Soal puisi Sukmawati yang menyindir cadar dan adzan, lalu jadi heboh. Orang menuding puisi ini. Tapi memang aneh, masa kita mau mengadili sebuah puisi? Seburuk apapun puisinya, tetaplah sebuah puisi. Bagaimana kita bisa menilainya dengan pengadilan yang hitam putih?

Tapi ada yang mengadukan Sukmawati ke polisi. Mereka ingin menelanjangi puisi jadi sejenis statemen atau pidato politik. Mereka mungkin orang yang gagap membedakan sebuah puisi dengan selebaran gelap.

Puisi Sukmawati memang kasus gila. Sementara mereka yang ngotot mempermasalahkannya termasuk gila kasus. Orang gila kasus ini yang sekarang sedang kasak-kusuk untuk bikin kehebohan lagi. Mereka mulai meneriakkan senjata pamungkasnya: Penistaan agama! Seolah mereka adalah Hansip yang menjaga agama sedemikian rupa. Gak boleh disenggol orang yang dianggap di luar kelompoknya. Kalau yang melecehkan adalah kelompoknya, bebas saja.







Mendengar puisi Sukmawati, lumayanlah. Rasa estetis kita masih sedikit bisa menikmati. Meskipun menurut saya, Mbak Sukma berlebihan ketika dia menyandingkan adzan dengan kidung. Tetapi sebagai sebuah ekspresi seni, saya rasa kita tidak bisa menilainya hitam putih.

Berbeda dengan bacot Sugi alias Gus Nur. Orang yang mengaku dai tapi petakilan minta ampun. Saya pernah menonton video orang ini, ketika dia berbicara di depan ribuan umat sambil membawa-bawa bendera bertuliskan Arab. Di belakangnya duduk berjajar lelaki berjubah. Mungkin pada momentum pengajian atau Tabligh Akbar. Kata apa yang keluar dari mulut Sugi di forum itu, disampaikan dalam forum tabligh akbar? –Nge*t*t!, Yups, kata itulah yang diucapkan Sugi di atas mimbar agama.

Kata busuk itu yang keluar dari mulutnya. Diucapkan dalam forum keagamaan. Secara terang-terangan dan terbuka. Didengar oleh ribuan orang. Adakah mereka yang mempermasalahkan puisi Sukmawati itu tersinggung forum agamanya sedang dikotori? Adakah mereka melaporkan Sugi ke polisi karena kekotoran mulutnya?

Tidak!

Maaf, saya terpaksa menuliskan omongan Sugi seperti itu, hanya ingin menggambarkan betapa mereka memang gila kasus. Mereka bebas berperilaku, lalu ketika orang mengkritik perilakunya, langsung dituding melecehkan agama. Tapi itu hanya berlaku pada orang di luar kelompoknya saja.

Sekarang kaum zombie agama sedang menabuh genderang untuk membangkitkan umat menyerang Sukmawati. Sepertinya mereka berharap Sukma akan dijadikan Ahok ke dua. Karena Sukma adalah adik Mbak Mega, sasaran makin pas. Mega adalah Ketua PDIP, partai pengusung Presiden Jokowi.

Jadi kasak-kusuk ini bukan lagi soal ketersinggungan pada puisi. Toh, mereka gak tersinggung ketika Sugi melontarkan kata nge*t*t di sebuah forum dakwah.

Para petualang agama akan mencoba mencari celah untuk mengacau lagi. Para politisi busuk akan ikut mendompleng. Sebab hanya dengan kekacaun kesempatan mereka berkuasa akan terbuka. Jika suasana adem-adem saja, mana mungkin mereka sanggup bersaing.

Bagi orang-orang gila kasus, rezekinya memang ada di kasus. Gak mungkin mereka bisa minta sumbangan jika gak ada kasus. Kasus membuat mereka bisa menawarkan proposal kepada para politisi yang berkepentingan. Isi proposalnya: Menjual Kepala Umat.

Jadi, jangan heran jika kasus puisi Sukmawati ini akan digoreng. Tujuannya biar ada 212 Jilid II. Biar bisa teriak hore-hore di jalanan lagi. Biar bisa membanggakan takbir di atas mobil komando demonstran. Biar zombie-zombie bisa menguasai opini media masa. Biar umat dibakar emosinya.

Sukmawati Minta Maaf

#breakingnews Sambil menangis, Sukmawati minta maaf! http://detik.id/6uoREE

Posted by 20detik on Wednesday, April 4, 2018


Jika ada yang melaporkan puisi Sukmawati ke polisi. Biarkan saja. Itu langkah yang lebih bagus ketimbang dimanfaatkan oleh petualang politik untuk mengacau. Biarkan hukum bekerja. Melaporkan sebuah puisi ke polisi memang terdengar aneh. Tapi masih jauh lebih bagus ketimbang ditunggangi para penjaja agama. Lalu dijadikan momentum untuk mengacau.

“Mas, aku juga bisa berpuisi,” kata Abu Kumkum. Tanpa menunggu jawaban dia membacakan puisinya.

Hewan apa
yang punya belalai
kupingnya lebar
dan badannya
sebesar gajah?

“Kang Kumkum, itu mah bukan puisi. Itu tebak-tebakan,” sambar Bambang Kusnadi kesal.








1 COMMENT

  1. “Para politisi busuk akan ikut mendompleng. Sebab hanya dengan kekacaun kesempatan mereka berkuasa akan terbuka. Jika suasana adem-adem saja, mana mungkin mereka sanggup bersaing.” kata Eko Kuntadhi dalam kolomnya. Wow, ini kesimpulan yang sungguh betul dan menakjubkan juga, dan sesuai juga dengan pepatah tua bangsa ini ‘menangguk di air keruh’. Pepatah ini dijalankan terus di era ketertutupan seluruh dunia abad lalu, masih diteruskan ke era keterbukaan abad 21, tetapi resikonya ialah tidak bisa dihindarkan akan ditelanjangi sampai ke akar-akarnya, karena semuanya juga sudah terbuka. Contohnya ‘ramalan 2030’ telah begitu tersuluh, atau juga ‘rumah hantu’ Hambalang, tak ada yang selamat dari penelanjangan!

    Sebutan ‘hanya dengan kekacauan’ . . . atau dengan confusion,
    cinfusion . . . saya teringat istilah seorang ‘Jew’ (honest Jew) di artikel ‘Harold Wallace Rosenthal Confessions’, dia bilang:
    “We Jews have put issue upon issue to the American people. Then we promote both sides of the issue as confusion reigns. With their eyes fixed on the issues, they fail to see who is behind every scene. We Jews toy with the American public as a cat toys with a mouse.” lihat disini https://www.henrymakow.com/000334.html

    atau disini
    https://www.facebook.com/WhoaretheKenites/photos/a.1006984649362005.1073741828.1006977722696031/1183188558408279/?type=3&theater

    Wa ka ka . . . Terlihat jelas perpaduannya antara ‘kekacauan’ yang diciptakan di Indonesia dengan ‘confusion’ ciptaan si Rosenthal ini. Di AS banyak contohnya, adu domba di Charlottesville Agustus tahun lalu, terror Boston 2013, atau juga terror ‘nine eleven’. Tetapi di Indonesia juga tidak kurang contohnya seperti Gerakan pecah belah Saracen, 212, teror Thamrin, gerakan ‘aniaya Ulama’ di Jabar, gerakan LGBT, ‘ramalan 2030’ dll dst. Tidak usah ngomong soal ‘confusion’ kudeta Untung 1965 yang bikin banyak korban manusia dan bikin banyak penjarahan SDA Indonesia. Semua umumnya sudah mengerti dan semakin jelas di era keterbukaan ini.

    Di Indonesia, kita tidak begitu terbiasa dengan istilah ‘Jews’ seperti yang dimaksudkan oleh Rosenthal dalam interviewnya 40 tahun lalu (1976). Tetapi sebagai gantinya kita sudah kenal betul istilah-istilah ‘neolib’, ‘komunis’, atau juga ‘NWO’. Dan yang sangat menguntungkan ialah bahwa informasi dan penjelasan yang semakin mendalam dan hakiki dalam semua istilah-istilah ini telah bisa dibaca di internet pada era keterbukaan sekarang ini, termasuk interview Rosenthal itu secara lengkap suah bisa diperoleh. Rosenthal sendiri tewas terbunuh sebulan sesudah interview itu. Dan isi interviewnya baru sangat populer sekarang ini setelah dunia memasuki era keterbukaan, dimana informasi dan pengetahuan mengalir bebas dari semua dan untuk semua. Apa yang samar-samar atau gelap di abad ketertutupan abad lalu, sekarang jadi jelas, dan memang sudah tidak mungkin ditutupi, karena semua orang bisa membuka dan menyiarkan secara luas, dengan adanya media independen dan media sosial yang tersebar luas ke seluruh dunia.

    Apa yang dimaksud dengan ‘We jews’ dalam interview Rosenthal, tidak diragukan ialah neolib NWO itu. Dan kata Bella Dodd pemimpin Partai Komunis USA tahun 40-an, ‘The New World Order is Communism’. Di Indonesia yang pernah kita kenal ialah bahwa NWO neolib bertentangan dengan komunisme, terlihat bagaimana gesitnya PKI menentang neolib internasional imperlialisme AS. PKI memandangnya dari segi ideologi komunisme kontra ideologi kapitalisme/imperialisme neolib AS. Sama halnya dengan pandangan seorang anti-komunis AS yang sangat gigih dan terkenal pada tahun-tahun 50-60an bernama M C Fagan, melihat persoalan dari segi dua ideologi yang saling bertentangan, dia menulis begini: The idea was that those who direct the overall conspiracy could use the differences in those two so-called ideologies [marxism/fascism/socialism/communism v. democracy/capitalism] to enable them [the Illuminati] to divide larger and larger portions of the human race into opposing camps so that they could be armed and then brainwashed into fighting and destroying each other. lihat disini:
    Divide and Conquer

    Jadi dua ideologi itu bertentangan dalam pandangan lama, yang satu untuk dan demi rakyat miskin (komunisme + diktator proletar), yang lainnya neolib demi kekayaan/kekuasaan kapitalis/imperialis NWO.
    Tetapi ternyata The “New World Order” is Communism kata Bella Dodd.
    Jadi Komunisme = Neolib = NWO

    Karena itu juga kalau orang-orang Rizieq bilang komunisme ‘bangkit lagi’ ya ada betulnya, kalau dia bisa melihat kaitannya dengan NWO. NWO terlihat memang sedang giat-giatnya berusaha survive karena penelanjangan yang bertubi-tubi dari publik dunia, termasuk di Indonesia terlihat dalam usahanya bikin berbagai ‘kekacauan’ (confusion) itu, walaupun bos besarnya sudah bilang kalau rencana NWO itu sudah collapsing.

    MUG

Leave a Reply