Miris, sedih, marah dan kasihan bercampur aduk menjadi satu ketika tiap hari nyaris dari pihak kepolisian menangkap mereka-mereka yang telah melanggar hukum dengan melakukan fitnah, hoax dan ujaran kebencian.

Siapa yang tidak marah ketika tiba-tiba ada isu yang meresahkan?

Lalu, ketika dalam satu dua bulan saja polisi menangkap puluhan orang, tentu kita semua miris. Celakanya yang ditangkap tersebut adalah rakyat biasa yang hanya terprovokasi oleh politikus serta orang-orang yang mengaku tokoh agama. Rakyat yang dibutakan hati dan pikirannya. Dan, ketika tertangkap, tokoh politik justru semakin masif membuat provokasi.







Ada beberapa fakta sehingga Hoax dan fitnah muncul di Pilkada dan Pilpres.

Konstelasi Pilkada dan Pilpres dianggap lagi “Berperang”. Tentu kita semua masih ingat saat Pilkada DKI, bagaimana ketika seorang Pak Amien mengasumsikan bahwa Pilkada DKI adalah perang badar. Pilkada atau Pilpres yang mestinya untuk ajang berkompetisi mencari pemimpin terbaik demi kemaslahatan, demi kesejahteraan rakyat, orientasinya sudah bukan untuk mencari pemimpin yang berkwalitas, namun orientasinya untuk mengalahkan. Meski dengan cara apa saja.

Menganalogikan kontestasi Pilkada atau Pilpres dengan perang, maka membuat pengikutnya lupa diri. Apalagi jika dikatakan “Berjihad”, umat mereka hilang akal dan terhipnotis.

Ini terbukti, orang-orang yang ditangkap karena fitnah, hoax dan menyebarkan ujaran kebencian mendapat gelar terhormat “SANG MUJAHID, sang pembela agama, sang pembela kebenaran. Miris, bukan?

Hoax dan Fitnah karena kebencian dan untuk cari makan.

Kenapa hal itu terjadi? Karena moralitas dan rendahnya SDM. Ini telah terbukti bahwa Pembenci Jokowi, yang notabene pendukung sono, telah lupa dengan nilai moral. Yang meski mengaku sok beragama.

Fakta yang tidak terbantahkan!

VIDEO: Penampilan Sanggar Seni Sirulo rancangan Juara R. Ginting yang mengolah  Anceng Cian Cekurak (ACC) menjadi sebuah energi seni pertunjukan yang mendekatkan warga dengan the socio-cosmic order.








Leave a Reply