Orang-orang Karo berjalan beriringan dalam kelompok-kelompok kecil. Wanita-wanita yang sudah kawin berjalan dengan dada terbuka (tampak buah dada, red.). Anak-anak mereka digendong dalam kain panjang terikat di punggung mereka.

Indah tampaknya sikap mereka yang tegap lurus: Garis punggung dan leher serta kepala yang bangga, mantap tegak mengenakan hias kepala dari kain dilipat menonjol lebar.

Dan barangkali yang paling aneh adalah warna merah, yang disulap oleh udara gunung segar dari warna cokelat wajah mereka.

Renee memperhatikan semua ini dengan penuh minat. Pipinya memerah dan timbul cahaya dalam matanya. Acap kali ia menarik nafas dalam-dalam.

“Aku merasa bergairah!” dia tertawa gembira.







“Dan kau, anak malang, malam ini harus kembali kepanasan lagi!”

Tiba-tiba diciumnya John, melonjak bagaikan anak mabuk.

“Hati-hati,” kata John sambil tertawa, “nanti kita terbang masuk jurang.”

Kutipan di atas berasal dari buku berjudul “Berpacu Nasib di Kebun Karet.” Ditulis oleh Madelon Hermine Szekely-Lulofs. Buku ini terbit di tahun 1931 dengan judul “Rubber” dalam Bahasa Belanda yang artinya karet atau rambung. Buku ini adalah novel pertamanya. Bagaikan bom meledak, cetak ulang dan terjemahan susul menyusul dengan cepat. Bahkan dijadikan karya pentas dan difilmkan.

Nama penulis ini dibicarakan di kalangan kolonial: Madelon Lulofs dianggap penghianat. Namun, bagi penentang penjajahan ia justru dianggap pahlawan, sampai-sampai ada yang menjulukinya Multatuli Wanita. Seperti cerita berikut:

Kota Berastagi di masa Kolonial, di daat penulis novel Rubber mengadakan liburan ke sana.

Kabut masih menggantung di atas pohon-pohon karet. Di remang pagi yang masih gelap, ruang main tempat kuli-kuli kontrak meludeskan gaji mereka terlihat lampu minyak berkedip-kedip.

Semalam suntuk mereka di sana, ketagihan dan terikat pada permainan. Besok mereka terpaksa bekerja lagi, kurang tidur dan jengkel karena kekalahan yang dideritanya, tanpa semangat.

“Kutukan Deli!” kata John, “perjudian itu!”

“Tetapi mengapa diizinkan?”




“Mengapa?” John tersenyum sinis. “Karena harus diadakan daya tarik untuk kuli-kuli itu. Dan dengan demikian mereka mudah saja gajinya habis lagi. Kalau mereka menabung sesudah selesai kontrak, mereka kembali ke Jawa. Kalau mereka tidak menabung, mereka teken kontrak lagi. Itu lebih mudah bagi perkebunan daripada tiap kali mendatangkan kuli-kuli baru.”

Madelon Lulofs membeberkan praktek-praktek kejam orang-orang Eropah yang menjadi Tuan Kebun di Deli, Pantai Timur Sumatera. Ada lebih 150 perkebunan milik orang asing kala itu.

Madelon Lulofs berkata, “saya hanya mencoba sebaik-baiknya menyajikan kembali kekasaran, kepahitan dan acap kali kemerosotan kehidupan tropis, yang di dalamnya tersembunyi suatu tragedi yang amat besar dari penderitaan dan kesengsaraan manusia.”

Cara berpakaian perempuan Karo yang sudah kawin di Jaman Kolonial sebagaimana digambarkan di novel Rubber.

Potongan kisah di awal tulisan ini adalah perjalanan dari perkebunan tempat mereka hidup, melewati Medan menuju Berastagi. Di Sembahe, Renee takjub pada warna merah merona di pipi-pipi perempuan Karo. Ini perbuatan usil, yang diam-diam dilakukan udara dingin pegunungan dan sinar mentari saat mereka bekerja di ladang.

Renee memilih tinggal di Berastagi lebih dari sepuluh hari. Ia bosan dengan aktifitas kaum Eropah di akhir pekan yang hanya mabuk dan berdansa di club-club demi melupakan sunyinya perkebunan. Anak-anak Eropah ditinggal di rumah dan dijaga oleh babu dan jongos.

Renee pun dapat menikmati untuk pertama kalinya sayur-sayur dan buah yang segar. Berbeda dengan di dataran rendah sana yang sayur dijual layu dan kering. Bahkan daging hampir-hampir busuk. Sementara susu sudah lain rasanya.

Berastagi menjadi pilihan berlibur para Tuan-tuan Kebun. Di sini banyak terdapat Bungalow milik mereka. Juga hotel, lapangan golf, sekolah internasional, arena pacuan kuda, olahraga paralayang hingga kolam renang.

Macam perabotan modren di hotel-hotel hadir dengan tiruan Eropah. Tempat berdansa pun ada, walau lagu pengiringnya satu musim ketinggalan dari Eropah. Pianis dan violisnya berkebangsaan India.

Sayangnya, John harus kembali ke perkebunan. Dia tidak punya cuti selain hari besar ini.

“Enak sekali di sini. Enak, ya.”




John memeluk pinggang Renee sambil berusaha menciumnya. Renee menolak sambil tertawa, semata-mata untuk merangsangnya. Namun, dirayunya John dengan mulutnya yang merah dan matanya yang menantang. Lalu dia pun menyerah, dibiarkannya diciumi.

Didengarnya nafas John turun-naik lebih cepat. Dipejamkannya matanya. Dengan mata tertutup Renee tertawa.

Sejenak Renee kembali merasakan hidup kian bertambah bergairah, setelah sebelumnya tubuh putihnya merasakan air sedingin es. Giginya gemeretak kedinginan saat air mengalir di tubuhnya dari gayung-gayung di awal mandi.

Darahnya jadi seperti cepat mengalir. Kebosanan milik hari-hari yang lalu telah hilang. Apalagi bila John ada di sini.

Dari Bungalow ini, Renee bisa menatap Gunung Sibayak dan Sinabung. Ia melihat sebuah bukit dengan dataran rumput yang luas di kakinya.




Seorang perempuan Karo tua melintas. Perempuan tua itu berjalan dengan terbungkuk-bungkuk, di lehernya terikat kain biru gelap. Di belakangnya menyusul seekor kuda kecil. Terbatuk-batuk perempuan tua itu melintas.

Di bawah langkahnya yang gontai, batu-batu lepas bergulingan dari jalan kecil itu. Lalu ia menghilang menuju ke belakang bukit itu.

Dan keadaan sunyi lagi.

Sampai ketika di malam kesekian belas, suara mobil kian dekat. Makin mendekat. Kian jelas ketika cahayanya memasuki halaman.

Oh, John datang?

Renee berlari membuka pintu. Melihat lelaki itu melompat menuju teras. Dan tegak berdiri di depannya.

Belum sempat dia berucap, bibirnya menerima cium yang panjang. Teramat panjang. Dia hanya tahu, mulut Ravinsky di mulutnya. Tangan Ravinsky gemetar memeluknya.










Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.