Pemilu dari tahun ke tahun kwalitasnya tidak semakin membaik. Justru roda dinamika sejarah berputar di tempat yang sama. Pemain saja yang berubah, gaya permainan tidak ada yang berubah secara signifikan.


Jualan surga dan neraka masih menjadi alat kampanye effektif. Mereka yang menentang agama ikut campur dalam negara dipersekusi. Bahkan banyak yang menjadi korban keganasan otak yang membeku dalam waktu.

Jumlah Parpol yang terbilang banyak tidak menjamin berkwalitasnya sebuah perhelatan demokrasi lewat Pemilu. Padahal, kita semua sadar bahwa pintu masuk dari gagasan-gagasan revolusioner adalah lewat Pemilu.

Kelompok-kelompok progresif yang telah menjadi partai peserta Pemilu perlu memikirkan kembali jargon-jargon besarnya. Salah satu Parpol yang jargonnya besar adalah Partai Nasdem dengan restorasinya, PSI dengan solidaritasnya, PDIP dengan jargon wong ciliknya, dan lain-lain.

Ternyata hanya mentok di ruang hampa jargon. Prakteknya jungkir balik.

#Itusaja!







Leave a Reply