Ada dua nabi sedang melakukan perjalanan untuk menguji siapakah di antara mereka yang paling berpengetahuan. Musa dan Khidir pun memasuki sebuah desa mendapati seorang anak yang masih belia.

Tanpa banyak kata, secara tiba-tiba Khidir mencekik anak tersebut sampai mati yang mengakibatkan Musa marah dan emosi berapi-api.

Namun kini ia sedang berhadapan dengan seorang nabi yang berderajat lebih tinggi yang mendasarkan perbuatannya pada sumber pengetahuan suci. Ia membunuh karena ada perintah Ilahi. Kalau sang anak dibiarkan hidup dewasa, kelak akan menjadi musuh ibu bapaknya yang baik hati.

Bagaimana bisa sebuah perintah Ilahi membenarkan pembunuhan keji tak berperasaan? Apakah alasan adanya ramalan masa depan dan bisikan Tuhan dapat menjadi hujjah kebenaran? Jangan-jangan ini hanya sebuah bentuk ketidakwarasan yang diselimuti kenabian dan kesucian.

Bagiku ini merupakan kebiadaban akibat pengaruh kesurupan Tuhan.









Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.