Kolom Boen Safi’i: OPTIMIS

Keluarga "ningrat" itu muncul kembali. Mereka menganggap Indonesia beserta kekayaannya adalah milik keluarganya. Sehingga, dengan segala cara, mereka mencoba menggulingkan pemerintahan yang sah, yang menghalangi langkah mereka menguasai negeri ini.

0
437

Manusia yang basiknya pernah susah hidupnya, akan cenderung nothing to loose dalam menyikapi sebuah kehidupan. Rasa empati dan rasa iba kebanyakan muncul dari orang-orang seperti ini. Apabila diberi sebuah kebahagian, maka mereka pun gak akan kaget bila suatu saat bertemu kembali dengan yang namanya kesusahan.

Sedangkan manusia yang basiknya dari kaum borjuis, hedonis dan dari keluarga priyayi, kebanyakan cenderung tidak mempunyai rasa empati dan rasa iba. Karena mereka tidak pernah mengalami kesusahan seperti halnya manusia kebanyakan. Mereka memang terbiasa dilayani daripada melayani.







Apabila mereka dipertemukan dengan yang namanya kesusahan, maka mereka pun akan kaget luar biasa dan, dengan “segala cara”, mereka ini akan mencoba mengembalikan hegemoni seperti dulu lagi.

Sekarang, para keluarga “ningrat” itu muncul kembali. Mereka menganggap Indonesia beserta kekayaannya adalah milik keluarganya. Sehingga, dengan segala cara, mereka mencoba menggulingkan pemerintahan yang sah, yang menghalangi langkah mereka menguasai negeri ini.

Perlawanan itu pun dilancarkan. Dari mulai isu Etnis China sampai pemimpin anti agama. Dari PKI sampai Ulama yang dikriminalisasi. Tetapi, Gusti mboten sare, pemimpin ndeso yang bernyali baja itu tidak goyah sejengkalpun. Baginya, pengabdian bagi bangsa dan negaranya adalah segalanya.

Infrastruktur dibangun dari Sumatra sampai Papua. Dari mempercantik perbatasan negara sampai membangunkan rel di luar Pulau Jawa. Dari membelah bukit, sampai membangun jalan yang dekat dengan lautan. Sungguh pemandangan yang menakjubkan.

Memang, hasilnya belum bisa kita nikmati karena semua butuh proses. Bukankah yang instan itu tidak baik untuk kesehatan? Bukankah jamu yang pahit itu sangat bermanfaat bagi kesehatan? Nah, seperti itulah gambaran saat ini. Indonesia kita sedang meminum jamu, pahit tetapi menyehatkan.

Mungkin manfaatnya tidak akan signifikan untuk kita rasakan. Tetapi kita harus optimis dan hakkul yakin, bahwa di masa mendatang yakni generasi penerus bangsa akan tersenyum bangga terhadap negerinya. Mereka pun akan membusungkan dada sambil berkata “inilah Indonesiaku yang berbhineka tunggal ika wahai dunia”.

Pemimpin yang baik adalah seorang pemimpin yang mampu membangkitkan sikap optimisme kepada rakyatnya, meski dalam keadaan terdesak sekalipun. Lha, kalau belum apa-apa sudah pesimis duluan dengan mengatakan “negara ini akan bubar”. Yo, buat apa dipilih?

“Ah mosok bubar beneran to, pakne? Enggak bune, yang bubar itu bukan Indonesia tetapi hubungan asmara si Bibib dengan neng firza di tahun 2090”.

“Lhadalah 2090? Mbok kiro si Bibib itu dinosaurus, pakne? Bukan bune, si Bibib itu bukan dinosaurus tetapi Ontasaurus, fahim eh faham?”

Salam Jemblem.








Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.