Sejarah PKI dan tersungkurnya Bung Karno dari kursi kepresidenan masih menjadi polemik. Namun, manusia waras mengetahui detik-detik hingga Bung Karno wafat, beliau mengalami karantina. Beliau diasingkan di negrinya sendiri. Negeri yang diperjuangkan mati-matian olehnya hingga harus keluar masuk penjara.

Menurut cerita, saat itu untuk membuat isu cukup mudah. Gampang. Tinggal datang di warung kopi sebagaimana kebiasaan masyarakat Indonesia yang suka bersosialisasi, lalu bikin Isu. Yakinkan orang-orang yang ada di warung kopi. Dijamin ces pleng. Dijamin isu akan ditelan bulat-bulat meski tahi kambing tidak rasa cokelat.







Dan memang, tragedi PKI telah menjadi sejarah kelam dari bangsa ini. Ratusan ribu manusia telah tewas. Soekarno yang dituduh ikut terlibat harus diusir dari Istana hanya dalam tempo 2 kali 24 jam. Masuk akalkah Seokarno yang saat itu Presiden dituduh terlibat PKI yang mau mengkudeta pemerintahan yang sah?

Di Tahun 1965 masyarakat begitu mudah terprovokasi karena saat itu media elektronik hanya Radio. Itupun satu desa yang mempunyai satu dua orang, untuk mengkross cek kebenaran berita jelas tidak mungkin. Media sosial? Saat itu koran belum menyentuh di pelosok kampung. Lha, wong masih banyak yang buta huruf. Gak percaya? Tanya saja orang tua-tua dulu.

Yang jelas, dengan kecamuk yang terjadi saat itu, lalu tampil seorang Soeharto yang berkuasa menggantikan Soekarno hanya dengan selembar surat yang bernama Supersemar.

Jika sekarang ada orang-orang yang akan mengkondisikan indonesia seperti halnya tahun 1965, termasuk Mbah Kivlan dan Mbah Amin, apakah lalu akan dipercaya? Jika menurut survey hanya Gerindra dan PKS yang percaya kebangkitan PKI, jadinya gampang ditebak, mereka ingin “merebut” kekuasaan seperti halnya Soeharto.

Ini zaman milenial, Mbah Kivlan. Orang-orang tidak segoblog zaman dulu.









Leave a Reply