ROBB’SURANT TAMBUN. KABANJAHE — Setelah punahnya tanaman jeruk beberapa tahun lalu, kini, petani pedesaan Suku Karo mengalihkan ladangnya dari bercocoktanam jeruk ke bercocoktanam kopi. Sekarang ini, tanaman kopi telah menjamur di Dataran Tinggi Karo.

Seperti halnya di Desa Bunuraya (Kecamatan Tigapanah), hampir 85% lahan pertanian warga ditanami dengan kopi.

Ada yang menarik dari perjalanan bisnis kopi ini. Di masa-masa awal dulu, ketika panen bukanlah panen besar, bijih kopi biasanya dikupas dengan menggunakan mesin khusus. Setelah itu bijih kopi dicuci dan kemudian dijemur. Semuanya ini dikerjakan sendiri oleh si petani. Sekarang ini beda penanganannya.







Kopi langsung dijual ke agen setelah dipetik dari pohonnya. Tanpa dikupas terlebih dahulu. Cara penanganan panen kopi seperti inilah yang disebut kopi cery.

Seiring dengan peningkatan produksi kopi, maka agen pun semakin menjamur. Tentu hal ini semakin menguntungkan para petani kopi karena harga akan selalu bersaing.

Sebagaimana terlihat di video, para pembeli dan penjual sibuk. Kesibukan seperti ini terjadi setiap sore. Losd yang dulunya dibangun untuk tempat upacara (khususnya perkawinan dan kematian), kini, setiap sore menjadi pasar tempat transaksi petani kopi dengan pembelinya yang akan menjualkannya pula lebih lanjut.

Transaksi jual beli di losd bukan hanya berlaku untuk panen biji kopi. Terjadi juga di sini transaksi hasil panen sayur mayur antara petani setempat dengan agen perdagangan sayur. Juga kebutuhan memasak untuk makan malam tersedia di sini. Selain sayur mayur, warga bisa membeli di sini berbagai jenis ikan, bumbu masakan, dan lain sebagainya untuk kebutuhan masak memasak.

Bila dulunya warga desa harus belanja atau menjualkan hasil panennya ke kota terdekat, kini desa mereka sendiri telah berubah menjadi sebuah tempat pasar.








Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.