Dalam kamus Bahasa Indonesia disebutkan bahwa Mujahid adalah orang-orang yang berjuang dan membela Islam untuk kebenaran. Kenapa ketika orang-orang yang membela Islam lalu mengalami pergeseran nilai dan menjadi fenomena?

Ini yang sekarang sedang terjadi pada sebagian bangsa ini ketika agama masuk dalam wilayah politik praktis.

Masuk di arena memperebutkan kekuasaan. Eker ekeran mencari pembenaran hanya untuk meraih simpati. Untuk merebut singgasana kekuasaan, bangsa ini harus dipaksa menonton drama serial yang berjudul apapun diperkenankan termasuk agama demi sebuah ambisi.




Lalu, ketika simpatisan sudah terpetakan, dan pendukung sudah dalam genggaman, maka sedikit saja ditiupkan Isu, isu yang orientasinya menyudutkan Jokowi, tanpa dipikir, tanpa disaring, pendukungnya seperti orang kalap yang telah hilang akal sehatnya.

Mulai Pelajar, Dokter, PNS, Guru, Ibu Rumah Tangga, buruh, hingga mahasiswa sudah menjadi korban. Mereka harus berurusan dengan polisi. Harus meringkuk di balik terali besi. Terpaksa meninggalkan orang-orang terkasih karena telah hilang kendali. Hilang akal termakan provokasi dari politisi hitam.

Ketika Polisi semakin aktif melakukan patroli di dunia maya, dan penyebar fitnah, satu per satu ditangkap. Anehnya adalah, mereka menyebutnya bak pahlawan: “SANG MUJAHID.”

Jika Fitnah sudah dianggap pembenaran, jika kebohongan sudah dihalalkan, jika mereka-mereka yang sudah tidak mempunyai moral, tidak lagi beretika sebagai manusia yang tidak berakhlak lalu disebut Mujahid, jelas sangat membahayakan kerukunan berbangsa dan bernegara.

Mujahidin. Akankah nilai itu semakin pudar dengan gemuruhnya isu politik?








Leave a Reply