Jokowi menampar Anies dengan tangan IMF. Semua tahu di tangan Gubernur baru, Tanah Abang sungguh semrawut. Gubernur dan Wagub membanggakan kesemrawutan itu sebagai hasil kerja spektakuler.

Kemarin Presiden mengajak Direktur IMF berkeliling Pasar Tanah Abang. Mungkin Presiden ingin membanggakan hasil kerja Gubernur baru itu ke seluruh dunia. Hasil kerja yang dijalankan dengan teori dan kemampuan ngeles.




Hasilnya, jalan Tanah Abang yang semrawut mendadak bersih. Kaki lima yang tadinya dibiarkan anarkis mengokupasi jalan, dilarang berjualan. Parkir ditertibkan. Jalan-jalan diatur sebagaimana layaknya. Sehari kemarin di Tanah Abang, aturan ditegakkan dengan baik.

Jalan ya, untuk jalan. Kios untuk pedagang berjualan. Trotoar untuk pejalan kaki. Padahal selama ini semua orang disuruh berakrobat di Tanah Abang. Jalan ditutup untuk pedagang. Kios dibiarkan melompong karena pasar pindah ke halaman. Trotoar buat lahan parkir. Dan, pejalan kaki harus mepet di sela-sela kesibukan.

Preman mematok harga jalanan dengan alasan uang keamanan. Sedangkan polisi sendiri kebingungan mau menindak siapa. Wong, semua pelanggaran hukum itu difasilitasi oleh Gubernur.

Tapi, kemarin, Gubernur mendadak tertib aturan. Ketika Presiden bersama Direktur IMF mengunjungi Tanah Abang, semua kesemrawutan dibersihkan. Dia gak mau kalah sama Ahok, yang berhasil mengatur Tanah Abang lebih tertata.

“Emang Ahok aja yang bisa? Gubernur sekarang juga bisa menegakkan aturan di Tanah Abang. Buktinya kemarin, gak ada pedagang kaki lima di jalanan,” begitu alasan pendukung Gubernur.

Kenapa harus menunggu Presiden dan Direktur IMF datang baru Tanah Abang dirapihkan?

“Kalau ada Presiden, Tanah Abang memang dikesankan tetap di bawah kendali Gubernur. Nanti, setelah Presiden selesai kunjungan, kendalinya akan diserahkan lagi pada para preman. Bagi-bagi tugaslah.”

Setidaknya, di mata Direktur IMF kinerja Gubernur Jakarta benar-benar yahud. Saat dia berkunjung, pasar tekstil terbesar di Asia itu diatur sedemikian rupa. Sama persis seperti saat Ahok yang jadi Gubernur DKI Jakarta.

Itulah cara Presiden Jokowi menunjukan prestasi anak buahnya di Tanah Abang kepada dunia. Sehingga Direktur IMF tersenyum lebar ketika membeli daster.

Gubernur DKI memang hebat. Kemampuannya mengatur Tanah Abang hampir setara dengan Ahok. Semua tertib. Semua sesuai aturan. Kemarin, waktu ada Presiden dan Direktur IMF, mana ada kaki lima berdagang di jalanan. Mana ada trotoar dipakai buat parkir.

“Kalau Gubernurnya hebat, pendukungnya pasti hebat juga, dong. Makanya jangan merendahkan FPI dan PKS, mas,” ujar Bambang Kusnadi.

Siapa dulu Gubernurnya?








Leave a Reply