Kolom Asaaro Lahagu: AHOK PK, RIZIEQ PULANG, PRABOWO KIRIM KODE

1
1748

9 bulan Ahok di penjara, ibarat 9 bulan di kandung ibunya. Selama di penjara, Ahok diam, merenungi jiwanya, menguluti dirinya dan membanting sum-sum tulangnya. Tetapi, setelah sembilan bulan di penjara, ia ingin keluar, lahir ke dunia dan bertarung kembali di dunia nyata merebut keadilan.

Kalkulasi perhitungan Ahok dan pengacaranya untuk tidak naik banding di pengadilan Tinggi Jakarta hingga ke Mahkamah Agung, sudah sangat tepat. Jika ia banding bulan Mei lalu, maka lewat tekanan massa yang saat itu masih bernafsu tinggi memburunya, pengadilan tinggi hingga Mahkamah Agung bisa saja menambah hukumannya hingga lima tahun.




Ahok kini terus berjuang meraih keadilan. Setelah ia menjalani hukuman 9 bulan penjara, Ahok pada pertengah bulan Februari 2018 ini mengajukan Peninjauan Kembali (PK) kepada Mahkamah Agung. Ahok menuntut haknya, menuntut keadilan, menuntut kebebasan.

Jika roh keadilan masih menjiwai lembaga MA, maka Ahok dinyatakan tidak bersalah dan bebas dari hukuman atau setidak-tidaknya hukumannya dikurangi. Yang jelas, hukumannya tidak bisa lagi dipermainkan seenak jidat, alias ditambah. Namun, jika MA masih ‘buta’ akan kasus Ahok, maka hukuman Ahok akan tetap dua tahun. Bagi Ahok sendiri, tidak ada penyesalan apapun. Ahok puas, haknya mengajukan PK sudah dilaksanakan.

Dengan pengajuan PK, Ahok telah menunjukkan kepada dunia bahwa di Indonesia, ada UU penistaan agama yang digunakan untuk menghantam kaum pemeluk agama minoritas. Pengadilan di Indonesia hanya tajam kepada minoritas tetapi tumpul kepada kaum mayoritas. Rizieq yang garang menghina agama lain, hingga kini masih melenggang bebas.

Ahok adalah simbol, tumbal dan korban nafsu liar, nafsu cemburu, nafsu kerdil, nafsu kemarahan kaum penunggang agama yang sudah terpuruk dan cemburu atas pribadi Ahok yang unggul namun double minoritas. Ketika sekelompok kaum tersingkir secara ekonomi, maka jalan satu-satunya untuk menunjukkan taring adalah lewat penunggangan agama.

Dan perlawanan Ahok yang kerap dibully, dihantam, dikeokkan dengan ayat-ayat agama, patutlah mendapat jempol. Bagi kaum bernalar, Ahok bukanlah penista agama yang sebenarnya. Ahok adalah pembela, penegak dan pejuang keadilan yang beroh, berjiwa dari agama. Ahok pun terus berjuang, siap menghadapi pengadilan secara jantan, menerima hukuman dengan berani.

Lalu, bagaimana dengan Rizieq yang berkoar-koar tentang keadilan?

Rizieq adalah simbol penista hukum di negeri ini. Ia takut, tak berani dan tak berkutik menghadapi pengadilan. Rizieq, mungkin karena ia memang merasa bersalah, tak sanggup menghadapi pengadilan. Ia bergidik melihat para hakim menguliti dirinya yang sebenarnya tersandung chatting porno yang amat memalukan itu.

Itulah sebabnya Rizieq menghindari pengadilan. Ia kabur ke Arab dengan dalih melaksanakan ibadat. Di sana ia mungkin berdoa agar pemerintahan Jokowi semakin chaos. Dengan momentum itu, Rizieq pulang dan akan disambut bak seorang pahlawan, sosok pembawa sinar terang, pembawa harapan baru dan penegak keadilan. Dengan adanya momentum itu, maka kasus chatting porno dan kasus yang lain dilupakan.

Sayang, momentum itu tidak kunjung tiba. Sementara para pengikut Rizieq dan para politikus busuk nan kotor sangat membutuhkan jasanya sebagai kapal pengacau sinyal. Rizieq memang amat dibutuhkan oleh kaum penunggang agama terkait Pilkada dan teristimewa menjelang Pilpres 2019 mendatang.

Jika Rizieq lama di Tanah Arab, sama saja tak berguna, buang-buang waktu, tenaga dan biaya. Sementara, skenario Rizieq agar ditangkap di Tanah Arab oleh pihak aparat, dan dibawa ke Indonesia dengan gegap-gempita, tak menjadi kenyataan. Bahkan polisi terkesan membiarkan Rizieq di sana selama mungkin. Jika demikian, tidak ada pilihan bagi Rizieq selain pulang sendiri sembari memberi ancaman dagelan kepada Jokowi agar tidak diganggu.




Rizieq yang berulangkali berencana pulang namun tidak jadi-jadi, berencana pulang lagi tanggal 21 Februari 2018. Menurut siaran pongah para pengacaranya, pendukung Rizieq akan memutihkan Bandara. Namun, aksi itu sebetulnya sangat mudah digagalkan. Misalnya saja pesawat Rizieq dialihkan pendaratannya di Halim atau di luar Jakarta. Lalu di sana Rizieq dengan mudah diamankan.

Pertanyaannya adalah sudah cukupkah keberanian Rizieq pulang dan siap menghadapi pengadilan di Indonesia? Sudahkah Rizieq berani menaikkan tiga level bawahnya agar sejajar dengan Ahok dalam menghadapi pengadilan? Mungkin Rizieq butuh kode dari Prabowo agar berani pulang. Prabowo yang menyanjung tinggi Rizieq selepas demo 212 sebagai seorang pemberani perlu lagi mengirim kode kepada Rizieq.

Kodenya adalah ‘Timor Kupang Pati… Timor Kupang Ambon’ artinya tempat kejadian perkara aman terkendali. Anies, ‘vertical drainage 8-1-9’ (banjir sudah berhasil dinaturaliasi), Tanah Abang 33L (berhasil dikacaukan). Jakarta A1 (telah berubah ke arah perubahan ‘nenek lu’), Prabowo 08 (siap bertarung lagi melawan Jokowi sampai titik darah keok).

Pulanglah Rizieq bantu gue lawan Jokowi.











1 COMMENT

  1. “Prabowo yang menyanjung tinggi Rizieq selepas demo 212 sebagai seorang pemberani perlu lagi mengirim kode kepada Rizieq.”, sekarang sedang ber’mimpi cantik’ dimana bersama Gerindra dan PDIP dukung pasangan Gus Ipul Puti i Jatim. Kok bisa ya?
    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.