era keterbukaan informasi yang bebas ini, informasi untuk semua dan informasi dari semua, sudah timbul pertanyaan siapakah sebenarnya dibelakang Manifest Partai Komunis yang ditulis oleh Marx 1948.
    Keraguan dan pertanyaan ini muncul sebagai akibat atau hasil dari banyak pembelajaran dan penyelidikan mendasar tentang komunisme dan gerakan komunisme yang dimunculkan (saya tekankan istilah ‘dimunculkan’) pada abad 19, seperti Marx dengan marxismenya. Gerakan sosialisme abad 18 walaupun awalnya dalam bentuk anarkisme sudah duluan muncul seiring dengan gerakan kaum buruh industri di Eropah. Gerakan sosialis ini semakin besar dan satu-satunya ketika itu yang mungkin berkembang dan bertahan kuat menantang kekuasaan besar kapital pada zaman itu. Tetapi ada golongan atau kelompok tertentu yang sangat ngeri dan ketakutan dengan munculnya gerakan sosialis dikalangan kaum buruh itu, seperti gerakan sosialis yang disemarakkan oleh Bakunin dikalangan penduduk Slavia seluruh Eropah.

    Untuk memecah belah dan mengambil alih peranan gerakan besar sosialis ini, dibentuk gerakan komunisme. Untuk apa? Apakah tujuannya berlainan dengan tujuan gerakan sosialis orang Slavia Bakunin itu? Jawaban yang tepat dan ilmiah soal ini adalah kunci hilangnya momok komunisme dari bumi Indonesia, dan yang sudah lama hilang dari bumi negeri maju eropah barat.

    Kita akan lanjutkan gerakan pencerahan ini dengan mengikuti dan mempelajari karia ahli-ahli dunia internasional, juga mengikuti kelompok duit deep state neolib internasional. Kelompok duit ini jugalah pada abad 19 yang menemukan Marx dan memprakarsai komunisme seluruh dunia termasuk Indonesia. Kelompok ini juga yang bikin teror 1965, bikin Freeport Papua mengeruk Triliunan Dolar selama setengah abad, teror Thamrin, Saracen, 411, juga 212 dll.

    Sebagai pembukaan kearah pencerahan total ini, bisa dibaca pengetahuan penting soal duit dan perang di artikel “All wars are Bankers’ wars!” disini: http://www.whatreallyhappened.com/WRHARTICLES/allwarsarebankerwars.php#axzz57StRCYlp

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.