Jika dilihat dari sumber daya alamnya, Indonesia tidak layak dikategorikan sebagai negara miskin dari sudut manapun. Yang layak dikategorikan miskin adalah Sumber Daya Manusianya dimana, seorang yang gelarnya berbaris seperti gerbong kereta api sekalipun, masih tampil dengan cara miskin.

Mentalitaslah yang benar-benar miskin di negara ini. Makanya jargon Jokowi saat kampanye selain menawarkan konsep “Nawacita” dia juga menawarkan konsep “Revolusi Mental”.




Saya kira alasan di balik Revolusi Mental cukup jelas. Bahwa yang bermasalah adalah mental manusia Indonesia. Cuman saja, Jokowi dan teamnya juga mungkin sadar bahwa, merubah mental manusia Indonesia dari masyarakat religi menjadi masyarakat rasional, butuh pendekatan yang tidak mudah.

Alasannya juga cukup jelas. Agama sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara yang secara jelas tertulis dalam UUD 45 memang memiliki tujuan melahirkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bukan melahirkan manusia yang berilmu dan berakal. Jika manusianya berilmu dan berakal, maka alamat agama akan tidak dilirik. Orang-orang yang berilmu dan berakal menyadari bahwa agama sangat tidak berguna dalam mengelola berbagai sumber energi sebuah bangsa, baik SDA maupun SDM.

Jelas bahwa kemiskinan mental yang terjadi di Republik ini karena porsi ilusi agama lebih besar dari pada realitas. Itu bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan, bahwa persoalan sebuah bangsa jelas rasional. Salah satu yang perlu dirasionalisasikan adalah bagaimana Hak dan Kewajiban warga negara bisa terpenuhi.

Siapa yang bertanggungjawab untuk memenuhi Hak dan Kewajiban warga negara, dia adalah perangkat negara yang biasa kita sebut aparatus negara.

Warga negara yang sadar jelas akan membayar pajak untuk tujuan-tujuan yang diketahui secara umum, misalkan pajak digunakan untuk memperbaiki-atau melahirkan sarana dan prasarana publik mulai dari transportasi, pendidikan, kesehatan, serta fasilitas publik lainnya. Ini sudah menjadi tugas umum dari penyelenggaran negara yang dipilih oleh rakyat lewat mekanisme Pemilu terbuka.

Kesimpulan saya sederhana, selama mental bangsa ini masih lebih banyak porsi ilusi dari pada rasionya, maka selama itu pula kita akan menjadi bangsa yang miskin secara mental.

#Itusaja!








Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.