JEBTA B. SITEPU. SIBOLGA — Dberlakukannya larangan penggunaan pukat untuk menjaga sumber hayati ekosistem laut berdampak negatif terhadap perekonomian nelayan serta pengolah ikan di kawasan Sibolga dan Tapanuli Tengah (Tapteng). Warga berharap ada solusi yang diberikan kepada mereka sebagai penopang perekonomian. Dalam kunjungannya ke Sibolga, Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Sumatera Utara (Sumut) Sihar Sitorus menyinggahi lokasi pengeringan ikan.

Di tempat tersebut, warga mengeluhkan turunnya pendapatan mereka secara drastis akibat larangan penggunaan pukat.







“Kita berharap agar dibantu, Pak. Kita kesulitan menyekolahkan anak dan memenuhi perekonomian. Karena larangan pukat ini, kita tidak tahu lagi bagaimana memenuhi kebutuhan hidup. Ikan yang kita dapat sedikit. Dampaknya juga sangat luas,” terang warga bernama Nurmadia Pasaribu (55) kepada Sihar Sitorus kemarin [Selasa 6/3] di Sibolga.

Hal serupa juga dikeluhkan oleh Yarti Siregar (65). Menurutnya, larangan tersebut berdampak luas karena umumnya warga menggantungkan kehidupan dari sektor laut dengan penangkapan ikan.

“Kalau tidak ada mata pencaharian kami, bagaimana kami bisa hidup. Hal ini yang harus diatasi. Kalau tidak, kami tidak akan bisa hidup,” jelasnya.

Menurut Sihar, pengembangan laut di kawasan Pantai Barat ke depan akan dilakukan dengan sistematis. Potensi laut sangat besar dan berpeluang menjadi sumber peningkatan kesejahteraan warga.

“Kita datang ke sini kan untuk mendengarkan keluhan mereka. Nantinya akan kita siapkan formula untuk pengembangan sektor kelautan ini dengan baik. Baik dari aspek keberlangsungan alam maupun keberlanjutan kehidupan warga,” katanya.








Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.