Sejak China mampu meningkatkan ekonominya sedemikian rupa, Amerika Serikat tampaknya semakin mengangap negeri tirai bambu itu sebagai ancaman. Belakangan, Trump membuat kebijakan untuk menekan ekonomi China. Iya, defisit dagang AS-China terus melebar.

Trump bahkan mengancam negara-negara lain yang dianggap berhubungan mesra dengan China. Dari sisi ekonomi, AS amat membenci China. China berhasil menyalip AS sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Dominasi AS dikalahkan. Bahkan China adalah salah satu negara yang memegang surat hutang AS paling besar.

AS membenci China, kita di Indonesia juga ikut-ikutan membenci China.







Di Timur Tengah, AS amat membenci Bashar Asaad. Mereka berkampanye agar Presiden Suriah itu turun dari kursinya. Segala cara digunakan, baik diplomasi maupun dengan mensokong kekuatan-kekuatan yang menentang Asaad. Sudah menjadi rahasia umum, bersama Saudi Arabia, AS menyokong pasukan pemberontak yang bahkan terdiri dari kekuatan Al Qaedah dan ISIS.

Isu konflik Suni-Syiah disebar. Bahkan ada banyak video buatan yang seolah-olah menggambarkan kekejaman pemerintah, padahal video itu dimainkan oleh aktor. Gunanya untuk mengkampanyekan kebencian dunia pada pemerintah Suriah.

Kita di Indonesia, juga ikut-ikutan kampanye menentang Bashar Asaad.

Ketika pasukan Asaad berhasil menguasai Aleppo, para pencari sumbangan sibuk ramai-ramai menyebar spanduk dengan tagar Save Aleppo. Padahal yang sedang tersudut itu adalah para pemberontak keji yang selama ini menyengsarakan rakyat Suriah. Teriakan Save Aleppo terkesan sebagai simpati pada pemberontak dan teroris yang justru selama mereka bercokol telah menindas rakyat Suriah.

Begitu juga ketika daerah Ghouta yang sebelumnya dikuasai teroris berhasil direbut oleh tentara nasional Suriah, kaum poengumpul sedekah kembali menyebar spanduk untuk mengumpulkan sumbangan. Kesannya sumbangan dan pembelaan kita, hanya terjadi ketika kaum teroris itu tersudut.




Ada lagi. AS begitu membenci Iran sekarang. Padahal sebelum 1979 Iran adalah negara yang dianggap AS sebagai sahabat paling setia. Permusuhan itu terjadi, ketika Imam Khomeini berhasil menumbangkan pemerintahan Syah Reza Pahlevi. Sajak dulu rakyat Iran penganut Syiah. Tapi, ketika pemerintahan dipegang Syah, tidak ada kampanye anti Syiah di dunia. Kampanye itu gencar ketika pemerintahan Iran berubah.

AS marah karena pemerintahan Iran yang selama ini menghamba pada kepentingannya digulingkan rakyat dengan revolusi Islam. Lalu, di Indonesia kita mulai mengenal konflik Suni-Syiah. Sampai sekarang terus diteriakkan. Kebencian sebagian orang Indonesia kepada Iran, sama seperti kebencian pemerintahan AS pada Iran.

AS mesra dengan Saudi Arabia bahkan menjadikannya sebagai sekutu utama. Saudi saat ini dengan beringas membombardir Yaman. Negeri leluhur para habib itu luluh lantak. Anak-anak kelaparan dan kehilangan masa depan.




Tentu saja AS diam melihat perilaku sekutunya itu. Tidak ada satupun statemen yang mengecam kelakuan brutal Saudi di Yaman. Sama seperti sebagian orang di sini, juga diam atas penjajahan paling bengis yang terjadi di Timur Tengah itu. Tidak ada satu pun spanduk dari para pengumpul sedekah untuk membela tragedi kemanusiaan di Yaman.

Apa yang dibenci pemerintah AS, kamu ikut membenci. Apa yang disukai pemerintah AS kamu ikut juga menyukainya. Apa yang didiamkan pemerintah AS, kamu ikut mendiamkan.

Menariknya, orang yang paling megikuti semua kemauan AS itu adalah mereka yang selalu berteriak paling Islami. Biasanya mereka juga yang ikut-ikutan membenci Pemerintahan Jokowi. Bahkan sampai ada yang membenci Indonesia segala. Mereka seperti perwakilan kepentingan AS di Indonesia. Tapi paling sering teriak Asing dan Aseng. Kampret, kan?

“Islam kok, yang diikuti ‘sunnah’-nya Donald Trump,” ujar Bambang Kusnadi.






Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.