“Shalom, Mas Ganggas. Mudah marah adalah perilaku orang-orang dungu. Orang-orang yangg kurang kerjaan. Kami diajarkan untuk selalu mengedepankan Kasih. Jika ada sobekan Alkitab untuk bungkus tempe, kami masih bersyukur. Jika ada yang merusak dan melecehkan patung Yesus, wong ya itu patung. Semua kami serahkan pada Tuhan.”

“Hmmmmmmm ….” saya mengangguk-angguk.







Suatu Ketika jumpa dengan sahabat yang beragama Hindu.

“Saya pernah membaca kabar, ada seseorang yang melecehkan patung yang menjadi simbol di agama anda. Bagaimana menurut anda? Apa gak marah?”

“Om swatyastu …. tidak perlu ada yang di marah, Mas. Perbuatan seseorang adalah darmanya sendiri. Suatu hal yang sia-sia jika kami menanggapi hal yang remeh seperti itu.”




“Remeh?”

” Iya, sangat remeh.”

“Hmmm ….” saya mengangguk-angguk.

Suatu ketika saya jumpa dengan sahabat-sahabat yang beragama Budha, Kong Hu Chu dan Penghayat Kepercayaan. Semua menjawab “sareh”. Menjawab dengan tenang. Tidak ada kemarahan. Tidak ada urat leher yang menonjol. Tidak ada mata melotot.

Dan saya sampai sekarang tidak pernah menanyakan hal tersebut di atas kepada saudaraku yang satu muslim. Kenapa?

Susah dijelaskan. Cari perkara.

HEADER: Wartawan Sora Sirulo (Siska Veronika Tarigan) berpose di sebuah batu besar di sungai menuju Gua Katak (Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat).




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.