Menghakimi sebuah “konsep” telah menjadi pekerjaan manusia yang berpikir sejak dulu. Dari situlah peradaban manusia terus tumbuh dan berkembang. Tanpa proses penghakiman, atau kritisisme, species manusia bisa jadi masih nongkrong di goa atau di pohon-pohon bersama species yang sealiran yaitu aliran “Homo”.

Berterima kasihlah pada mereka yang masih bersemangat dalam menghakimi sebuah konsep. Apalagi konsep yang dihakimi terbukti secara ilmiah menistakan akal sehat manusia. Maka, proses penghakiman atas sebuah konsep perlu ditambah dosisnya.

Misalkan ketika saya menghakimi konsep Islam yang klaimnya sebagai ajaran rahmat, sementara faktanya jungkir balik dan terus-terusan menghina si rahmat yang kebetulan bingung lalu murtad by instict.




Kasus macam rahmat yang murtad by instict, sangat banyak saya temui beredar di halaman rumah Facebook saya. Kalau di halaman realitas kehidupan saya agak sulit menemukan murtad by instict — kecuali bertemu dan curhat di tempat. Kalau terang-terangan menyampaikan kemurtadannya bisa dicap antek, turunan, bahkan komunis itu sendiri walaupun tidak ada hubungannya.

Makanya mengapa saya begitu doyan menghakimi konsep yang asal bunyi macam Islam, karena tidak terima ketika rahmat terus-terus dilecehkan, bahkan dihinakan hanya karena dia ingin menjadi manusia apa adanya. Ya, macam kambing yang identitasnya tidak bisa digantikan oleh apapun. Kambing ya kambing, manusia ya manusia. Begitulah kira-kira instict sederhana manusia bernama rahmat yang murtad by instict.

Lalu, bagaimana kesimpulan sederhananya? Konsep wajib dihakimi sampai hari perhitungan suara di akhirat (kalau ada). Sementara manusia tidak bisa dihakimi kecuali dia terbukti melakukan tindak kriminal. Itupun cuman oleh hakim macam justice bow. Kalau hakim yang gampang kena terrors neraka tidak layak menghakimi.

#Itusaja!








Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.