Kolom Sada Arih Sinulingga: HUBUNGAN KARO-MELAYU SIAK

2
1583

Lingga di Gayo

Menurut M. Junus Jamil dalam bukunya Gajah Putih yang diterbitkan oleh Lembaga Kebudayaan Aceh (1959), di Abad 11, Kerajaan Lingga di Gayo didirikan oleh orang Gayo pada pemerintahan Sultan Machmudin Johan dari Perlak. Raja Machmudin Johan merupakan Raja Lingga I yang memiliki 1 putri yaitu Empu Beru atau Datu Beru dan 5 putera yaitu;

  1. Sibayak Lingga mendirikan Kerajaan Lingga di Karo
  2. Meurah Johan ke Aceh Besar menjadi Raja kerajaan Lamkrak atau Lamuri
  3. Meurah Lingga tetap di Gayo dan Menjadi Raja Lingga II menggantikan ayahnya Sultan Machmudin Johan
  4. Meurah Silu ke Pasai mendirikan kerajaan Samudera Pasai di Aceh
  5. Meurah Mege tetap di Gayo dan dikuburkan di Wihai Raging Lereng Kramil Paluh di Linge.




Meurah Lingga menetap di Gayo dan menjadi Raja Lingga II secara bergantian menjadi Raja oleh keturunannya sampai generasi 12. Sedangkan Raja Lingga XIII di riwayatkan menjadi Amir al- Harb Kesultanan Aceh pada tahun 1533 terbentuklah kerajaan Johor Baru di Malaysia yang dipimpin oleh Sultan Alauddin Mansyur Syah. Raja Lingga XIII diangkat menjadi menteri yang kemudian hari keturunannya mendirikan kesultanan Lingga di Riau (Kepri) yang kedaulatan wilayahnya meliputi Riau, Tumasek Singapura dan sebagian Malaysia.


Kerajaan Lingga di Karo

Kampung Lingga pertama sekali didirikan oleh putra bungsu dari Sibayak Lingga Raja di Pegagan Tanah Pakpak. Sibungsu ini dikenal sebagai perselihi Raja yang harus meninggalkan Lingga Raja karena ayahnya Sibayak Lingga Raja menderita suatu penyakit yang parah. Dalam pengembaraannya sampailah si bungsu di suatu tempat yang menurutnya cocok untuk bermukim dan sampai kini tempat itu dinamai Lingga sesuai nama asal dan menjadi marga bagi keturunannya.

Perselihi mempunyai keturunan 1 putri yang bernama Tambar malem dan 3 putra yaitu:

1. Tembe tetap di Lingga.
2. Surkati atau Surbakti yang kemudian mendirikan kampung Surbakti.

Rumah tradisional Suku Karo di Desa Lingga (Kabupaten Karo)

Dari salah satu Keturunan Surkati atau Surbakti jugalah yang kemudian menurunkan Raja Urung Datuk Sunggal di Deli dan saudara kandung Datuk Sunggal yang bernama Nang Baluan beru Surbakti kemudian diperistri oleh Gocah Pahlawan perwakilan Kesultanan Samudera Pasai dan pendiri Kesultanan Deli sehingga keturunannya kemudian menjadi Sultan Deli dan Serdang.

3. Cibu yang kemudian mendirikan kampung Kacaribu.

Salah satu putera Sibayak Lingga Raja selain putra bungsunya yang dijadikan perselihi itu adalah menjadi Raja pula di Nodi dikenal sebagai Raja Nodi. Raja Nodi meninggalkan Lingga Raja untuk menyusul adik bungsunya Raja Rea yang dijadikan perselihi Raja. Namun, karena adiknya tidak mau pulang ke Lingga Raja maka ia melanjutkan perjalanannnya ke Nodi. Saat terjadi peristiwa banjir besar di Nodi maka Raja Nodi menyuruh ketiga putranya pergi dari Nodi ke arah Gayo di Aceh.




Putra bungsu Raja Nodi kembali pergi dari Gayo karena tidak mempan piso saat hendak di sunat dan sampailah ia di kampung Lingga di Karo. Di Lingga Karo oleh saudara seketurunannya mengangkatnya menjadi Raja di Lingga dikenal pula sebagai Sibayak Lingga dan keturunannya bergantian menjadi Raja Lingga.

 

Kesultanan Siak

Kesultanan Siak didirikan oleh Raja Kecik atau dikenal sebagai Sultan Abdul Jalil Syah yang merupakan putra Sultan Machmud Syah Raja Kesultanan Johor yang terbunuh. Rajak Kecik adalah putra Sultan Johor dari istri selirnya. Raja Kecik dibesarkan di Pagaruyung dan setelah ia dewasa mendirikan Kesultanan Siak Inderapura pada tahun 1723.

Perpaduan pakaian Suku Karo dengan pakaian Suku Gayo

Kesultanan Siak menjadi kerajaan penting dan luas kekuasaannya di Riau sampai ke Deli yang mana Sultan Siak dimasa pemerintahan Sultan Al-Sayyid Sharif Ismail menyerahkan wilayah Deli kepada Belanda. Deli takhluk kepada Siak pada tahun 1814. Dalam Traktat 1864 berisikan bahwa milik Siak diserahkan kepada Belanda antara lain Kotapinang, Pagurawan, Batubara, Bedagai, Kualuh, Panai, Bilah, Asahan, Serdang, Langkat, Temiang dan Deli.




Raja terakhir Kesultanan Siak adalah Sultan Syarif Kasim II yang pada tanggal 27 Oktober 1912 menikah dengan Syarifah Latifah putri Tengku Embung saudara kandung Sultan Langkat. Diketahui bahwa Sultan Langkat merupakan merga Perangin angin Kuta buluh yang bersaudara dengan dengan Raja Sibayak Kuta buluh. Tengku Embung ayahnya Syarifah Latifah yang merupakan permaisuri Sultan Siak Sultan Syarif Kasim II menetap di Siak sampai wafatnya dan dikubur di pemakaman Kesultanan.

 

Kesultanan Lingga

Kesultanan Lingga di Riau (Kepri) merupakan Kerajaan Melayu yang didirikan oleh keturunan Sultan Johor yaitu Sultan Abdul Rahim Muazan Syah pada thn 1824 dan berakhir pada tahun 1911.




Kesimpulan

Dari riwayat ini dapat diketahui bahwa Kerajaan Aru atau Haru dahulu wilayahnya sangat luas mulai dari Aceh, Deli Serdang, Langkat, Asahan sampai ke Riau. Bekas kerajaan ini mengalami pasang surut kejayaan pemerintahan dalam beberapa kerajaan baru atau kesultanan.

Penduduk asli bahkan Raja -raja atau Sultan kesultanan Langkat, Deli Serdang, Asahan, Siak dan Lingga Kepri adalah Suku Melayu yang masih memiliki hubungan darah dengan Suku Karo. Karena itu Hubungan Suku Karo dengan Suku Melayu di Siak sudah terjalin sejak lama secara politik dan hubungan darah.

HEADER: Istana Sultan Siak di Riau

VIDEO: Tempat persemayaman Mariam Puntung yang lokasinya di halaman Istana Maimoon (Istana Sultan Deli) (Medan) tapi bukannya dibangun bergaya artsitektur Suku Melayu melainkan bergaya arsitektur tradisional Suku Karo.




2 COMMENTS

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.