Ketika seseorang pernah mengajukan diri ikut konvensi Calon Presiden, tentu bisa disimpulkan orang tersebut setidaknya punya ambisi. Ambisi yang tidak lumrah, melainkan bukan main-main, jadi presiden. Demikian juga dengan seorang Anies. Beliau pernah ikut dalam konvensi Partai Demokrat meski elektabilitasnya kalah dengan Pak Dahlan Iskan.

Ketika beliau terpilih di DKI 1, beliau berusaha mendongkrak dirinya sendiri dengan melawan arus menjegal kebijakan Ahok. Semua yang sudah dilakukan Ahok dirombak, seakan memberi kesan bahwa apa yang sudah dilakukan Ahok salah gadang. Alias salah besar.







Bukan itu saja, penggunaan istilah juga dipelintir. Dan, sepertinya sudah semayanan. Sudah sepakat dengan Wagavener, istilah gusur diganti geser. Rumah susun diganti rumah lapis (emang kue lapis?). Apapun yang sudah ditata Ahok dirontokkan. Dirombak total.

Apakah dengan kebijakan tersebut elektabilitas Anies membubung bagaikan debu Gunung Sinabung? Faktanya kebijakan yang ditempuh malah kontroversi. Blunder. OK Ocret seperti rentenir. Rumah DP 0 persen masih bermasalah.

Ketika DPD DKI mendeklarasikan Prabowo kembali, wajar jika Anies sepertinya ogah datang. Dengan dalih terlambat, bisa diasumsikan Anies sepertinya sangat kuciwaaa sekali.

Entah jadi apa DKI ke depan. Apalagi jika Prabowo kalah maning kalah maning, sepertinya bisa diprediksikan DKI akan dibikin perkedel dicampur aroma pecel rasa kadal gurun.

Akankah DPRD membuat mosi tidak percaya pasca kekalahan Prabowo di Pilpres 2019? Jika suara PKS dan Gerinda terpuruk di 2019, mimpi Anies akan kandas di rerumputan.

“Masak akan bernasib tragis kena pecat lagi, Mas?”

Bisa jadi.








Leave a Reply