Menurutku, aku lebih mencintai Budaya negeriku sendiri.

 

Menurutku, suara Adzan itu Indah. Menggetarkan sukma. Itu dulu, ketika satu kampung hanya Masjid besar yang memakai toa. Apalagi saat subuh, suara Adzan yang seringkali bagaikan irama mantra yang menelusup diantara dedaunan yang basah oleh embun pagi betul-betul membuat hati tersayat-sayat oleh sesuatu.

Tapi, sekali lagi, itu dulu.

Menurutku, suara gamelan yang diiringi oleh nyanyian para Sinden atau Pak Dalang, hingga kini masih terasa nikmat. Bagaikan buluh perindu yang membuat sukma ini melayang diantara bintang-bintang diantara awan, diantara sumilir angin, diantara rinai hujan, diantara cakrawala bersama indahnya pelangi.

Menurutku, suara jeritan Soimah dengan hentakan kendang ketika menyanyikan lagu campur sari membuat hati bahagia bahwa begitu luar biasanya kesenian bangsa ini.

Gadis Suku Dayak, Kalaimantan.

Menurutku, ketika sahabat-sahabat saya yang dari Sumut saat bernyanyi trio, juga sahabat-sahabatku yang dari ranah Minang ketika menyanyikan lagu diiringi saluang, dan semua sahabatku yang ada di seluruh nusantara menyanyikan lagu daerah, membuatku bangga sebagai bangsa Indonesia.

Menurutku, pakaian adat negeri ini yang beraneka ragam dan corak, apalagi ketika dipakai saat memperingati HUT Kemerdekaan RI dan hari besar lainnya, adalah bukti negeri ini punya cita rasa seni yang tinggi. Seni yang membuat bangsa ini terbukti menjadi bangsa yang mengedepankan rasa, tidak mudah naik darah ,saling menghormati nilai perbedaan.

Menurutku, aku lebih mencintai Budaya negeri ini ketimbang Budaya dari luar apalagi dari Arab.

Menurutmu?

HEADER: Gadis-gadis Suku Sasak, Lombok.

VIDEO: Musik tradisional Karo yang ditampilkan oleh Sanggar Seni Sirulo. Lagu yang ditampilkan, Bunga Rampe, ciptaan Reno Surbakti dengan arrangemen khusus dari Juara R. Ginting dan Jimmy Sebayang.








Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.