Instink Rizieq soal penjara, tajam setajam lidahnya. Ia paham betul situasinya. Dengan aneka kasus yang membelitnya, ia yakin bakal masuk penjara. Jika ia masuk penjara dengan kasus chatting pornografi, misalnya, maka dunia seakan runtuh baginya. Mengapa?

Jika seorang Rizieq yang didaulat sebagai imam besar umat Islam Indonesia, keturunan nabi, menurut pengikutnya, terbukti di pengadilan melakukan chatting pornografi, apa kata dunia? Nama Rizieq pun akan hancur lebur bersama debu selamanya.

Dengan situasi sulit yang dialaminya, para pengikutnya mencoba menyelamatkan Rizieq dengan 3 skenario. Pertama, isu kriminalisasi ulama dibesar-besarkan. Sasarannya selalu dialamatkan kepada Jokowi. Jokowi dianggap menjadi sosok paling bertanggungjawab atas aksi krimininalisasi ulama itu. Dan Rizieq pun masuk di dalamnya sebagai seorang korban kriminalisasi.


Dengan isu kriminalisasi itu, para pengikut Rizieq mengharapkan kasus-kasus yang menjerat Rizieq termasuk kasus chatting pornografi yang memalukan itu, tertutupi. Jika demikan maka aparatpun tidak berani mengusutnya. Agar isu kriminalisasi itu diyakini kebenarannya, sejumlah ulama pro Rizieq mencoba berkorban sedikit dengan mengeluarkan pernyataan offside. Apa tujuannya?

Tujuannya adalah agar diciduk oleh aparat. Nah dengan pencidukan itu kebenaran isu kriminalisasi ulama semakin dibesar-besarkan. Lalu bagaimana hasilnya? Hasilnya adalah para pengikut Rizieq percaya 100% Rizieq sedang dikriminalisasi. Ulama sedang dikriminalisasi.

Akan tetapi apakah Jokowi takut? Sama sekali tidak. Jokowi tidak pernah mengintervensi aparat hukum agar tidak menyentuh Rizieq dan para ulama yang berbuat kriminal. Jokowi tetap menyerahkan penegakan hukum yang tegas kepada aparat kepolisian. Siapun yang melanggar hukum harus diproses dengan hukum.

Rizieq pun dipanggil oleh aparat. Ia diperiksa, dijadikan tersangka dan akan diadili di pengadilan. Hal yang sama berlaku bagi para ulama lain yang melanggar hukum. Mereka yang membuat keonaran tetap diproses secara hukum tak peduli dia ulama atau bukan.

Ketika skenario pertama gagal dan Rizieq tak bisa berkelit lagi, maka skenario ke dua diluncurkan. Dengan dalih agama, Rizieq menempuh langkah seribu. Ia didorong lari ke luar negeri. Tujuan kepergian Rizieq ke luar negeri adalah untuk beribadah. Demikian asumsi yang dibangun oleh para pendukung Rizieq. Tetapi sebenarnya untuk menghindari proses hukum. Hasilnya? Para pengikut Rizieq percaya bahwa Rizieq sedang beribadah di Tanah Arab.

Selama pelariannya di Tanah Arab, para pengikut Rizieq dan Rizieq sendiri membangun alibi bahwa Rizieq bukan lari tetapi pergi untuk menyelamatkan Indonesia dari kegaduhan. Selain alibi itu, para pengikut Rizieq juga membangun asumsi lain bahwa Rizieq akan pulang untuk mendamaikan keributan, pertentangan di antara sesama umat.

Penyerangan para ulama yang terjadi akhir-akhir ini bisa jadi bagian dari skenario agar sesama umat terlihat saling ribut. Untuk meyakinkan publik tentang betapa pentingnya sosok Rizieq untuk mempersatukan umat, dibuatlah skenario perpecahan alumni 212 yang diganti dengan persaudaraan alumni 212. Dengan demikian, pemerintah akan mengalah dan meminta bantuan Rizieq untuk pulang dan mendamaikan umat yang saling ribut itu. Lalu apa yang terjadi?


Walaupun terus digaungkan bahwa betapa pentingnya Rizieq untuk kembali, namun masyarakat malah lebih senang kalau Rizieq tetap di Tanah Arab. Indonesia aman, terkendali dan tak ada yang memprovokasi.

Sementara itu para pengikut Rizieq, para politikus yang membutuhkan jasanya dan Rizieq sendiri merasa bahwa keberadaannya di Tanah Arab sama sekali tidak berguna, buang-buang waktu, tenaga dan biaya. Belum lagi kangen rumah dan kangen yang lain-lain. Bagi para pengikutnya, Rizieq lebih berguna jika dia ada di Indonesia.

Ketika skenario pertama dan ke dua gagal, dibuatlah skenario ke tiga. Jokowi diancam oleh para pengacara Rizieq agar bersedia memerintahkan aparat untuk tidak menangkap Rizieq. Jokowi diminta agar memerintahkan Polri mengeluarkan SP3 atas kasus Rizieq. Jika ada penangkapan oleh aparat, maka Indonesia akan gaduh, keamanan akan terganggu dan Indonesia akan hancur.

Agar lebih heboh, para pengacara Rizieq menakut-nakuti Jokowi dan Kapolri dengan membangun kampanye bahwa, ketika Rizieq pulang, akan ada penyambutan jutaan orang di Bandara Soekarno-Hatta. Bisa dipastikan Bandara akan lumpuh total ketika Rizieq pulang. Demikian koar-koar para pembela Rizieq. Apa tujuan kampanye itu? Bargain politik. Agar, ketika Rizieq pulang, ia tidak ditangkap. Imbalannya, para pengikutnya tidak memutihkan Bandara. Lalu apakah Jokowi takut?

Jokowi tidak pernah takut. Tak ada bisikan secuilpun kepada Kapolri agar tidak menyentuh dan mengganggu Rizieq. Segala ancaman para pengikut dan pengacara Rizieq dibiarkan menggonggong, bagaikan tong kosong. Aparatpun siap sedia menjemput Rizieq. Ketika Rizieq sudah mau pulang pada tanggal 21 Februari ini (dikabarkan sudah membeli tiket), dan terus mengancam Jokowi agar dirinya tidak ditangkap, tak digubris sama sekali.

Rizieq malahan berbalik ditakuti. Ketika ia tiba di Indonesia, Rizieq akan langsung diamankan. Pengamanan inilah yang menakutkan Rizieq sehingga ia diisukan batal pulang. Wiranto pun sudah mengkonfirmasi bahwa Rizieq batal pulang. Namun, jika berani pulang, maka ia siap-siap menghadapi proses hukum.

Jelas hingga kini, Rizieq masih belum punya taring seperti Ahok menghadapi pengadilan secara jantan. Ia barangkali pulang jika Jokowi telah lengser, Prabowo sudah menjadi Presiden, ada kode dari Anis, atau pada saat berkecamuknya demo.

Jadi, ketika Jokowi gagal ditakuti, Rizieq batal pulang. Namun kalau berani pulang 21 Februari 2018 dan secara jantan mengikuti proses hukum berarti levelnya sudah mulai sedikit mendekati level Ahok. Begitulah kura-kura.








1 COMMENT

  1. “untuk mempersatukan umat, dibuatlah skenario perpecahan alumni 212 yang diganti dengan persaudaraan alumni 212.” wow, cari-cari kreasi mana yang lebih mantap . . . pikir, pikir, . . . kreatif, kreatif.
    Gerakan divide and conquer 411, 212, HTI, Saracen, Teror Thamrin, Alumni 212, semua sudah ditumpas oleh aparat keamanan RI. Kemudian dimunculkan gerakan LGBT dan gerakan siksa Ulama di Jabar. Dua yang terakhir ini juga sudah digagalkan oleh aparat keamanan.

    Rizieq masih bercita-cita tinggi, tetapi apakah penguasa divide and conquer internasional itu masih mau pakai ‘ulama besar’ terjerat porno? Sangat meragukan.

    Kalau dibandingkan dengan Haji Soeharto dipakai untuk menggeser Soekarno pada tahun 1965 lebih masuk akal, dan berhasil juga dia. Mungkinkah ‘imam besar’ Rizieq bisa dipakai menggeser Jokowi seperti Haji Soeharto menggeser Soekarno? Wow . . . ‘besar pasak dari pada tiang’.

    Sekarang era keterbukaan, ayo semua soal taruh diatas meja, bentangkan ke jutaan publik, Indonesia dan dunia. Paparkan diatas meja publik argumentasi ilmiah mengapa Jokowi harus dilengserkan. Dan siapa yang patut menggantikannya, dengan argumentasi ilmiah juga. Kalau dimintakan kepada Tuhan, pastilah Tuhan juga akan lebih memilih argumentasi yang ilmiah, karena Tuhan juga pastilah memikirkan masa depan rakyat negeri ini.

    Ketika Haji Soeharto menyingkirkan Soekarno, tidak boleh ada dua pendapat soal Soekarno atau Soeharto. Pendapat yang bertentangan langsung dihilangkan bersama orangnya malam itu juga. Nah ini semua dizaman KETERTUTUPAN, yang terbuka hanya pedangnya, mulut harus tertutup. Triliunan dolar dari SDA terutama emas Papua Freeport yang dijarahi selama setengah abad lebih, dalam situasi ‘tutup mulut’ dan ‘pedang terbuka’. Sekarang terbalik, mulut terbuka (mulut jutaan publik) dan pedang tertutup. Dan memang tak perlu lagi pakai pedang. Semua soal-soal kemanusiaan taruh saja diatas meja, dan jutaan manusia akan kerja keras, berpikir cari solusi. Bukan dengan demo atau pedang terhunus, tetapi dengan kepala, kepala yang berpikir dan mulut terbuka.

    Tiap solusi diuji diatas meja, diuji didepan jutaan rakyat, jutaan ahli dan jutaan iman besar yang mau mencari jalan keselamatan dan kemajuan bagi semua manusia. Dan dengan cara inilah sekarang ini bisa dicapai apa saja untuk kepentingan dan kemajuan manusia. Dan ini semua sudah mungkin di era KETERBUKAAN, tidak mungkin di era KETERTUTUPAN abad lalu.

    Mari semua publik, semua ahli dalam segala bidang dan semua Ulama dari agama apa saja . . . kedepankan solusimu! Kreasi, kreasi. Buka pikiran dan buka mulut . . . Lupakan pedang terbuka dan demonstrasi. Kedepankan kepala yang berpikir, bukan kepala yang bernuklir seperti Korea Utara.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.