Jauh sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia dideklarasikan, anak-anak muda yang tergabung dalam “The Genk Djong” sudah mendeklarasikan Sumpah Pemuda. Dalam sumpah tersebut tidak disebutkan bahwa Indonesia punya satu agama yaitu Agama Islam.

Bunyi pengakuan atau komitmen “The Genk Djong” adalah kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, Tanah Air Indonesia; berbangsa satu, Bangsa Indonesia; dan berbahasa satu, Bahasa Indonesia.




Jadi, ketika Indonesia diklaim sebagai negara bersertifikat satu agama, maka di sanalah awal dari kerusakan dan kekacauaan berpikir, merusak semua cita-cita dan komitmen anak-anak muda pendiri bangsa Indonesia.

Lalu di mana anak-anak muda sekarang berdiri?

Mereka tersesat dalam tempurung berpikir sempit agama. Paradigma anak muda Zaman Now lebih berorientasi pada illusion after life, sementara kehidupannya penuh dengan lie karena element “F” Freedomnya telah dibajak oleh agama.

Betapa meruginya bangsa ini ketika anak-anak mudanya kehilangan kebebasannya. Mereka ditinggalkan oleh zaman. Perhatikan anak-anak muda yang nongkrong di Silicon Valley, mereka berjibaku dengan penemuan-penemuan baru, aplikasi teknologi terbaru mereka ciptakan. Karena mereka punya kebebasan dalam berpikir.

Dari kebebasan itu lahir beragam produk teknologi yang dibutuhkan oleh manusia. Di sisi lain, anak-anak muda bangsa ini adalah konsumer besar yang menjadi target pasar.

Mereka dengan bangga memamerkan produk teknologi, sementara cara berpikirnya masih terjebak dalam illusi, inilah yang membedakan generasi pemimpi dan generasi mabok agama.

Generasi pemimpi jelas ingin melahirkan masyarakat yang cerdas, sementara generasi mabok agama menggadaikan otaknya dan tidak bisa diajak mikir. Kalau diajak zikir langsung galak.

The Genk Djong, jelas tingkat kecerdasannya lebih tinggi dari pada the genk micin zaman now.

#Itusaja!








Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.