Sampai detik ini saya sangat yakin tiada skenario terbaik bila dibandingkan dengan skenario Gusti ALLOH Ta’ala. Dan, anehnya, skenario dariNya pasti endingnya pastilah yang terbaik bagi kita (dengan catatan, hanya bagi manusia yang hakkul yakin saja). Terpilihnya pak Jokowi menjadi presiden kemarin juga tak lepas dari campur tanganNya. Invisible hand itu sungguh sangat nyata adanya. Dari yang semula Si Wowo sangat yakin bahwa dialah yang bakal melenggang ke istana, eh ternyata yang terjadi sebaliknya.

Betapa beratnya Jokowi saat pencalonan presiden waktu itu. Dari ibundanya yang dituduh kapir, keturunan PKI, sampai Tabloid Obor Rakyat yang provokatif dan penuh hoax itu disebar di berbagai pesantren di seluruh Indonesia.







Sementara di sisi lain, Si Wowo aman dari fitnahan dan serangan hoax, sambil terus ngiklan dengan slogan kucing eh Macan Asianya. Tetapi Gusti ALLOH memang mboten sare dan skenario dariNya benar-benar nyata.

Di saat seluruh Rakyat Indonesia mulai terbuai dengan janji-janji gombal Si Wowo di layar tivi. Eh gak sengaja tim suksesnya malah membuat Si Wowo jauh panggang dari api. Ya, biang keroknya si Fakri Hamzah.

Si Fakri ngetweet dengan berkata “Jokowi janji 1 Muharram Hari Santri, demi terpilih 360 hari akan dijanjikan ke semua orang, si*ting”. Reaksi keras pun berdatangan dari kalangan santri dan warga Nahdliyin, yang memprotes ucapan si Fakri ini.

Hingga dari yang semula warga NU ingin memilih Si Wowo, akhirnya berbalik arah untuk memilih Pak Jokowi. Inilah kuasaNya, dan Dia berhak memilih siapa saja untuk menjadi khalifahnya, tanpa peduli dengan latar belakangnya.

Sekarang, bukan Pak Jokowi yang jadi sasaran bullyan mereka, melainkan Ketua MUI (Kyai Ma’ruf Amin). Dari level keroco sampai elitnya membuly beliau, hanya gara gara Kyai Ma’ruf memaafkan Mbak Sukmawati dengan puisi kontroversialnya. Ah, yang dulu membela Fatwa MUI, sekarang rame-rame menghianati. Ternyata fatwa dan ayat-ayat agama hanya berlaku bila hal itu menguntungkan golongan mereka. Yang tidak menguntungkan, yah dipandang pun tidak, apalagi dimaknai dan dibaca?

Teriaklah sekencang-kencangya dan hinalah para Kyai kami semampu yang kalian bisa. Kami tak akan marah, dan bahkan menertawakan kalian semua. Percuma marah, karena Kyai kami tak mengajarkan hal yang demikian. Kyai kami pun tak akan marah melihat hinaan kalian, dan kami tahu itu. Kami hanya akan melihat kalian, sambil menikmati secangkir kopi plus teman tersetia kami. Yakni kepulan asap rokok sang pembawa inspirasi. Karena kami Islam yang ramah bukan Islam pemarah.

“Eh, mbakyu, kopi tambah gorengan dua jadi berapa? Limang ewu, mas. Walah kok murah banget to, mbakyu? Yo, wes aku ngutang disek, yo.”

Huhh, gombal mukiyo pean iki, mas. Ngomong murah jebule yo ngutang.”

Salam Jemblem.








Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.