Ternyata, apa yang menjadi kecemasan saya menjadi kenyataan. Konflik dan pertikaian layaknya Arab Spring terjadi di Bumi kita. Jutaan manusia bermigrasi mencari suaka di negara lain, ribuan orang terapung-apung di perahu hanya untuk menghindari amukan peluru. Anak-anak kecil tak berdosa menangis, mencari keberadaan orangtuanya.

Entah masih ada atau sudah tiada.

Masjid, Gereja, Pura dan situs-situs pra sejarah hancur luluh lantah karena ambisi manusia untuk berkuasa. Tak terdengar lagi suara anak-anak kecil mengaji. Tak terdengar pula suara tawar menawar emak-emak yang berbelanja di pasar. Semua suara itu musnah, digantikan dentuman peluru dan senjata yang terbang di udara..







Mayat bergelimpangan di mana mana. Tak jarang pula ada potongan kepala dari tindakan biadab yang bernama manusia. Gedung-gedung bertingkat, taman bermain, jalan tol, dan infrastruktur lain musnah dihantam dahsyatnya rudal balistik. Tak ada lagi yang bisa dibanggakan, selain dari harga diri saja.

NKRI hancur lebur, Sumatra berdikari. Jawa terpisah menjadi 4 negara. Belum lagi Bali, Papua, Borneo, Ambon dan beberapa wilayah yang ingin memisahkan diri menjadi sebuah negara. NKRI hanya tinggal nama. Ibu Pertiwi tak hanya menangis, melainkan sudah tiada bernyawa.

Kapal induk negara asing sudah berbulan-bulan merapat di dermaga. Ada yang di Surabaya, Semarang dan di Jakarta. Datangnya mereka katanya hanya untuk satu alasan, yakni “menjaga perdamaian dunia”.

Padahal kehadiran mereka hanya untuk memperkeruh suasana. Sambil diam-diam menyuplai senjata untuk kelompok yang didukungnya. Surga minyak bumi, pertambangan, uranium dan kekayaan alam lainya menjadi rebutan negara-negara adidaya berkedok menyelamatkan Indonesia.

Anak kecil menjadi yatim, perempuan banyak yang kehilangan suaminya, karena konflik peperangan yang tak kunjung mereda. Agama dijadikan pembenaran untuk membunuh sesama manusia, bahkan yang sama agamanya tapi berbeda pemahaman pun tak luput dari incaran pembantaian mereka.

Hanya penyesalan mendalam kenapa dulu kita mau diadu domba. Yang hancur negara kita, tetapi yang menikmati hasil konflik adalah negara-negara adikuasa. Kita hanya mewariskan kehancuran sebuah bangsa kepada anak cucu dan generasi penerus bangsa. Akhirnya, nama Indonesia itu hanyalah sebuah kenangan indah yang tak pernah dirasa.

Akhirnya, byuurrrr (istriku menyiramiku dengan air).




“Pakne, ayo tangi. Bangun …. bangun …. Jembleme kae loh ndang dijual.”

“Loh, Alhamdulillah bune sampean masih ada.” (Sambil kupeluk erat-erat istriku).

“Lepas, pakne, malah koyok sinetron wae, lho.”

“Oraa, bune. Aku seneng ternyata aku hanya mimpi kalau Indonesia ini perang saudara. Wes tak budal dodol yo bune.”

“Lhadalah, dodol yo dodol, pakne. Tapi yo gawe celono disek, mosok dodolan arep semvakan tok to pakne?”

Salam Jemblem.









Leave a Reply