Golongan kafir yang doyan melahirkan dongeng menyenangkan justru tidak pernah sama sekali menyinggung soal penyiksaan di neraka.

 

Sejak masih anak-anak, saya sudah membaca dongeng menyeramkan macam neraka dan penghuninya yang disiksa sampai Tuhan bosan dengan sendirinya. Mereka yang disiksa tanpa ampun adalah mereka yang saat di dunia doyan membangkang pada ketetapan dan aturan yang dibuat oleh Tuhan sebagai petunjuk hidup di dunia.

Bagi mereka, yang tunduk dan taat tanpa syarat diiming-imingi hadiah bercinta dengan 72 bidadari di sorga sampai dengkul copot. Kalau belum copot, maka agenda bercinta akan terus berlangsung. Itulah nikmat bagi mereka yang beriman.







Sementara bagi mereka yang tidak tunduk dan patuh, maka mulai dari siksa kubur hingga siksa dubur di neraka adalah hadiah terindah dari Tuhan yang menurut kitab petunjuk dunia akhirat adalah Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang. Bagi saya yang pada saat membaca dongeng menyeramkan sejak kecil terus bertanya, bagaimana mungkin Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang bisa sangat kejam dan biadab pada mahluk ciptaannya sendiri?

Sebagai mahluk yang imut-imut, saya hanya geleng kepala tidak percaya. Bagi saya yang imut ini, Tuhan macam itu tidak layak disebut Tuhan. Dia lebih layak disebut begal, jagal bahkan monster. Tuhan macam itu tidak layak dipuja-puji.

Begitu sedikit gambaran dongeng yang menyeramkan, sementara dongeng yang menyenangkan datang dari mereka yang menurut para pemuja Tuhan adalah para penghuni neraka yang kelak akan menjadi permanent resident. Mereka adalah kafir yang dilaknat Allah di dunia maupun di akhirat.

Golongan kafir yang doyan melahirkan dongeng menyenangkan justru tidak pernah sama sekali menyinggung soal penyiksaan di neraka. Mereka bahkan mencoba menawarkan sebuah cara pandang yang sedikit berbeda dengan gambaran neraka yang penuh dengan adegan brutal.

Salah satu dongeng yang populer lahir dari imaginasi Disney Land, Alice in the wonderland, atau the lion king, dan Coco seorang anak yang memiliki impian untuk menjadi musisi besar seperti ayahnya. Masih banyak lagi dongeng yang justru bisa membangkitkan rasa kemanusiaan dari pada rasa monster yang doyan main jagal.

Tentu saja dongeng memegang peranan penting dalam sebuah masyarakat yang jumlahnya luar biasa banyak macam Indonesia. Dari dongeng itulah biasanya mimpi dibangun. Dongeng yang menyeramkan hanya akan melahirkan masyarakat paranoid. Takut bahkan kejam. Tapi tidak sebaliknya masyarakat yang imaginasinya menyenangkan akan melahirkan masyarakat yang beradab, lebih kalem dan lebih banyak tersenyum dari pada melotot.

Begitulah cara kerja dongeng. Makanya dongeng yang menyenangkan yang perlu terus menerus diproduksi agar kita bisa mencapai masyarakat yang menyenangkan, bukan masyarakat yang menjengkelkan.

#Itusaja!








Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.