Partai berkaki dua era SBY, PKS, mulai bermanufer. Setelah terpuruk dari berbagai survei dan bakal menjadi partai dinosaurus macam PBB, kini mulai memutar haluan. Gagal menyerang Jokowi dengan membabi buta, kini PKS memilih cara aman ala Setya Novanto dan Hary Tanoe: merapat kepada Jokowi.

Bagi partai-partai yang tidak mempunyai tokoh yang bisa diyakini mampu melawan Jokowi, maka jalan realistis yang dipilih adalah merapat. Sihir Jokowi yang tetap memukau hingga kini, membuat beberapa partai tak banyak pilihan selain menebeng popularitas Jokowi. Tengok saja gelagat sejumlah partai akhir-akhir ini. Mereka hanya berani menyodorkan calon wakil Presiden pada Pilpres 2019. Nasdem, Hanura, PPP, Golkar, PKB, PAN, Perindo, dan PKS mulai berlomba sengit menyodorkan calon wakil presiden mendampingi Jokowi.




Sinyal PKS akan merapat kepada Jokowi terlihat dari berbagai pernyataan para pemimpinnya. Dalam beberapa pekan terakhir, para petinggi PKS cenderung menunjukkan sikap lembut dan terkesan mendukung Jokowi. Saat Jokowi ke Afghanistan, misalnya, dan menjadi imam salat di sana, Hidayat Nurwahid yang biasanya mengkritik Jokowi setajam silet, tiba-tiba berbalik memuji Jokowi. Menurut Hidayat, tindakan Jokowi menjadi imam salat itu inspiratif dan luar biasa.

Ketika Jokowi saat peresmian Bandara 2 Januari 2018 lalu hanya memakai kaus merah, Sohibul Iman tidak berani mengkritiknya. Sohibul terkesan berkelit ketika ditanya wartawan dengan mengatakan bahwa kaus Jokowi itu kelihatan anak Zaman Now. Padahal, dulunya, hal-hal remeh sekalipun terkait Jokowi, PKS akan rajin mengkritiknya.

Sinyal lain merapatnya PKS kepada Jokowi, bisa dilihat dari isi video pidato Presiden PKS, Sohibul Iman 15 Februari 2018.

“Jika kita memilih desain koalisi 2 partai, maka PKS memiliki 3 skenario koalisi. Skenario pertama adalah koalisi PKS-PDIP. Bagaimana? Ya, saya sudah tahu pasti responsnya begitu,” kata Sohibul Iman.

Jelas ketika elektabilitas turun, PKS akhirnya sadar diri. Bargain awal PKS adalah mengajukan 9 nama Cawapres. Namun, tembakan utama PKS jika Wapres tak kesampaian adalah mengincar posisi menteri dalam kabinet Jokowi. Selain itu, tujuan lain dari merapatnya PKS adalah mengerek kembali elektabilitas partai yang hanya 2,4% pada Pemilu 2019 menurut survei Pollmark ala Eep Syaefullah. Salah satu cara menaikkan elektabilitas PKS yang terpuruk ini adalah merapat kepada Jokowi.

Pilihan PKS untuk berbalik kepada Jokowi bukan tanpa dasar. Masyarakat yang ada pada basis-basis PKS di berbagai tempat, sudah move on dari Pilpres 2014 dan berhasil direbut hati mereka oleh Jokowi. Banyak masyarakat yang mulai percaya kepada kepemimpinan Jokowi. Sambutan dan euforia tinggi masyarakat saat Jokowi blusukan adalah contoh konkrit penerimaan masyarakat atas kepemimpinan Jokowi tak terkecuali di tempat-tempat yang dulu tidak memilihnya.

Saat Jokowi mengunjungi Sumbar beberapa waktu lalu, misalnya, masyarakat mengerubungi Jokowi dengan teriakan euforia tinggi. Masyarakat Sumbar baru mulai sadar ketika sudah merasakan dampak signifikan kepemimpinan Jokowi. Jika pada basis PKS baik di Jawa maupun di luar Jawa sudah bersimpati kepada Jokowi, lalu bagaimana dengan para pemimpinnya? Apakah tetap bersikukuh untuk beroposisi melawan Jokowi? Jika melawan maka hasilnya akan semakin terpuruk. Inilah yang merubah 180 derajat strategi para pemimpin PKS.




Jika PKS merapat ke Jokowi, maka harapannya adalah suara PKS pada Pemilu serentak 2019 mendatang terselamatkan. Dengan mengikuti cara-cara Golkar, Perindo dan partai lain, maka PKS juga ingin kecipratan magnet besar Jokowi pada tahun 2019 mendatang. Atau, jika kecipratannya hanya remeh-remeh, minimal PKS tidak langsung berhadap-hadapan dengan kubu pendukung Jokowi. Tujuan panjangnya adalah Pilpres 2024 yang mungkin lebih panas dari Pilpres 2019 ini. Pada tahun 2024, Jokowi sudah tidak bisa lagi mencalonkan diri menjadi Presiden. Nah, di situlah PKS kembali bertarung.

Peta politik 2019 sebetulnya sudah bisa dibaca melalui peta pertarungan di Pilkada 2018 ini. Jika pada Pilkada 2018, PDIP sebagai basis utama pendukung Jokowi memenangkan lebih banyak jagoannya terutama di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat, maka bisa dipastikan posisi Jokowi juga akan menguat.




Gejolak politik pun akan stabil dan adem ayem. Jika hal itu tercapai, maka Pilpres 2019 akan dengan mudah dimenangkan oleh Jokowi. Bila situasi terjadi, mau tidak mau PKS merapat ke Jokowi.

Pertanyaanya adalah, apakah Jokowi mau menerima PKS yang selama ini getol membullynya?

Dari karakternya, bisa dilihat bahwa Jokowi tidak akan menolak jika PKS benar-benar merapat. Dia mempersilahkan PKS bergabung. Namun, dengan catatan, dia tidak akan tunduk kepada maunya PKS. Karakter ‘kepala batu’ Jokowi sudah dirasakan benar oleh Setya Novanto. Jika ke depan PKS pun akan berkaki dua, itu tidak masalah. Dukungan PKS ke depan sama sekali tidak signifikan. Namun, demi etika politik, jika partai ingin merapat, maka tangan Jokowi selalu terbuka. Itulah karakter manusia jujur, ikhlas dan lurus.




Bagi PKS sendiri, jika memang mau mendukung Jokowi, tidak perlu malu-malu. Dalam dunia politik hal itu wajar-wajar saja. Namun yang perlu diperhatikan oleh PKS sekarang adalah harus fokus dan bekerja lebih keras lagi, mencuci namanya yang kotor karena dekat dengan HTI dan fokus melakukan persiapan demi menghadapi Pemilu legislatif. Pasalnya, syarat untuk lolos ke Senayan pada Pemilu 2019 cukup berat. Ambang batas parlemen 3,5 persen bukan angka yang sedikit karena jumlah pemilih sangat besar.

Jadi, ketika PKS terancam menjadi dinosaurus, maka sinyal kedok PKS merapat ke Jokowi terkuak. Di sisi lain, Jokowi diprediksi akan menerima pertobatan PKS tanpa syarat, demi etika politik. Begitulah kura-kura.












1 COMMENT

  1. “Setelah terpuruk dari berbagai survei dan bakal menjadi partai dinosaurus macam PBB, kini mulai memutar haluan.”

    Analisa bagus dengan fakta yang meyakinkan.
    Perkembangan selanjutnya . . . kemungkinan akan semakin banyak ‘partai dinosaurus’, tinggal partai atau beberapa partai yang betul mengabdi kepentingan publik. Dalam era keterbukaan, ‘tipu muslihat’ tidak bisa lagi ditutupi, harus diganti dengan ketulusan dan kejujuran sikap politik yang selalu ‘tahan’ dibentangkan diatas meja, artinya KEBENARAN selalu akan tahan uji. Yang tidak tahan . . . jadi dinosaurus itu he he . . .

    Kontradiksi Pokok dunia sekarang ialah perjuangan untuk KEADILAN dan KEBENARAN kontra ketidakadilan dan kebohongan/penipuan. Dan ini tergambar dalam perjuangan antara KEPENTINGAN NASIONAL kontra KEPENTINGAN INTERNASIONAL neolib-deep state. Partai-partai akan MEREDUP menuju dua kepentingan ini atau dua pertentangan ini. Ini terlihat gejalanya di Indonesia dan dibanyak negeri di Eropah, terutama terlihat di Inggris, Jerman, Skandinavia, Poland, Hongaria dll. Juga terlihat jelas goyahnya UE.
    Merapatnya berbagai partai ke Jokowi (nasionalisme) adalah desakan kontradiksi pokok dunia itu.

    Dalam era modern kepentingan NASIONAL ini diwakili oleh presiden Jokowi di Indonesia, Trump di AS atau juga Duterte di Filipina dan Brexit di Eropah. Kepentingan neolib deep state semakin tertelanjangi di seluruh dunia, terutama di AS dimana Trump sebagai sasaran utama globalists dalam menuju NWO- The New World Order. Kekuatan nasionalis AS semakin nyata, sedangkan kekuatan deep state semakin tidak terkendalikan lagi oleh pemerakarsanya, neolib internasional. Bahkan bosnya yang utama sudah mengakui bahwa rencana NWO sudah collaps, walaupun masih harus waspada karena omongannya itu adalah politis, artinya punya tujuan tersembunyi juga. Masih banyak yang bisa dia lakukan dalam memperlambat arus sejarah itu, tetapi hanya memperlambat, tidak bisa lagi menghentikan. MSM yang menjadi senjata utama bagi neolib deep state lebih dari setengah abad, sudah diungguli oleh media indepenen termasuk media sosial milik ratusan juta manusia dunia.

    Bahkan sudah muncul seorang presiden yang tegas bilang kalau MSM fake news itu adalah “the enemy of american people” seperti NYT, CNN dll. Pemilik utama MSM ini masih bela diri dengan mengatakan bahwa media adalah alat demokrasi mewakili orang banyak. Ini jelas tidak betul karena MSM adalah milik kapital besar neolib internasional deep state dan tidak pernah mewakili orang banyak atau rakyat. Tidak pernah jadi alat demokrasi. Juga kepemilikan tidak bisa berpindah tangan, mereka tidak mau.

    Gerakan dan pergeseran menuju KEPENTINGAN NASIONAL adalah fenomena pergeseran politik dunia, fenomena sejarah dan tidak mungkin dihalangi oleh kekuatan apapun. Ini terjadi karena masuknya era digital, era internet, era publik, era semua rakyat dunia yang mempraktekkan keterbukaan, demi tujuan bersama kemanusiaan. Perjuangan ini
    baru saja dimulai, belum mecapai puncaknya dalam dialektika kontradiksi Hegel tesis-antitesis-syntesis. Kita menunggu puncaknya dan pergeseran ke kontradiksi baru dunia . . .

    Di Indonesia terakhir terlihat bagaimana PKS menghindari jadi bangkai dinosourus itu . . . karena tidak mau beku tertimbun dibawah 50 m tebalnya es.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.