Kolom Eko Kuntadhi: MENAMPAR BESAN

0
856

Amin Rais bilang Jokowi ngibul ketika gencar Presiden membagikan sertifikat tanah kepada masyarakat. Sebab, katanya, di Indonesia ini 74% tanah dikuasai oleh asing. Entah dari mana data Amien bisa bicara seperti itu. Yang pasti, ketua BPN Sofyan Djalil mempertanyakan data ini.

Sebab memang soal pertanahan semuanya ada di tangan Sofyan.

Ngomong soal tanah yang dikuasai pengusaha besar, memang sudah jadi isu dari dulu. Justru dengan adanya program sertifikasi tanah gratis ini, pemerintah bermaksud melindungi hak rakyat. Sudah jadi cerita umum, ketika jaman Orde Baru, penguasa merampas tanah rakyat begitu saja. Apalagi ketika mereka berkolaborasi dengan pengusaha. Rakyat sering jadi korban,







Tapi, itu terjadi sejak jaman rekiplik. Justru pemerintahan Jokowi hendak memberikan kepastian hukum atas tanah rakyat dengan memberikan sertifikat gratis, sehingga tidak bisa diambil alih begitu saja oleh penguasa daerah yang sering bekerjasama dengan pengusaha. Ini juga dilakukan untuk menghindari konflik kepemilikan yang seringkali terjadi.

Jika Amien mau menelaah sedikit saja, justru penguasaan tanah oleh pengusaha besar terjadi di Sektor Kehutanan. Biasanya hutan dialihfungsikan menjadi perkebunan sawit.

Nah, kita lihat saja kapan hal itu terjadi.

Catatan Greenomics Indonesia, sebuah LSM yang bergerak di Sektor Kehutanan, alih fungsi dan penyerahan lahan hutan terbesar kepada pengusaha terjadi di saat Zulkifli Hasan sebagai Menteri Kehutanan.

Dari tahun 2004 sampai 2017, ada sekitar 2,2 juta hektar hutan yang dialihkan kepada pengusaha untuk dioleh menjadi perkebunan. Pengalihan terbesar terjadi pada 2009 – 2014. Saat itu, menurut catatat, sekitar 1,6 juta hektar lahan hutan atau sekitar 25 kali luas Jakarta dialihkan kepada pengusaha. Tahun 2009 sampai 2014 Menteri Kehutanan dijabat oleh Zulkifli Hasan, yang sekarang duduk sebagai Ketua Umum PAN dan juga besan Amien Rais.

Artinya, pengalihan lahan hutan kepada pengusaha 70%-nya terjadi di zaman Zulkifli. Itu di luar pemutihan lahan yang sebelumnya sudah dikuasai. Sedangkan pada periode pemerintahan Jokowi, luas lahan hutan yang dialihkan kepada pegusaha besar hanya 216 ribu hektar saja, atau sekitar 9%.




Pemerintahan Jokowi juga menggagas hutan sosial, dimana masyarakat sekitar diberi konsesi untuk memanfaatkan hasil hutan dengan ijin 35 tahun. Dengan demikian, masyarakatd apat menjaga hutannya dengan lebih baik.

Kita tahu, sejak lama soal kepemilikan tanah ini menjadi isu yang cukup sensitif. Makanya Jokowi pelan-pelan melakukan proses reditribusi pertanahan. Sebab, untuk menutup gap ketimpangan, perlindungan kepemilikan tanah warga merupakan sebuah keharusan.

Logika inilah yang diyakini pemerintahan Jokowi, makanya dia mendesak Kepala BPN untuk membereskan dasar hukum kepemilikan tanah rakyat. Sertifikasi tanah rakyat adalah jalan masuk untuk melakukan perlindungan sekailigus memudahkan redistribusi aset kepada rakyat.

Tapi, entah kenapa justru Amien Rais berteriak Jokowi ngibul. Jutaan rakyat sudah bergembira karena kini mendapat keabsahan secara hukum setelah pemerintah membagikan sertifikat gratis. Dampaknya sudah dirasakan oleh mereka. Hanya Amien saja yang tidak kunjung gembira. Sebab, mungkin saja, kegembiraannya berbeda dengan kegembiraan rakyat.

Dengan adanya sertifikat tanah, aset produktif rakyat juga bisa bankable untuk meningkatkan kesejahteraan.

Lalu apa kegembiraan Amien Rais, sekarang? KIta tidak tahu. Yang kita tahu, tokoh yang satu ini selalu mengeluarkan pernyataan miring yang kadang-kadang tidak disertai data. Dia bilang 70% tanah dikuasai asing. Padahal yang memberikan ijin terbesar konsesi lahan hutan jadi perkebunan adalah besannya sendiri.

Apakah pernyataan Amien itu sebetulnya untuk mengkritik kebijakan besannya saat jadi Menhut? Tapi, apakah dia tidak ingat kata-kata di stiker yang ditempel di kaca belakang Metromini, “Sesama besan dilarang saling kritik.”

Dia juga suka menakut-nakuti dengan isu kebangkitan PKI. Padahal PKI sudah tamat sejak 1965 lalu. Sudah 50 tahun lebih organisasi itu dimakamkan di Bumi Indonesia. Kenapa Amien masih suka berhalusinasi tentang kebangkitan PKI?

Pak Tua

Nyanyi tengah malam buta, enak juga. Mendengar Birgaldo ngomong celong, gue ketawa ngakak. Serasa lagi ngamen di atas Metromini. Apalagi mimik ngeselinnya Permadi. Orang yang nonton, pasti kepengennya ngasih sedekah aja…

Posted by Eko Kuntadhi on Tuesday, March 20, 2018

Oh, isu soal penguasaan tanah dan kebangkitan PKI sepertinya memang hanya peluru untuk menembaki Jokowi. Entah apa maksudnya, padahal sampai saat ini secara resmi PAN berada dalam koalisi pemerintahan. Dari sisi etika politik jelas buruk sekali, mereka yang mau ikut menikmati kekuasaan tetapi berperilaku mirip oposisi.

“Seperti BAB di ruang tamu sendiri,” ujar teman saya.

Bambang Kusnadi, yang sedari tadi diam, tiba-tiba nyelonong. “Mas, dalam hidup saya ada yang paling saya sesali dan ada yang paling saya syukuri,” ujarnya. Saya gak heran jika tetiba dia berkomentar jauh dari topik.

“Yang paling kamu sesali apa, Mbang?”




“Saya pernah mencoblos Amien Rais waktu kampanye Presiden.”

“Terus apa yang paling kamu syukuri dari hidupmu?”

“Saya bersukur, dia gak kepilih….”

HEADER: Bagi-bagi Sertifikat Tanah Ala Jokowi (Foto: tirto.id)

VIDEO: 1. Aktor Hollywood (Horison Ford) mewawancarai Menteri Kehutanan saat itu (Zulkifli Hasan). 2. Cara Pangdam I TNI saat itu yang sekarang menjadi Calon Gubernur Sumut menghadapi masyarakat yang merasa tanahnya dirampas. 3. Tiga penulis media sosial ternama (Permadi, Bilgardo Sinaga dan Eko Kuntadhi) bernyanyi melawan si tukang nyinyir Pak Tua.










Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.