Kolom Joni H. Tarigan: POLITIK PERJUMA-JUMA (Politik Petani Karo)

0
517

Paskah 2018 telah berlalu, pundi-pundi terkikis sudah, tapi kami sangat bersyukur semua itu tergantikan dengan kabahagiaan yang kami peroleh semala liburan Paskah bersama keluarga besar kami. Kami meninggalkan Bandung selama seminggu dan mengunjungi keluarga di Medan dan di kampung. Selagi orangtua masih ada, di situlah kami merasa bahwa sangat penting untuk selalu mengunjungi mereka, sekalipun memang memerlukan biaya tidak sedikit.

Ketika sedang berada di kampung, kebahagiaan saya tidak saja bisa bertemu dengan kade-kade (kerabat dalam bahasa Karo), akan tetapi ada kebahagiaan yang belum pernah saya peroleh sebelumnya. Kebahagiaan ini berkaitan dengan quote dari Aung San Suu Kyi: “You may not think about politcs but politics think about you”. Dengan kata lain, saya merasakan kebahagiaan politik ketika sedang berada di kampung kelahiran saya.







Ketika itu kami sedang beristirahat siang bersama aron (pekerja tani) di ladang. Topik kasus JR Saragih menjadi bagian hangat yang kami perbincangkan. Saya pun langsung spesifik menanyakan kepada mereka “jika saja JR Saragih” memang gagal menjadi calon gubernur Sumatera Uatara pada Pilkada serentak 2018, lantas kita mau pilih siapa?”. “Ya, kalau begitu tentu kita harus pilih Djarot!”.  Saya sangat gembira mendengarkannya, walau saya tidak mengekspresikan kegembiraan itu.

Ketika sore tiba, ibu saya bercerita bagaimana mereka pernah berdebat bersama aron-nya. Banyak di kampung kami memang mendukung JR Saragih, selain orang dekat beliau ada di kampung kami, menurut mereka, urusan-urusan mereka untuk administrasi akan dipermudah karena sudah dikenal JR.  Paling tidak dengan mengatakan asal kampung kami, menurut mereka, JR akan mempermudah urusan mereka. Ibu saya pun memberikan penjelasan, bahwa pemikiran aron-nya itu perlu dipikirkan ulang.

Ibu saya bertanya kembali kepada salah satu aron-nya, kalo Jokowi menurut kau bagus atau tidak? Mendengar pertanyaan itu, seorang aron menyahut: “Tentu saja saya merasakan bagaimana Jokowi sangat membantu kehidupan kita kalangan bawah ini. Benih, pupuk, sertifikat tanah, kredit usaha rakyat dengan bunga rendah, dana desa. Memang aparat-aparat daerah ini banyak bermain, tetapi aku tau bapanta (bapak kita) Jokowi sangat tulus membantu rakyat.”

“Akan tetapi, apa hubungannya dengan Djarot?” imbuhnya.

Ibu saya kemudian menjelaskan bahwa Djarot memiliki jalur yang sama dengan Jokowi melayani rakyat. Kemenangan Djarot-Sihar ini juga akan menjadi modal bagi keterpilihan Jokowi periode ke dua. Ibu saya pun memberi penjelasan tambahan, seperti yang pernah saya ceritakan dari Bandung, bahwa sangat penting untuk Indonesia agar memastikan Jokowi tetap terpilih untuk periode ke dua. Pembangunan Trans-Sumatera  menjadi satu contoh.

Dengan keterpilihan Jokowi di periode ke dua, maka Trans-Sumatera akan pasti diselesaikan. Jika Trans-Sumatera sudah tersambung, maka biaya transportasi barang-barang akan sangat murah, sehingga nilai jual produk pertanian dari kampung-kampungn dapat bersaing karena harga jual akan sangat terjangkau. Perpindahan barang, jasa, dan orang akan sangat mudah, sehingga bagi para petani ini akan sangat membantu menaikkan ekonomi mereka.




Cerita ibu saya inilah yang sangat membahagiakan saya. Ibu saya hanya tamat SMA,sedangkan bapak saya hanya tamat SMP. Akan tetapi, mereka sudah mampu masuk ke dalam persoalan politik. Mereka melihat bahwa persoalan politik ini langsung berkaitan dengan masa depan mereka sebagai petani. Sebelum pemerintahan Jokowi, mereka pada umunya menjadi objek politik, tetapi tidak memikirkan politik.

Dengan kinerja nyata pemerintahan Jokowi-JK, mereka sudah sangat merasakan manfaatnya dan mereka ingin kebaikan itu diteruskan sehingga merekapun dengan semangat mengulas politik disela kesibukan mereka untuk bertani.  Selain itu, saya juga memang sering sekali diskusi dengan keluarga tentang kaitan politik dan rakyat, sehingga membantu ibu saya melihat keterkaitan politik dan pertanian.



Salah satu manfaat yang langsung mereka alami adalah fasilitas KUR ( Kredit Usaha Rakyat) dengan bunga sangat rendah. Bunga sangat rendah, akan tetapi tentu saja bank punya syarat, harus ada agunan untuk pinjaman KUR itu. Salah satu agunan yang sangat dipercayai bank adalah sertifikat hak milik tanah. Orangtua saya memang sudah sejak dulu sudah menserfifikatkan beberapa tanah miliknya, sehingga ketika ada fasilitas KUR di era Jokowi-JK, orangtua saya bisa meminjam ke bank untuk dijadikan modal pertanian setelah kebun jeruk sudah tidak layak lagi.

Saya yakin inilah salah satu tujuan pemerintahan saat ini bagi-bagi sertifikat tanah. Agar rakyat bisa meminjam ke bank untuk dijadikan modal usaha. Dengan bunga yang sangat rendah harapannya tidak membebani rakyat, tetapi juga tidak membuat bank menjadi buntung. Ketika roda ekonomi rakyat bergerak maju, maka kemampuan bayar pajak rakyat akan naik tajam. Pajak inilah yang kemudian yang menjadi modal negara. Saya teringat dengan Robert T. Kyiosaki lewat bukunya “Why A student works for C student”.




Di buku ini dia menulis bahwa, untuk menaikkan nilai pajak, bukanlah dengan cara menaikkan tarif pajak. Akan tetapi, menaikkan kemampuan bayar pajak masyarakatlah cara terbaik untuk menaikkannya. Saya melihat inilah yang sedang dilakukan Jokowi-JK. Memberikan modal usaha (lewat pinjaman bunga rendah dan mengagunkan sertifikat tanah), menertibkan daftar pemayar pajak, dan semua itu akan mensejakterakan rakyat.

Saya tidak bisa menyangkal diri saya bahagia bahwa ibu saya dan orang-orang di kampung saya sudah begitu maju melihat politik dan kehidupan keseharian mereka. Selain itu, orang- orang muda juga perlu selalu mengedukasi orantuanya untuk melihat politik itu secara jernih, sehingga mencapai tujuan mulia mecerdaskan dan mensejakterakan seluruh rakyat.

Jika kita melihat politik itu kotor, melenyapkan politik itu sendiri tidak akan membuatnya menjadi baik. Kita harus peduli terhadap politik itu untuk kita rubah menjadi alat kebaikan.

MERDEKA POLITIK PERJUMA-JUMA.








Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.