Kolom Andi Safiah: MENJAWAB DENGAN MADILOG

0
434

Menjelaskan posisi “politis” dalam sebuah pertengkaran gagasan memang bukan pekerjaan yang mudah. Misalkan ketika saya menulis sebuah argumen dalam bentuk kritik sederhana pada sebuah konsep, dimana konsep tersebut secara tegas mengatakan bahwa “kafir wajib diperangi”, atau “mereka yang tidak tunduk pada ajaran Allah, tempatnya di neraka”.

Kritik tersebut bisa berakhir tragis macam Ahok yang hanya menyampaikan satu baris kalimat sederhana lalu diplintir secara politis. Hasilnya, Ahok salah satu kader terbaik bangsa Indonesia harus berjibaku bahkan pasrah pada nasib, karena alasan memuaskan delusi mayoritas.

Bagi saya pribadi, ini jelas adalah kesalahan fundamental-ketika negara harus berkompromi pada “mayoritanisme” berbasis agama, dimana lebih memilih mengorbankan kebenaran, dari pada berdiri tegak melawan “placebo”.







Karena tugas negara sangat jelas dalam konstitusi yaitu melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia dan itu bukan agama, karena agama tidak punya darah macam warga negara.

Posisi politis inilah yang sering disalahpahami lalu menjadi polemik yang biasanya diarahkan pada polemik delusif macam agama. Bukan polemik rasional sehingga manusia bisa belajar berdialektika di sana.

Saya sendiri sudah sering berhadapan dengan mereka yang lebih mengedepankan ego dari pada pengetahuan positive yang mereka miliki, mereka cenderung sensitive ketika bicara agama, namun Idiot ketika bicara reason.

Bagaimana menjawab problem ini?

Tidak ada jalan lain selain membangun perangkat berpikir yang pernah ditawarkan oleh Tan Malaka, MADILOG.

#Itusaja!








Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.