Saya paling doyan menulis kritik soal Anies, tapi kali ini saya sedikit bersimpati dengan dia karena alasan sederhana. Penolakan terhadap Anies pada pagelaran Piala Presiden adalah sebuah sikap yang saya kira tidak perlu dilakukan oleh Presiden.

Bagaimanapun ketidaksukaan saya pada Anies, dia tetaplah Gubernur Jakarta terpilih yang perlu dijaga kehormatannya sebagai pejabat publik, oleh pejabat publik lainnya termasuk presiden.

Namun, karena politik yang kita bangun adalah politik sentimental, maka hal-hal seperti ini membuat kita tidak akan pernah bisa melahirkan yang namanya “Revolusi Mental”. Karena, ternyata, mental kita sendiripun masih bermasalah.




Anies memang bermasalah saat proses kampanye Pemilihan Gubernur yang sudah lewat. Tapi, bagaimapaun model kampanye yang dibangun oleh Anies dan teamnya, jika dibalas dengan model kampanye yang sama, maka hasilnya akan sama.

Saya menyaksikan bahwa politik tidak mengenal ethic, bahkan di kedua sisi yang bersebrangan, pro dan kontra menjadi ciri utamanya, tanpa memperhatikan aspek lain yaitu “perikemanusiaan”.

Sebagai pejabat publik, Anies tentu saja sadar bahwa publik punya bahasanya sendiri dalam mengekspresikan ketidaksukaan atau ketidaksetujuannya terhadap kebijakan Anies.

Namun dalam konteks ini saya hanya ingin menyampaikan bahwa, ketika penghinaan dibalas dengan penghinaan, yang lahir adalah penghinaan pangkat dua. Itu jelas tidak menyelesaikan masalah yang ada.

Bagaimanapun jeleknya Anies, faktanya dia adalah Gubernur Jakarta terpilih.

#Itusaja!








Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.