JEBTA B. SITEPU. TANJUNGPURA — Bertemu dengan para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) selalu disempatkan Sihar Sitorus di sela-sela kampanye damai yang dilakukan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Sumatera Utara nomor urut dua ini.

Dalam setiap pertemuan itu, ia berupaya untuk mendengar keluhan dan masukan dari para pelaku usaha. Hal ini sesuai dengan salah satu visi misi pasangan calon yang biasa disebut Djoss ini, yakni memajukan dan mengembangkan UKM di Sumut.

Begitu juga saat Sihar menyambangi Kabupaten Langkat [Kamis 5/4]. Iring-iringan mobil rombongan berhenti tepat di Toko Ryan yang memproduksi dan menjual dodol di Jalan Lintas Sumatera Tanjung Pura – Pangkalan Berandan, Kabupaten Langkat.

“Saatnya makan dodol dulu kita ya,” ujar Sihar saat turun dari mobil yang ditumpanginya.







Sihar pun bergegas ke depan etalase toko dan melihat dodol yang siap dijual dalam bungkusan plastik. Berbagai varian rasa, yakni original, durian, pandan, wijen dan lainnya telah tersaji dan siap untuk dinikmati. Sosok enterpreneur sukses itu membeli tiap varian masing-masing dua bungkus.

“Saya pesan semua varian, masing-masing dua bungkus. Enak dodolnya, rasanya terasa pas,” tutur Cawagub Sumut yang diusung PDI Perjuangan dan PPP ini.

Pria berkacamata itu mengatakan bahwa penganan khas Tanjungpura itu menjadi primadona bagi Kabupaten Langkat sebagai oleh-oleh. Barisan toko yang menjajakan dodol dipinggir Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) memudahkan bagi konsumen untuk membelinya. Di Langkat, para pengrajin dodol ini tersebar di tiga desa. Yakni, Desa Perupuk, Desa Pematang Tengah dan Desa Serapuh Asli.

“Yang dari arah Medan mau ke Aceh atau sebaliknya pasti banyak yang singgah dan membeli dodol. Sangat banyak di sini jual dodol, panjang berbaris tokonya. Ayo singgah, beli yang banyak ya, untuk oleh-oleh keluarga,” celetuk Sihar kepada pembeli lainnya.

Dan ternyata Sihar menguasai cara membuat panganan yang berasa legit ini. Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan bahwa proses pembuatan dodol yang terbuat dari tepung ketan ini membutuhkan tenaga dan waktu. Tepung tersebut kemudian dicampur dengan santan kental dan gula aren yang dimasak selama kurang lebih 5 jam hingga menghasilkan penganan yang pulen berwarna coklat kehitaman ini.

“Proses pembuatannya membutuhkan waktu dan tenaga. Jadi, memang kita warga Sumut umumnya dan warga Langkat khususnya harus menjadi pionir memajukan UKM seperti ini. Caranya dengan membeli dan menyebarkan produk-produk UKM ini, agar lebih dikenal lagi,” jelas Sihar.

“Ini harus diteruskan, dijaga dan dilestarikan dan juga kita mempunyai tanggungjawab untuk menurunkannya kepada anak cucu kita,” pungkas Sihar, yang tiba-tiba tersadar sudah menghabiskan dua bungkus dodol.

Pemilik dan pengrajin dodol, Ryan mengaku, sudah menggeluti usaha tersebut sejak 15 tahun lalu. Usaha tersebut lah yang didominasi masyarakat sekitar sebagai penyangga perekonomian warga. Dirinya juga melibatkan warga sekitar sebagai pekerja dalam usaha pembuatan dodol ini.

“Dodol inilah yang menjadi mata pencaharian sebahagian warga Tanjung Pura ini,” ungkap Ryan.








Leave a Reply