Saat itu, saya mampir di sebuah restoran organik untuk take away. Di sana tak seberapa ramai, mungkin karena memang segmented. Ternyata di dalam juga ada gerai produk-produk herbal.

Saya baru tahu sang pemilik adalah seorang dokter. Ia turut langsung melayani, hingga ke kasir.

Namun, saya kemudian terkejut, karena beliau mengatakan dengan bangga ‘sudah tobat’ jadi dokter. Dari kerudung jubah panjang yang ia kenakan saya dapat menerka mengapa diksi ‘tobat’ dipilihnya.

Terkejutnya saya karena ini paradox. Terlebih ketika di mana-mana banyak anak bercita-cita ingin jadi dokter. Dalam pandangan umum, dokter adalah profesi hebat dan terhormat, yang paling dinanti nasehatnya selain guru dan orangtua. Untuk menjadi dokter pun berat, perlu kecerdasan, ketekunan, juga biaya tinggi sangat.




Saya belum mengerti mengapa seorang dokter bisa split tentang prinsip obat Timur dan Barat.

Di saat bersamaan, pengalaman saya intens mendampingi keluarga bolak balik ke beberapa RS ternama semakin terkesan dengan perkembangan teknologi pengobatan. Mulai tentang Gamma Knife, sampai Awake Craniotomy. Herbal dan pengobatan tradisional mungkin bisa bekerja pada kondisi ringan dan prefentif. Tapi, untuk penyembuhan sakit serius, apakah pasien dan dokter masih sempat pilah-pilah obat Timur atau Barat?

Setahu saya cacing, babi dan bangkai saja bisa halal jika dalam kondisi darurat.









Leave a Reply