Ketika Pak Jokowi menjabat sebagai Walikota Solo, dia terlibat silang pendapat dengan Gubernur Jateng (Bibit Waluyo). Ada aset Propinsi di Solo berupa gedung kesenian. Di sana biasa mangkal para seniman rakyat. Tapi rupanya Bibit ingin aset itu diberdayakan lebih produktif. Dia ingin membuat mall.

Jokowi sebagai Walikota tidak setuju. Mall di Solo akan mematikan usaha kecil. Dia yang dengan telaten melakukan pembenahan pada para pedagang kakilima Solo, keukeuh tidak mau memberi ijin didirikannya mall di lokasi itu.

Perdebatan ini agak panas, apalagi ketika pada sebuah kesempatan Gubernur (Bibit) menuding Pak Jokowi dengan sebutan, “Walikota bodoh,” ujarnya kepada pers.







Apa respon Jokowi waktu itu? “Iya, saya memang bodoh,” ujarnya santai. Tapi dia tetap tidak bergeming pada keputusannya. Sampai sekarang, mall yang direncanakan Bibit tidak juga berdiri.

Jawaban Jokowi, seperti menyudahi perdebatan. Kata orang bijak, rendahkanlah dirimu sampai orang lain tidak bisa lagi merendahkanmu. Apalagi yang mau ditudingkan Bibit kepada Jokowi, ketika perkataan bodoh dijawab dengan, “Iya, saya memang bodoh.”

Jokowi memang membangun Solo dari keringat rakyat kecil. Pada waktu menjabat Walikota Solo, ada satu lokasi kaki lima yang ingin dipindahkan. Para pedagang tadinya protes. Tapi, sebagai Walikota Jokowi tidak mentang-mentang main gusur. Puluhan kali para pedagang itu diajak makan bersama. Diundang ke rumah dinas. Diajak bicara.

Pembicaraan yang alot dan kesabaran menghadapi rakyat kecil, dengan segala kepentingannya, berbuah hasil. Para pedagang setuju dipindahkan lokasi usahanya.

Lalu prosesi perpindahan itu dibuat gebyar. Ada arak-arakan. Ada pentas kebudayaan yang mengiringi pedagang. Masyarakat Solo terlibat dalam prosesi paling menarik itu. Sekaligus juga sebagai promosi lokasi kaki lima baru yang lebih tertata.

Semua gembira. Semua senang. Tidak ada kepentingan yang diabaikan.

Bahasa Jokowi mendekati pedagang adalah bahasa rakyat. Bahasa orang-orang kecil yang mudah dimengerti. Dia mampu melakukan pendekatan yang manusiawi dan sabar, karena Jokowi sendiri lahir dari masyarakat biasa. Dia dibesarkan di perkampungan pinggir kali di Solo. Dia akrab dengan keluh kesah rakyatnya. Jadi, ketika berdialog bahasanya nyambung.

Coba saja lihat ungkapan ibu seorang pedagang gorengan di Madiun ketika Jokowi berkesempatan berdialog. “Saya ke sini sebetulnya mau minta bantuan Pak Presiden. Saya membutuhkan kompor yang apinya bisa howos-howos, seperti tukang mie ayam itu, lho, pak,” ujarnya.




Kompor yang apinya bisa howos-howos? Presiden dan hadirin menanggapinya dengan tertawa lepas. Betapa sederhananya bahasa rakyat. Bahkan untuk sekadar membicarakan tentang kompor gas.

Bahasa-bahasa sederhana seperti itu yang setiap hari kita saksikan dalam dialog Presiden dengan rakyatnya. Bahasa yang membumi. Bahasa yang mengungkapkan realita. Bukan bungkus yang memanipulasi kenyataan.

Dalam kultur kita, bahasa seringkali bisa membuat gap. Sering kita lihat ada pejabat ngomong di hadapan rakyat dengan bahasanya sendiri. Pendengarnya malah tidur. Atau sibuk ber-selfie ria. Kenapa? Karena yang disampaikan berbeda dengan apa yang ingin didengar rakyat. Pejabat itu bicara tentang kepentingannya. Sementara rakyat pendengarnya juga punya kepentingan sendiri. Jadinya gak nyambung. Ada gap diantara mereka.

Bersama warga Suku Karo pengungsi Gunung Sinabung yang telah direlokasi.

Jokowi berbeda. Di setiap kesempatan dia memilih berdialog dengan rakyat. Dengan bahasa rakyat. Bicara tentang kepentingan rakyat. Orang bisa bicara bebas menyampaikan keinginannya. Bahkan anak-anak bisa berekspresi bebas di depan Presiden.

Kemampuan komunikasi Jokowi dengan bahasa sederhana dan otentik di hadapan rakyat justru menandakan kecerdasannya. Dia mampu berbicara dengan bahasa rakyat. Saat berbicara, Jokowi mampu menyatukan emosinya dengan pendengarnya.

Puncak kemampuannya bisa dilihat ketika Presiden menghadiri perayaan hari anak. Di hadapan ratusan anak usia SD, dia mampu membangun komunikasi yang sehat dan dialogis. Jokowi lebih memilih menceritakan dongeng ketimbang menebar nasihat yang membosankan.

Anak-anak antusias mendengar doengeng Presidennya. Mereka merespon dengan tertawa bersama. Saling celetuk dan kata-kata berlompatan dari mulut mereka. Lalu, setiap anak pulang ke rumahnya dengan membawa kenangan berdialog dengan pemimpinnya.





Kemampuan berbahasa seperti itu, karena kemauan Jokowi untuk mendengarkan. Kemauan untuk mendengarkan inilah yang jarang dimiliki oleh para pejabat. Kebanyakan mereka lebih suka menggunakan mulutnya ketimbang memanfaatkan telinganya.

Kemampuan mendengarkan juga didasari sikap rendah hati. Menganggap orang lain penting hingga patut didengarkan pendapatannya. Meskipun di hadapannya hanya seorang ibu sederhana penjual gorengan.

Ketika berdialog dengan rakyat kecil, Jokowi mendekatinya dengan bahasa cinta. Bahasa yang apa adanya dan otentik. Membicarakan soal-soal real. Bukan bahasa yang dibungkus slogan-slogan besar. Bukan bahasa yang bertaburan istilah ilmiah yang justru membuat jidat pendengarnya berkerut.

Telinga para tokoh yang sok jago dan sok pintar, mungkin akan gatel mendengar ungkapan-ungkapan sederhana keluar dari mulut Presiden. Lalu mereka menunjukan egonya dengan menuding ‘Presiden goblok’. Itu yang disampaikan Yusril Ihza Mahendra beberapa waktu lalu.


Yusril merasa lebih hebat dari Jokowi. Merasa lebih jago berbahasa ilmiah. Hasilnya? PBB partai yang dipimpinnya tidak lolos elektoral treshold. Mungkin karena elitnya merasa lebih cerdas dari rakyat. Mungkin karena tidak ada kerendahatian ketika menyampaikan pendapat. Mungkin juga karena memang sesungguhnya mereka tidak mengerti bahasa rakyat.

Jika kemudian rakyat ogah memilihnya, karena memang kebodohannya sendiri dalam mengenali rakyat. Bahasa yang tinggi hati adalah cara komunikasi yang paling bodoh. Itu menandakan kemampuannya berempati pada rakyat sangat parah.

Kata Einstein, kejeniusan seseorang justru ketika dia mampu menyederhanakan hal-hal yang rumit. Kemampuan Jokowi berdialog dengan semua kalangan dengan bahasa yang cair dan otentik menandakan kejeniusannya dalam berkomunikasi.

Didasari dengan sikap rendah hati, Jokowi mampu berdialog dengan bahasa cinta.

Bahasa cinta itulah yang tidak dimiliki Yusril atau Bibit. Juga Prabowo yang menuding elit kita goblok. Makanya yang keluar dari mulutnya kata-kata kasar, sok jago dan banal.




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.