Wacana Indonesia bubar di tahun 2030 oleh duo Jendral (satu Jendral pecatan, satu lagi Jendral pensiunan) perlu dibaca dari sudut yang sedikit berbeda. Pertama, perlu diingatkan bahwa negara bangsa adalah sebuah tatanan imaginer yang dibangun di alam fiksi oleh species homo dan salah satu keahlian species homo adalah menghayal sekaligus mengarang bebas.

Makanya dalam mode penulisan ada beragam kategori, fiksi, non fiksi, hingga penulisan Ilmiah yang berbasis data empiris, ada juga model puisi, prosa, etc.







Ke dua, Indonesia bisa dikategorikan sebagai bangsa yang kemungkinan bubar atau survivenya 50%-50% di masa depan, argumen yang bisa saya ajukan juga ada 2 model.

Yang pertama, Indonesia akan bubar sebagai negara jika rakyatnya memilih ribut dan bertengkar sendiri, dipicu oleh hal-hal yang sifatnya politik, terutama politik kepentingan dalam keyakinan agama, konflik karena alasan agama dan kepentingan golongan. Negara-negara yang berantakan atau bahkan bubar dalam sejarah telah membuktikan semua itu.

Yang ke dua, Indonesia akan bertahan bahkan bisa menjadi kekuatan ekonomi, politik baru jika penghuninya memilih bekerjasama dengan menyimpan perbedaan tidak penting macam agama, golongan, ras, suku, beserta identitas personal lainnya dalam kotak pandora dan diseal bersama dalam pemahaman yang menembus jangka waktu yang panjang.

Pilihan tentu saja ada dalam kewarasan berpikir rakyat yang menghuni bangsa ini, memilih ribut dalam kebodohan, atau bekerjasama untuk mencapai tujuan kemakmuran bersama di atas semua perbedaan yang hadir sebagai fenomena alamiah dari alam.

Jadi, wacana kedua Jendral bermasalah di atas jelas lebih doyan menyaksikan rakyat Indonesia ribut oleh alasan agama, dari pada mengajak rakyat Indonesia untuk berpikir panjang ke masa depan, menjadi sebuah bangsa yang toleran, cerdas, waras dan tentu saja berbahagia di atas alasan-alasan yang sederhana.

Artinya, menolak pembodohan adalah sikap dari manusia Indonesia yang waras lagi sadar.

#Itusaja!








Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.