Kantorku saat masih bekerja dulu, pas banget satu gedung sama kantor pengusaha besar yang disebut di Laporan Utama majalah TEMPO terbitan hari ini [Selasa 3/4] (Lihat di SINI) karena kebetulan memang miliknya; Gedung Artha Graha di SCBD. Hampir setiap hari yang diwira-wiri di gedung tersebut ya para petinggi TNI.

Pengusaha besar ini bukan hanya partner TNI, santer rumor yang beredar kalau dia juga punya kuasa untuk menunjuk kasus spektakuler mana yang mau diangkat atau mau dipetieskan di Polda Metro Jaya. Tapi ini dulu, lho, ya… Sebelum Pak Tito Karnavian jadi Kapolri.







Kolaborasi antara pejabat negara dan pengusaha, apalagi pengusaha yang memang dibesarkan oleh suatu rezim, tentu bukanlah hal yang aneh. Asallah saja tujuan kolaborasi sang pejabat negara tersebut tetap kepentingan negara dan bangsa, bukan untuk kepentingan kelompok apalagi hanya untuk kekayaan pribadi agar bisa beli properti di Beverly Hills.

Jadi, dulu itu saat santer isu Sembilan Naga mendukung Ahok, aku cuma bisa bersenandung untuk menghibur hati yang meleleh karena kesel dan marah.

“Goreng.. goreng… masak.. masak.. tumis.. tumis…”



Sambil teringat suami temanku, seorang pengusaha muda yang ditembak persis di depan rumahnya di Pondok Indah; di hadapan anak-anaknya yang masih Balita. Kemudian mayatnya diangkut dan dibawa ke Hotel Ibis. Salah satu kamar hotel tersebut dijadikan tempat kejadian perkara, seakan pengusaha tersebut mati bunuh diri minum racun serangga; setelah semua luka tembak ditutup dan didempul.

Kejadian ini terjadi sesaat setelah sang pengusaha muda itu mengalahkan seorang pengusaha besar di lantai bursa. Dengan terbunuhnya pengusaha muda tersebut, ada Rp. 1,3 Trilyun uang investasi pihak ke tiga yang dibancak ramai-ramai. Hilang tak tentu rimbanya. Termasuk sedikit investasi kami sebanyak Rp. 1,2 M yang kami investasikan pada perusahaan temanku itu di Tahun 2003.







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.