Salam bertemu kembali dengan semua Kompasianer yang sudah sempat berdiskusi/ berdialog dengan sopan santun dan terus terang dalam mengikuti artikel Mas Susy Haryawan ‘Aku Bangga Menjadi Anak PKI’, dan juga mengusulkan supaya komen saya ‘diartikelkan’ saja ‘untuk pengetahuan bersama’.

 

Saya sangat setuju usulnya. Sekarang, saya ‘artikelkan’ dengan judul ‘Komunisme Atau Penemu Komunisme’. Dengan judul ini saya bermaksud mengedepankan mana yang lebih penting antara komunisme itu sendiri ataukah sang penemunya. Penemunya secara resmi dan yang ‘diajarkan’ kepada kita ialah seorang yang bernama Karl Marx. Tetapi yang sangat dirahasiakan selama ini ialah siapa yang menemukan Karl Marx?

Bakunin adalah seorang pemimpin gerakan revolusioner dari kaum buruh dan tani pada pertengahan abad 19. Bakunin sangat populer. Jutaan jumlah pengikutnya dan berpengaruh di Eropah sebelum ada gerakan ‘proletar’ Marx. Si pencipta Marx menganggap gerakan Bakunin harus diambil alih, dan berhasil menyingkirkan Bakunin Dkk di kongres internasional di Hague 1872. Setahun setelah Pemberontakan Paris.







Sejak itu, gerakan internasional Sosialis/ Komunis dunia berada di tangan orang-orang Marx yang mau membangun kekuasaan sentral (diktatur proletar) berlainan dengan cita-cita Bakunin mau membangun dari bawah. Artinya, serahkan kekuasaan ke semua daerah/ kota. Bayangan dua teori/ pendapat ini masih menghantui semua gerakan ‘revolusi’ dunia sampai sekarang. Bahkan tergambar juga dalam kontradiksi pokok dunia sekarang ini yaitu perjuangan antara kepentingan nasional bangsa-bangsa seluruh dunia kontra kepentingan internasional neolib deep state (NWO).

“Communism is a fait accompli in the West and that freedom and democracy are an empty charade. Masonic Jewish central bankers are behind Communism,” – Bella Dodd pemimpin Partai Komunis USA, dalam bukunya ‘School of Darkness’ 1954. 

Si penemu atau pencipta Marx inilah yang pegang peranan penting dalam peredaran dan pengembangan Komunisme yang kemudian juga jadi Marxisme setelah kematian Marx, dan yang telah bikin kematian jutaan bahkan ratusan juta manusia di dunia. Dalam era keterbukaan sudah semakin jelas bagi banyak orang bahwa Komunisme atau Marxisme adalah alat untuk mendominasi dunia (NWO). Sama sekali bukan alat  untuk membela kaum miskin atau kaum proletar seperti yang ‘diajarkan’ secara resmi. Persoalan komunisme adalah soal Power, power, dan duit, duit, . . . penguasaan duit dan aliran duit dunia, adalah alat utama mengambil dan memperbesar power demi tujuan NWO itu.

Di Indonesia, dalam melaksanakan politik power dan duit ini, dibuat pemberontakan dari daerah Tahun 1050-an, menirukan cara Komunis Mao dari desa ke kota (PRRI/ Permesta) tetapi gagal. Kegagalan ini dipelajari, dan 1965 dilaksanakan dengan taktik/ strategi kebalikannya. Bukan ‘dari desa ke kota’, tetapi dari Pusat atau dari sentral kekuasaan. Dan, berhasil. Lantas orang-orang Komunis atau sejenisnya (‘progresif’) dibantai semua. Sebanyak 3 juta orang menurut panglima operasi pemberantasan PKI 1965 (Sarwo Edhie) (Lihat di Wikipedia).

Kalau Komunisme dan orang-orang Komunis adalah ciptaan pemrakarsa  NWO tetapi mengapa dibunuhi pula?

Wow . . .  inilah kuncinya yang dirahasiakan selama abad 19 dan 20. Abad Kegelapan. Selama 2 abad itu boleh dikatakan yang tahu soal ini hanya orang-orang penemu Marx itu. Tetapi sekarang di Abad Keterbukaan dan transparansi ini, anak-anakpun sudah bisa cari tahu apa dan siapa Komunisme dan penciptanya serta untuk apa dicptakan.

Ayo, mari semua orang Indonesia, anak-anak, orang dewasa, wanita dan mahasiswa dan semua kaum intelektual bangsa ini . . . cari tahulah apa itu Komunisme. Walaupun pencipta dan pemrakarsa NWO ini sudah dalam perjalanan menuju titik akhirnya, menurut pengakuan bos besarnya sendiri, tetapi tidak salah mempelajari apa sajapun ada gunanya, terutama soal ini yang menyangkut sejarah nation Indonesia. Kalau sudah semua tahu, pecah belah dengan pakai istilah PKI/ Komunisme tidak perlu lagi atau tidak laku lagi.

Salam mencari pengetahuan baru.

VIDEO: Penampilan Sanggar Seni Sirulo di Berastagi dalam lagu Ugalah Kam E








1 COMMENT

  1. “Communism is a fait accompli in the West and that freedom and democracy are an empty charade. Masonic Jewish central bankers are behind Communism,” – Bella Dodd pemimpin Partai Komunis USA, dalam bukunya ‘School of Darkness’ 1954.
    Dari web tertulis diatas ‘behind Communism’ Henry Makow katakan begini: “School Shooting is Designed to Advance Communism”. Banyak penembakan-penembakan disekolah-sekolah di AS belakangan ini, atau sudah sejak lama sebenarnya. Mengapa belakangan tambah sering, pastilah karena nasib penggagas komunisme ini terlihat semakin terdesak ke ujung tanduk karena semakin ditelanjangi dan semakin telanjang. Era keterbukaan memang sudah tidak bisa dikembalikan kembali jadi era ketertutupan, dimana neolib deep state sangat leluasa hidupnya, tanpa ketakutan apa-apa, bebas berkonspirasi dengan modal besar yang tambah terus dengan sistem bank dan sistem kredit yang masih berlaku.

    Maunya tetap bisa tenang-tenang saja sambil hanya menjalankan program NWO nya saja tanpa halangan yang berarti. Tetapi sekarang sudah diakui oleh bos besarnya sendiri bahwa rencana NWO sudah collapsing dan lebih baik tidak mengambil resiko terlalu besar katanya baru-baru ini. Dan semkin pesatnya peredaran dan pemilikan senjata secara bebas termasuk senjata otomatik dan berat, sangat mengganggu ketenangan kaum gembong pemerakarsa komunisme ini yang sekarang banyak hidup tenang dan mewah di AS. Mereka sangat ngeri melihat dan membayangkan senjata berat dan ringan berkeliaran bebas dan legal dijalanan atau dimana saja.

    Mengerikan memang menjaga nyawa dalam situasi begini, sebagai orang kaya tetapi bikin kesalahan berat bagi kemanusiaan sudah sejak lama. Foster Gamble dari Thrive movement malah bilang begini:
    “some having to limit their travel and fearing their own arrests and incarceration for a myriad of crimes and abuses.” lih disini: http://www.thrivemovement.com/encouraging-look-forward.blog
    Dengan menciptakan terus menerus penembakan dan pembunuhan sadis dibanyak sekolah, mengharapkan pemerintah AS terutama Trump sekarang, pemerakarsa komunisme ini menginginkan supaya sepenuhnya melarang senjata bebas di pasaran, dengan bantuan protes publik karena pembunuhan disekolah-sekolah. Tetapi Trump sebagai musuh bebuyutan deep state tegas menentang peraturan pelarangan penjualan senjata, dan ‘psyops’ (perang psikologi) ini akan terus. Seorang analitik komunisme bilang begini: “Communism is a regressive, murderous, tyrannical ideology which could never survive for long in a society that was armed and free”.
    Wow antara kebebasan berkonspirasi dan kebebasan punya senjata. . .

    MUG

Leave a Reply