Yang remang-remang sedang bergentayangan, menebar aura malam dan kegelapan. Siap menggulung cahaya terang yang menjemukan dan membosankan. Langit biru nan cerah kurang gelap, kurang bernafsu, tidak berdarah dan tak menggairahkan. Kesurupan dengan degup jantungnya yang kembang kempis layaknya kuda-kuda yang saling berkejaran susul-menyusul, segera mengambil alih kesadaran yang pecah, retak, penakut, tidak berani berpetualang, menjelajah ceruk-ceruk alam semesta terjauh dan menantang. Kegilaan sedang menjadi semangat zaman, perlu dirayakan dan disambut dengan riang.

Dengan ini, kami persembahkan pada teman-teman, ideologi puisi kesurupan yang digali dari hasrat dan insting kegilaan. Ideologi puisi yang meledakkan emosi dan kemarahan, membongkar sumbatan-sumbatan beban pikiran, sehingga terasa bebas seperti terbang melayang.

Ideologi puisi yang menyuarakan hasrat tertekan dan gairah terlarang. Juga melepaskan roh singa yang selama ini dikurung dan dikekang oleh jeruji besi moralitas dan agama, agar ia mengaum merobek-robek topeng kemunafikan sehingga dengan begitu kita menjadi manusia yang terbebaskan.




Puisi kesurupan memandang kesadaran sebagai dunia yang tak berani menampilkan diri yang sebenarnya. Berkedok, bertopeng dan bersembunyi dari keaslian dan keotentikan. Ia hanya lapisan tipis yang menyamarkan dan memanipulasi kenyataan. Di balik kesadaran yang sering berwarna cerah dan terang, tersembunyi watak gelap dan remang-remang, nafsu dan gairah yang tertekan, inilah kawasan ketidaksadaran atau alam bawah sadar. Falsafah kesadaran terlalu takut dengan naluri dan insting, malah berusaha menyangkalnya sebagai liyan yang menyeramkan.

Perlu diketahui, kesadaran tidak akan hidup tanpa tenaga yang diperoleh dari insting dan naluri alam bawah sadar. Namun, pertumbuhan kesadaran justeru berkembang dengan menegasikan naluri ketidaksadaran. Falsafah Descartes yang memenangkan kesadaran sebagai ciri khas manusia dalam mengada, akhirnya digoyang oleh Tiga Guru Pencuriga (Marx, Nietzsche dan Freud), di mana dua yang terakhir menganggap kesadaran sebagai pinggiran, bukan tuan rumah ataupun pengendali dan bukan lagi pusat dalam diri manusia.

Adalah menyesatkan ketika ada suara yang merayakan kemenangan nalar dan kesadaran atas naluri dan insting alam bawah sadar. Justeru kesadaran selalu digerogoti dan tersedot oleh hisapan lubang hitam alam bawah sadar. Maka jadilah kesadaran sebagai sesuatu yang retak, pecah dan tidak pernah mencapai status otonom dan independen. Bagaimana sesuatu yang lahir dari inangnya kemudian ingin hidup lepas dengan menafikan asal-usulnya sendiri? Kalau kesadaran berusaha lepas dari asal-usulnya, tentu ia akan membunuh kehidupannya sendiri, atau menjadi subyek yang terasing dan tak bersarang.

Puisi kesurupan menempatkan Nietzsche sebagai Guru Agung yang telah meletakkan pondasi dan fundamen, bahwa kesadaran, harmoni, keteraturan dan cahaya terang yang disimbolkan dengan Apollo kini tidak lagi menarik dan menghambat insting, hasrat dan kehendak manusia. Ide-ide moral yang bersifat terang dan bercahaya tapi kaku selalu menuntut manusia untuk bernafas di luar habitat kenyataan, menekan hasrat dan gairah hidupnya yang gelap dan remang-remang.

Kita pun menjadi tahanan moral, pesakitan dan tidak siap tumbuh dewasa. Jalan hidup yang menolak dan mengabaikan kenyataan membuat manusia kerdil dan tak berwawasan. Perkembangan rohaniah dan kepribadian kita pun terhambat, karena kehendak dan elan vital ditekan, dikekang dan disudutkan ke dalam lumbung alam bawah sadar, kanal dan gudang bagi segala yang tersingkirkan. Oleh karena itu, sebagai lawan Apollonian, semangat Dionysosian berusaha mengekspresikan kembali apa-apa yang dulu direpresi oleh ide moral, nalar, kesadaran dan keteraturan.

Dionysos melambangkan kegelapan, gairah, hasrat, insting, amarah, daya hidup, kesurupan dan kegilaan yang selama ini membisul dalam relung-relung gelap alam bawah sadar untuk bisa diangkat kembali ke permukaan layaknya gunung yang memuntahkan lava dan pijar api yang membuatnya berat dan terbebani. Dengan melepaskan beban tersebut manusia menjadi bebas, ringan dan terekspresikan, kepribadian kita pun siap mekar dan mengembang. Manusia menemukan dirinya kembali setelah lama menghilang.




Nietzsche adalah filsuf pertama yang menggali dunia alam bawah sadar sebagai gudang endapan yang tertekan dan terkekang. Kemudian Freud mengonseptualisasikannya dan berhasil memformulasikan wilayah yang pernah dijelajahi dengan berani oleh Nietzsche dalam sebuah sistem terpadu yang kini banyak diketahui orang, yaitu Psikoanalisa. Alam bawah sadar merupakan residu yang menyuarakan sesuatu yang purba, primitif dan asli. Kedirian manusia yang terdalam ada pada dunia alam bawah sadar. Menyelami alam bawah sadar yang gelap dan remang-remang akan membantu kita mengenal diri sendiri dan menyadari potensi-potensi alamiah kita yang terpendam sehingga bisa teraktualisasikan dalam kenyataan dunia.

Membuka gembok pagar lumbung alam bawah sadar akan mengantar kita untuk menemukan kecakapan-kecakapan orisinil dan wawasan kreatif yang dengan itu membawa kita berusaha menuju pada puncak perkembangan rohaniah dan kepribadian. Manusia yang mampu melihat tidak hanya cahaya terang tapi juga kenyataan pahit, kegelapan dan kegilaan dalam dirinya tentu menjadikan ia lebih meresapi dan memahami kemanusiaan seutuhnya. Manusia mengada tidak hanya dengan cahaya kosmos, kesadaran dan keteraturan tapi juga ditentukan oleh sesuatu yang mengandung chaos, ketidakpastian dan kegelapan.

Manusia sering menjadi tahanan moral, karena ia dikungkung dan dituntut oleh ideal-ideal yang membebani dan memenjarakan instingnya, sehingga hidup terasa kaku, kering dan membosankan. Daya cipta dan kreatifitas dimandulkan oleh ide-ide moral yang tidak ramah dengan kenyataan dan peradaban. Ide-ide moral bersembunyi di balik cahaya terang, yang dengan mudahnya di hadapan persepsi kita, memanipulasi dan mengaburkan realitas dari kehidupannya yang asli.

Modernitas ditandai dengan kejenuhan, kepenatan dan pikiran centang perenang, karena hasrat hidup ditekan oleh ideal-ideal yang membumbung tinggi di luar jangkauan kenyataan. Moralitas melarang kita untuk hidup dengan insting dan kehendak, karena keduanya dianggap manifestasi iblis yang terkutuk dan pendosa. Jadilah manusia pesakitan moral, karena mengada dengan gairah dan nafsu itu dosa dan terlarang. Oleh karena itu, mengubah pandangan bahwa naluri dan insting itu jelmaan iblis menjadi sesuatu yang alamiah dan tuntutan hidup yang wajar merupakan pembebasan manusia dari penjara moral yang picik dan dangkal.

Puisi kesurupan justeru menempatkan sang iblis sebagai pahlawan hidup, berbeda dengan kepercayaan dalam agama yang menganggap bahwa iblis itu jahat dan dosa. Salah satu mitos terbesar yang berhasil diciptakan oleh agama adalah menyembunyikan asal-usul sang iblis yang pemberani, pembangkang dan pemberontak. Iblis yang awalnya anti-kemapanan dan rajin bertanya dari mana datangnya kebenaran, diplesetkan menjadi makhluk kotor dan pendosa. Para nabi berhasil membuat stereotype atau pelabelan bahwa para iblis yang mulanya luhur dan alamiah menjadi musuh abadi manusia karena para nabi khawatir oleh potensi pemberontakan naluri iblis yang bisa mengancam tatanan tertib dan status quo agama-agama para nabi.




Maka usaha menyentuhkan jiwa manusia pada naluri dan insting hidup adalah sebuah gerakan pemberontakan dan perlawanan atas nilai-nilai yang berlaku dalam tatanan masyarakat. Ini bisa dimulai dengan mengembalikan kehormatan sang iblis, dari label agama yang menganggapnya jahat, pendosa dan musuh abadi manusia menuju asal-usulnya yang sejati, yaitu nenek moyang revolusi dan motor transformatif atas nilai-nilai yang mendasari masyarakat.

Masyarakat yang cenderung pasif dan diam, pasrah pada nasib dan menurut begitu saja pada pemimpin mereka yang sebenarnya otoritarian, adalah ladang yang subur bagi bersemainya naluri dan insting perlawanan. Menyentuhkan api iblis kepada mereka harus dimulai dengan membangkitkan kemarahan dan emosi, bahwa selama ini kita terlalu lembut dan baik hati. Bahwa moralitas budak, yang memiliki ciri-ciri; diam, lembut, sopan, pemalu, tahan atas rasa sakit, penakut dan menjadi tahanan moral sudah saatnya diakhiri.

Mari kita sentuhkan jiwa ini pada api emosi, kemarahan, keberanian dan kebencian pada apa-apa yang menghalangi aktualisasi naluri dan insting kita yang luhur. Meresapi roh iblis api berarti menjadi pemberontak yang tak mau dipecundangi dan dibohongi oleh nilai-nilai moral dekaden yang ditebarkan penguasa pada rakyat kecil yang cenderung bodoh dan mudah dimanipulasi. Agama para iblis inilah yang ditakuti para nabi, karena berpotensi melawan tabu dan norma yang melindungi kemapanan agama-agama suci. Maka, untuk memandulkan perubahan dan revolusi, para nabi melabeli iblis sebagai musuh tuhan dan manusia, meskipun pada mulanya para iblis api ini merupakan simbol insting dan naluri pemberontak yang inhern dalam diri manusia yang dapat memicu perubahan dan membahayakan status quo agama-agama para nabi.

Puisi kesurupan belajar dari dunia perdukunan dan syair magis dalam epistemologi kaum primitif. Orang-orang kuno zaman dahulu meyakini puisi tercipta dari intuisi gaib dan dunia jin, di mana mereka bisa mengucapkan perkataan yang menggetarkan dan menakjubkan karena dipengaruhi dan dirasuki oleh roh-roh dan jin-jin. Orang yang mahir bersyair biasanya memiliki cara-cara khusus untuk berhubungan dengan dunia gaib dan roh, hubungan antara makhluk gaib dan manusia terjadi dalam keadaan kesurupan atau kerasukan.

Pada saat ia berhubungan dan dirasuki roh-roh dan jin-jin, lidahnya menjadi alat bagi makhluk gaib untuk mengekspresikan diri, dan pada saat itu ia tidak memiliki kesadaran sehingga disebut gila, karena merasa dikontrol oleh kekuatan-kekuatan cenayang yang tak nampak, lagi misterius dan metafisik. Oleh karena itu, awalnya puisi itu bersifat magis, berhubungan dengan dunia gaib, kesurupan dan mengandung kegilaan.




Epistemologi syair ini merefleksikan ketidakmampuan orang-orang primitif dalam menjelaskan gejala-gejala psikis alam bawah sadar yang menenggelamkan kesadaran mereka ketika bersyair, sehingga nampak secara sekilas mereka itu kesurupan dan mengalami kegilaan. Roh-roh dan jin-jin yang merasuki jiwa para penyair kuno ini sebenarnya adalah kepribadian alter ego yang bersumber dalam dinamika alam bawah sadar yang kemudian mereka proyeksikan ke dunia luar dan diberi atribut personal.

Dalam kesurupan, sama sekali tidak ada roh atau makhluk gaib yang merasuki tubuh dan pikiran kita, karena yang menyebabkan kita kesurupan sebenarnya adalah serangan dinamika alam bawah sadar yang mampu menenggelamkan kesadaran kita. Roh-roh dan makhluk gaib sekedar hasil kekacauan berpikir, igauan dan penyakit bahasa manusia primitif yang belum mampu memahami dinamika alam bawah sadar yang terkesan asing, aneh dan misterius.

Maka sesuai dengan Teori Animisme E.B. Tylor dan Proyeksi Ludwig Feuerbach, bahwa roh-roh dan jin-jin yang menjadi sumber inspirasi para penyair primitif tidak lain adalah kepribadian-kepribadian yang ada dalam endapan alam bawah sadar yang kemudian diproyeksikan ke dunia luar dan diberi atribut personal sesuai dengan kualitas kemanusiaan kita. Roh, jin, setan, malaikat, dewa-dewa bahkan Tuhan bermula dari kekuatan-kekuatan alam bawah sadar manusia yang terasa aneh, asing dan susah untuk dijelaskan kemudian diproyeksikan ke dunia luar dan diberi atribut personal sesuai dengan kedirian dan kepribadian manusia.

Pengetahuan kita yang baik tentang kesurupan dan dinamika alam bawah sadar akan mengantarkan kita menuju pemahaman yang memadai tentang Tuhan dan makhluk-makhluk gaib lainnya. Oleh karena itu, fenomena makhluk gaib dapat ditelusuri pada impuls alam bawah sadar yang menguasai dan mengendalikan psikis kita, seolah-olah ada kekuatan eksternal yang asing dan misterius, kemudian karena bingung dan tidak dapat memahami apa yang sedang terjadi, impuls yang janggal tersebut diproyeksikan atau dieksternalisasikan ke dunia luar dan diberi atribut personal sesuai dengan kedirian dan kepribadian manusia, yang akhirnya diinternalisir kembali sebagai wujud personal yang objektif di dunia manusia, padahal wujud tersebut sekedar hasil citraan imajiner pikiran bawah sadar kita sendiri.

Bukankah Tuhan yang maha penyayang, pemurah, pengasih, maha mengetahui, maha mendengar, itu merupakan kualitas-kualitas yang ada pada diri manusia kemudian ditinggikan hingga melampaui kenyataan? Maha mengetahui dan maha mendengar adalah contoh penyakit bahasa yang ditinggikan, saudara dekat delusi dan halusinasi. Oleh karena itu, tidak salah apabila ada manusia yang meyakini bahwa tuhan dan makhluk-makhluk gaib lainnya merupakan produk kekacauan berpikir dalam kesurupan.




Apa yang kami ambil dari khasanah puisi primitif salah satunya, yaitu mengekspresikan kepribadian-kepribadian gelap dalam alam bawah sadar yang tidak akan muncul tanpa meresapi jiwa kerasukan dan kesurupan. Kepribadian gelap ini seperti insting, gairah, emosi, kemarahan, daya hidup, hasrat, agresifitas dan pemberontakan. Jenis-jenis kepribadian tersebut dalam jiwa masyarakat sering ditekan dan dikekang oleh norma dan moralitas. Membebaskan naluri-naluri terlarang adalah salah satu tujuan dari ideologi puisi kesurupan.

Maka, usaha pembebasan naluri dan insting yang ditabukan ini menjadi sebuah perlawanan terhadap hati nurani kolektif yang telah membekukan dan menjumudkan pikiran alam bawah sadar manusia yang kreatif dan dinamis. Dalam sebuah tatanan masyarakat yang dingin dan dikuasai oleh tabu dan status quo, pelepasan sesuatu yang tertekan dan terkekang merupakan jenis pembaruan kembali nilai-nilai yang sudah usang dan berkarat dirayapi tantangan zaman. Yaitu, gerak peralihan dari suatu moralitas budak yang memenjarakan watak alamiah manusia menuju kecenderungan moralitas tuan yang bebas dan merdeka. Begitulah kiranya ujaran salah satu Guru Pencuriga, Si Gila Nietzsche.

Di sisi lain, membebaskan yang tertekan dan yang terkekang adalah upaya terapi katarsis untuk memurnikan jiwa manusia yang dipenuhi beban-beban mental dan bisul-bisul naluri. Beban-beban mental ini bisa dimuntahkan dan dilepaskan melalui ekspresi puisi kesurupan, maka jiwa dan perasaan kita pun jadi lega dan ringan. Puisi kesurupan membantu manusia menyehatkan mentalnya kembali dari insting dan daya hidup yang tertekan.

Oleh karena itu, ideologi puisi kesurupan juga bagian dari psikoterapi terhadap jiwa masyarakat yang dibebani norma-norma dan moralitas memaksa, di mana daya hidup dan insting yang seharusnya mendapatkan pemuasan atas hak-haknya menjadi terepresi dan tentunya akan menghasilkan sakit jiwa massal atau masyarakat yang patologis. Maka, puisi kesurupan yang terkesan gelap dan remang-remang sebenarnya merupakan sebuah afirmasi atas insting dan naluri yang layak dipenuhi hak-haknya dan bagian dari tahapan perkembangan rohaniah kita menuju pembentukan manusia yang sebenarnya, bukan manusia setengah malaikat atau setengah ilahiah tapi manusia seutuhnya.

Aku yang retak, kesadaran yang pecah dan subyek centang perenang merupakan identitas puisi kesurupan. Puisi ini lebih banyak menyuarakan kepribadian terasing, sesuatu yang bergentayangan dan menghantui subyek kesadaran. Tentu manisfesto puisi kesurupan berada dalam wilayah wacana posmodern yang berusaha mendesentralisasi subyek yang sadar dan cahaya terang rasionalitas. Oleh karena itu, puisi kesurupan melambangkan diri dengan hal yang gelap dan remang remang, kehendak, hasrat dan pikiran cenayang.

Mengekspresikan dan menjadi lidah wicara bagi naluri, gairah dan insting hidup yang tertekan adalah kredo puisi kami, puisi kesurupan. Yang berbicara bukanlah aku yang sadar, tapi aku aku yang bersembunyi dan bergentayangan dalam diriku. Aku bukanlah diriku, karena ada aku aku yang lain dalam alam bawah sadarku.






Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.