Oleh: Loreta Karo Sekali

 
Lyodra Margaretha Ginting membuktikan perkembangan pesat Suku Karo dalam olah suara. Bersama Lyodra, Suku Karo telah berhasil melepaskan diri (walau belum sepenuhnya) dari kepompong introvert yang selama ini mengekang penampilan orang-orang Karo di pentas seni maupun pentas politik.

Sebagai perbandingan, kita melihat bagaimana Juara R. Ginting kewalahan menyutradarai pemusik-pemusik Karo saat tampil di beberapa kota besar Sumut (Medan, Binjai, Berastagi, Siantar) maupun dari desa ke desa di Dataran Tinggi Karo (Munte, Sugihen, Limang, Tanjung Barus), termasuk saat mengarahkan acting maestro musik Karo Alm. Djasa Tarigan di Tongtong Fair, Den Haag.

“Para pemusik tradisional Karo berkelas dunia, bukan saya lebih-lebihkan, tapi mereka umumnya sangat pemalu,” kata Juara mengeluhkan rendahnya kemampuan acting para pemusik Karo.







Lyodra telah mendobrak kebekuan yang sudah lama sejak orang-orang Karo tercampak dari perpolitikan tingkat nasional dan bahkan tingkat provinsi setelah peristiwa 1965. Lebih membanggakan lagi, setelah memenangkan kejuaraan internasional di Sanremo (Italy) Mei tahun lalu dan kemudian mengisi beberapa acara talk show di televisi nasional setelah itu, Lyodra justru berkelana dari desa ke desa di Taneh Karo sebagai bintang tamu. Langsung saja dia mendapat perhatian besar dari warga desa, terutama ibu-ibu dan para remaja (bapak-bapak kampung mungkin lebih mengharapkan bintang tamu yang berpakaian ketat dan bahenol).

Jadi teringat kata-kata Juara R. Ginting betapa bangganya dia karena sanggar asuhannya bersama Ita Apulina Tarigan (yang juga Pemimpin Redaksi SORA SIRULO) ternyata digemari oleh warga pedesaan Karo dan, bahkan, dia sendiri sempat ikut manggung (di Munte dan Sugihen).

“Saya telah menampilkan seni panggung Karo di Hamburg (Jerman) dan beberapa kota di Belanda bahkan di sebuah acara internasional. Orang-orang Barat sudah cukup puas dengan penampilan exotic dari tari dan busana yang kita tampilkan. Tidak berapa sulit menampilkan seni tradisional Karo di Eropah, tapi bagaimana rasanya tampil di desa-desa Karo sendiri? Itu menjadi uji coba bagi diri saya sendiri apakah tampilan seni yang saya rancang dan sutradarai punya rasa Karo atau sekedar gembar gembor,” tutur Juara.

“Saya juga berbahagia sekali mendengar VCD sanggar saya sangat banyak diburu oleh orang-orang tua di pedesaan Karo terutama di daerah Karo Hilir (Kabupaten Deliserdang, red.),” sambung Juara smabil menambahkan informasi itu didapatnya dari produser.




Lalu, dia bercerita bagaimana Alm. Djasa Tarigan bermain kulcapi di ritual-ritual shamanistik Karo (seperti erpangir dan perumah jenujung) dari siang hingga pagi esok harinya mengiringi para shaman Karo (guru) menari sambil kerasukan (seluk).

“Selain sebagai mata pencaharian, saya dapat belajar banyak lagu Karo yang kuno dari ibu-ibu ini,” kata Djasa kepada Juara di suatu pagi buta setelah selesai ritual shamanistik di bilangan Simpang Kuala, Medan (cover buku Prof. Mary M. Steedly berjudul HANGING WITHOUT A ROPE diambil dari tarian seorang shaman dari acara yang diiringi oleh Djasa Tarigan di Medan ini).

Itulah yang saya lihat dari Lyodra melalui penampilan-penampilannya di Youtube. Bermula di pesta tahunan Barung Kersap (Dataran Tinggi Karo) tahun lalu. Di situ, dia masih berpakaian sebagai anak-anak walaupun lagu-lagu yang dia nyanyikan adalah lagu dewasa dengan vokalnya yang bukan anak-anak lagi. Lalu, 24 Pebruari 2018 barusan, dia tampil di sebuah desa Karo Hilir, tepatnya Kecamatan Kuala (Kabupaten Langkat). Di sini, dia sudah berbusana bukan lagi sebagai anak-anak, tapi sebagai perempuan dewasa yang anggun sekali dan jauh dari obral lekuk tubuh.

Baik di Dataran Tinggi Karo (Karo Gugung) maupun di Karo Hilir (Karo Jahe), Lyodra langsung masuk ke hati penonton. Ini tampak sekali dari reaksi para penonton dan mimik wajah mereka. Lyodra mampu mengimprovisasi lagu-lagu pop Karo dengan lengkingan-lengkingannya yang khas. Kemampuan entertainnya yang seolah berjalan secara alamiah dan fostur tubuh serta wajahnya yang menawan menambah daya pikat penampilannya, termasuk sikapnya yang ramah terhadap penonton, pemusik, dan kameramen.

Lagu Ngarap Gestung Api Bas Lau (Mengimpikan Bara Api di [Genangan] Air) yang dia nyanyikan di Karo Hilir memperlihatkan kemajuannya dalam menyanyikan lagu-lagu Karo yang sepertinya selangkah lebih baik sejak penampilannya di Dataran Tinggi Karo.

Akan tetapi, saya sedikit menarik nafas berat ketika dia menyanyikan lagu Ngerana Ateku Kita ciptaan Tata Banata beru Sitepu. Lyodra masih mampu membuat lagu ini enak didengar. Akan tetapi, sayangnya, lagu ini duluan muncul pertama kali dari suara vokalis sekaliber Kano Sembiring. Kano bukan hanya memiliki suara yang bagus dan matang, dia juga mengimprovisasi lagu-lagu Karo yang dinyanyikannya tidak hanya dengan rengget (legato Karo), juga dengan celus-celus (luncuran) yang manis.

Luncuran khas dari Kano Sembiring semakin terlihat di clipnya yang terakhir berjudul Apuli Bandu ciptaan Syamsir Tarigan (sebagian gambar diambil di Eropah saat Kano dan teman-temannya berpesiar ke sini).

Aku dengarkan lagi semua clip lagu-lagu Karo yang dinyanyikan Lyodra dan coba menganalisnya.

Hal pertama yang tidak boleh kita lupakan, kita sedang membandingkan rekaman Lyodra yang live dengan rekaman Kano yang di studio. Tapi, soalnya bukan di dalam ketepatan mengikuti nada ataupun soal ketiadaan fals. Dari segi kualitas menyanyi saya tidak berani membandingkan kedua penyanyi ini. Mungkin kualitas Lyodra jauh lebih tinggi, tapi rasa Karo yang ditampilkan kedua penyanyi di lagu yang satu ini sepertinya jauh lebih terasa di Kano Sembiring, putra Dalen Nggit Pelawi, seorang pejuang Karo yang mencegat konvoi Komisi Tiga Negara (KTN) hanya seorang diri dengan sepucuk pistol.




Sedikit selingan, peristiwa itu kemudian merubah nasib Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sehingga menyadarkan mata dunia bahwa Republik Indonesia masih ada, Soekarno masih punya gerilya, di Dataran Tinggi Karo (demikian dikumandangkan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) dari Bena Meriah (NAD Aceh).

Di lagu-lagu lain yang dinyanyikan oleh Lyodra tidak begitu terasa absennya rasa Karo karena umumnya lagu-lagu itu diciptakan sebagai bagian khasanah lagu-lagu pop Indonesia berbahasa Karo, kecuali di lagu Pinta-pinta karya komponis legendaris Karo Djaga Depari. Lyodra kembali kehilangan rasa karena lagu ini memang diciptakan di masa-masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan.

Pinta-pinta pernah menyebabkan banjir air mata ketika kasetnya diputarkan saat perabuan (kremasi) Alm. Thomas Sinuraya di Belanda yang di tahun-tahun 1980an sempat didengungkan-dengungkan oleh Rosihan Anwar di Harian Kompas sebagai The Last President of PKI karena putra Suku Karo ini mengaku mewakili Partai Komunis Indonesia (PKI) di pertemuan partai-partai komunis sedunia di Berlin. Tapi, saat itu, penyanyinya adalah Juliana Tarigan dengan iringan full musik tradisional karo.

Semua ulasan ini bermaksud untuk memuji adek kami Lyodra Margaretha beru Ginting yang, seperti Djasa Tarigan dan Juara R. Ginting di masanya, berusaha mematangkan diri dengan berani tampil dari kampung ke kampung Karo.

Masa-masa gemilang itu telah menjelang. Suku Karo siap-siaplah menjemput. Orang-orang Karo sangat menyenangimu, Lyodra.







Leave a Reply