Artis-artis selalu jadi sasaran pebisnis narkoba, karena sumber duit. Banyak sekali yang ‘mati muda’ di negeri lain, juga di Indonesia tentunya. Narkoba adalah salah satu alat penting neolib internasional dalam usahanya mencapai NWO (New Word Order) mendominasi dunia.

Di lingkaran narkoba telah termasuk di dalamnya duit, sex, dan prostitusi.

Narkoba merusak otak manusia, dan gampang dikendalikan. Masyarakat dengan manusianya yang otaknya rusak, itulah tujuan yang diinginkan oleh penyalur narkoba.




Dua alat lainnya ialah korupsi dan terorisme. Yang terakhir ini semakin redup karena negeri fabriknya AS sudah bukan lagi jadi pusat dan sumber terorisme, seperti pada abad lalu ‘terroism made in USA’ (Prof. Chossudovsky). Setelah Trump berkuasa, fabrik teroris pindah dan semakin redup. Tetapi narkoba dan korupsi semakin semarak. Artis-artis yang banyak duit akan selalu jadi sasaran empuk.

Dilema yang dihadapi, kalau dihukum minimum 5 tahun, atau kalau direhab masih ada harapan bebas. Rehab jadi ‘rebutan’ siapa yang dapat? Di Filipina Duterte tidak ada soal ini, presiden Duterte lebih bebas dan lebih tegas tak punya problem rumit soal narkoba. Dia banyak berhasil, atau mungkin satu-satunya negara yang berhasil menangani narkoba.

Kepala BNN Buwas juga tegas menghadapi bisnis narkoba. Makanya juga timbul problem siapa yang ‘pantas’ menggantikan beliau setelah masa pensiunnya datang segera. Kalau lebih ‘lembut’ dari Buwas . . . lebih celaka!









Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.