Beberapa waktu lalu, sebelum hiruk pikuk Cadar yang dilarang di kampus UIN Kalijaga, Jogjakarta, ada konsumen saya yang berkeluh kesah. Dia bercerita tentang anak bungsunya yang juga kuliah di sebuah PTN kota kami tiba-tiba ssudah mengenakan cadar.

“Sejak anak saya pakai cadar, dengan keterbatasan ekonomi kami, tentu terasa berat. Bayangkan, untuk keseluruhan kostum yang dipakai dan melekat di tubuhnya bisa mencapai Rp. 500 ribu lebih. Jika tidak dituruti, dia akan marah besar. Bahkan mengurung diri di kamar,” itu awal konsumen saya bercerita soal anak gadisnya yang pakai cadar.

Saya terdiam. Berusaha memahami konsumen saya yang mantan sopir dan sekarang kerja serabutan. Tiba-tiba saja saya penasaran kepingin tahu lebih banyak cerita bapak itu.







“Bapak sudah menjelaskan tentang kesulitan keuangan pada anak? Soal keseharian di lingkungan tetangga dan keluarga bagaimana?”

Bapak tersebut menarik nafas dalam-dalam, seakan dadanya begitu sesak dengan keadaan sang anak yang sekarang bercadar.

“Di situlah persoalannya. Saya seperti sudah kehilangan anak yang selama ini kami perjuangkan mati-matian. Nasehat serta saran dari orangtua dan kakak-kakaknya tidak dianggap sama sekali. Bahkan dulu sebelum dia pakai cadar, sering sholat berjamaah bersama kami atau di mushola kompleks. Namun, sekarang, jangankan bergaul, anak saya sudah seperti orang asing. Sedih kami, mas. Kira-kira kalau menurut saran sampeyan kami harus bersikap bagaimana?”




Kulihat ada genangan air mata sesaat setelah bapak tersebut selesai bercerita.

Saya juga larut dalam kesedihannya. Saya bisa membayangkan ketika tiba-tiba salah satu keluarga seperti orang asing. Apalagi orang asing tersebut justru merasa yang paling bener dalam hal beribadah.

“Maaf, Bapak, menurut saya, tentu harus dilihat dari sudut yang positif. Sebaiknya kasih sayang dan perhatian pada anak gadis bapak jangan sampai berkurang. Itulah solusi menurut saya.”

Ketika bapak tersebut mohon pamit, rasanya kepingin segera kutulis, untungnya saya urungkan. Ketika beberapa hari ini heboh soal cadar, saya jadi memaklumi jika Rektor UIN Sunan Kalijaga melarang mahasiswa memakai cadar di lingkungan kampus.




Leave a Reply